Pembebasan Irak: Kisah Penduduk Hirah Setuju dengan Jizyah
Jum'at, 19 Januari 2024 - 16:53 WIB
loading...
A
A
A
Karamah pura-pura menganggap jumlah itu terlalu besar dengan maksud hendak mempermainkannya. Tetapi tebusan itu kemudian diberikan dan ia pun kembali kepada keluarganya ketika teman-temannya mendengar apa yang dilakukannya itu, ia diejek karena dinilai jumlah tebusan itu terlalu kecil, dan ada pula yang memarahinya. Tetapi ia masih berdalih: "Aku rasa tak akan ada jumlah yang lebih tinggi dari seribu."
Ia mengadukan hal itu kepada Khalid. "Niatku memang itulah jumlah yang tertinggi."
"Kita menginginkan sesuatu, Allah menghendaki yang lain," kata Khalid. "Kita lihat yang nyata saja lepas dari soal niatmu, kau membohong atau tidak."
Markas Komando
Selesai Khalid membebaskan Hirah, atas kemenangan itu ia salat delapan rakaat tanpa salam. Selesai salat ia berpaling kepada teman-temannya katanya:
"Dalam perang Mu'tah sudah sembilan pedang yang patah di tanganku. Tetapi tak ada yang seperti orang Persia ini, terutama orang-orang Ullais."
Baca juga: Pembebasan Irak: Doa Khalid bin Walid dan Kisah Sungai Darah
Khalid tinggal di Hirah dan sekaligus dijadikan markas komandonya. Itulah ibu kota Islam pertama di luar negeri Arab. Tetapi pimpinan pemerintahan diserahkan kepada tokoh-tokoh anak negeri itu.
Dengan demikian mereka merasa puas, suasana sekitar juga tenang. Penduduk di dekat Hirah merasakan adanya keadilan yang merata. Terasa terganggu oleh yang demikian, istana Persia berusaha mengajak damai Khalid dan bersedia bergabung di bawah panji Islam.
Bukankah petani-petani itu dibiarkan tak terganggu menggarap tanah mereka, malah segala yang menjadi beban buat mereka karena kezaliman pejabat-pejabat Persia dulu kini dihapus, dan hak-hak mereka dijamin.
Menurut Haekal, yang pertama sekali mengajak damai ialah Suluba bin Nastuna penguasa Quss al-Maqatif di bilangan Banqia dan Basma.
Kemudian dibuat persetujuan mengenai jizyah dan perlindungan dengan pembayaran 10 ribu dinar setiap tahun; yang mampu disesuaikan dengan kemampuann dan yang tak mampu disesuaikan dengan ketidakmampuannya.
Persetujuan ini ditutup dengan kata-kata berikut yang ditujukan kepada Suluba: "Engkau sudah menjadi pemimpin kaummu dan kaummu sudah setuju dengan engkau, dan aku dengan kaum Muslimin pasukanku setuju."
Baca juga: Pembebasan Irak: Kontroversi Banjir Darah yang Diciptakan Khalid bin Walid
Ia mengadukan hal itu kepada Khalid. "Niatku memang itulah jumlah yang tertinggi."
"Kita menginginkan sesuatu, Allah menghendaki yang lain," kata Khalid. "Kita lihat yang nyata saja lepas dari soal niatmu, kau membohong atau tidak."
Markas Komando
Selesai Khalid membebaskan Hirah, atas kemenangan itu ia salat delapan rakaat tanpa salam. Selesai salat ia berpaling kepada teman-temannya katanya:
"Dalam perang Mu'tah sudah sembilan pedang yang patah di tanganku. Tetapi tak ada yang seperti orang Persia ini, terutama orang-orang Ullais."
Baca juga: Pembebasan Irak: Doa Khalid bin Walid dan Kisah Sungai Darah
Khalid tinggal di Hirah dan sekaligus dijadikan markas komandonya. Itulah ibu kota Islam pertama di luar negeri Arab. Tetapi pimpinan pemerintahan diserahkan kepada tokoh-tokoh anak negeri itu.
Dengan demikian mereka merasa puas, suasana sekitar juga tenang. Penduduk di dekat Hirah merasakan adanya keadilan yang merata. Terasa terganggu oleh yang demikian, istana Persia berusaha mengajak damai Khalid dan bersedia bergabung di bawah panji Islam.
Bukankah petani-petani itu dibiarkan tak terganggu menggarap tanah mereka, malah segala yang menjadi beban buat mereka karena kezaliman pejabat-pejabat Persia dulu kini dihapus, dan hak-hak mereka dijamin.
Menurut Haekal, yang pertama sekali mengajak damai ialah Suluba bin Nastuna penguasa Quss al-Maqatif di bilangan Banqia dan Basma.
Kemudian dibuat persetujuan mengenai jizyah dan perlindungan dengan pembayaran 10 ribu dinar setiap tahun; yang mampu disesuaikan dengan kemampuann dan yang tak mampu disesuaikan dengan ketidakmampuannya.
Persetujuan ini ditutup dengan kata-kata berikut yang ditujukan kepada Suluba: "Engkau sudah menjadi pemimpin kaummu dan kaummu sudah setuju dengan engkau, dan aku dengan kaum Muslimin pasukanku setuju."
Baca juga: Pembebasan Irak: Kontroversi Banjir Darah yang Diciptakan Khalid bin Walid
(mhy)
Lihat Juga :