Pembebasan Irak: Tanpa Perang, Khalid Merasa Kesepian
Selasa, 23 Januari 2024 - 16:06 WIB
loading...
A
A
A
Di antara mereka yang berhasil itu terdapat Sirin Abu Muhammad bin Sirin, seorang ulama fikih di Basrah dan Nusair, ayah pahlawan Musa bin Nusair panglima Andalusia.
Setelah menguasai Anbar dan Ain Tamr, Khalid mengirimkan seperlima (hasil rampasan perang) kepada Khalifah Abu Bakar disertai berita di tangan Walid bin Uqbah.
Walid menceritakan kepada Khalifah apa yang telah terjadi. Ia bercerita tentang Khalid yang kesepian selama tinggal di Hirah itu serta kata-katanya kepada pasukan Muslimin: "Sebenarnya aku tidak memerlukan pertolongan Iyad, kalau tidak karena adanya perintah Khalifah. Untuk membebaskan Persia sekarang sudah bukan masalah. Tahun ini bagiku seolah tahun perempuan!"
Di pihak Khalifah Abu Bakar sendiri, sebenarnya ia juga sudah jemu melihat posisi Iyad. Ia berpendapat hal ini akan melemahkan moril pasukan Muslimin. Kalau tidak karena keberhasilan Khalid di Irak, tentu hal ini akan merupakan penghinaan kepada mereka, dan akan mendorong musuh-musuhnya mengadakan pembangkangan dan berusaha menjatuhkan nama baik mereka.
Setelah mendengar cerita Walid tentang Khalid dan kesepiannya itu, ia memerintahkan Walid untuk membantu Iyad di Dumat al-Jandal.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Ketika itu Walid melihat Iyad sedang mengepung musuh dan dia sendiri dalam keadaan terkepung oleh musuh yang kala itu sudah berhasil merebut jalan raya. Ia belum mendapat jalan setelah bertukar pikiran dengan dia untuk melepaskannya dari kesulitan ini. Ketika itu ia berkata kepadanya: "Dalam beberapa hal, suatu pendapat itu lebih baik dari jumlah tentara yang besar. Hubungilah Khalid dan mintalah supaya ia bersiap-siap."
Sudah tentu Iyad langsung menerima saran itu. Telah setahun penuh ia tak mampu menguasai lawannya. Ia mengutus seseorang kepada Khalid yang pagi itu sedang santai di Ain Tamr. Begitu ia membuka surat Iyad, wajahnya tampak ceria, dan ketika itu juga utusan itu disuruh kembali dengan membawa sepucuk surat kepada Iyad yang bunyinya:
Kepadamu sekarang tujuanku.
Tunggulah sebentar, rombongan akan datang
Membawa singa-singa dengan pedang berkilauan
Batalion demi batalion.
Secepat itu pula Khalid sudah siap untuk menolong Iyad. Baris-baris puisi itu mempertegas bahwa Khalid merasa tersiksa karena kesepian dan jauh dari medan pertempuran. Buat dia Anbar dan Ain Tamr belum lagi memuaskan hatinya. Latihan itu tidak memadai untuk kemampuannya yang luar biasa besarnya itu.
Baca juga: Begini Kondisi Wilayah Palestina ketika di Bawah Pemerintahan Islam
Setelah menguasai Anbar dan Ain Tamr, Khalid mengirimkan seperlima (hasil rampasan perang) kepada Khalifah Abu Bakar disertai berita di tangan Walid bin Uqbah.
Walid menceritakan kepada Khalifah apa yang telah terjadi. Ia bercerita tentang Khalid yang kesepian selama tinggal di Hirah itu serta kata-katanya kepada pasukan Muslimin: "Sebenarnya aku tidak memerlukan pertolongan Iyad, kalau tidak karena adanya perintah Khalifah. Untuk membebaskan Persia sekarang sudah bukan masalah. Tahun ini bagiku seolah tahun perempuan!"
Di pihak Khalifah Abu Bakar sendiri, sebenarnya ia juga sudah jemu melihat posisi Iyad. Ia berpendapat hal ini akan melemahkan moril pasukan Muslimin. Kalau tidak karena keberhasilan Khalid di Irak, tentu hal ini akan merupakan penghinaan kepada mereka, dan akan mendorong musuh-musuhnya mengadakan pembangkangan dan berusaha menjatuhkan nama baik mereka.
Setelah mendengar cerita Walid tentang Khalid dan kesepiannya itu, ia memerintahkan Walid untuk membantu Iyad di Dumat al-Jandal.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Ketika itu Walid melihat Iyad sedang mengepung musuh dan dia sendiri dalam keadaan terkepung oleh musuh yang kala itu sudah berhasil merebut jalan raya. Ia belum mendapat jalan setelah bertukar pikiran dengan dia untuk melepaskannya dari kesulitan ini. Ketika itu ia berkata kepadanya: "Dalam beberapa hal, suatu pendapat itu lebih baik dari jumlah tentara yang besar. Hubungilah Khalid dan mintalah supaya ia bersiap-siap."
Sudah tentu Iyad langsung menerima saran itu. Telah setahun penuh ia tak mampu menguasai lawannya. Ia mengutus seseorang kepada Khalid yang pagi itu sedang santai di Ain Tamr. Begitu ia membuka surat Iyad, wajahnya tampak ceria, dan ketika itu juga utusan itu disuruh kembali dengan membawa sepucuk surat kepada Iyad yang bunyinya:
Kepadamu sekarang tujuanku.
Tunggulah sebentar, rombongan akan datang
Membawa singa-singa dengan pedang berkilauan
Batalion demi batalion.
Secepat itu pula Khalid sudah siap untuk menolong Iyad. Baris-baris puisi itu mempertegas bahwa Khalid merasa tersiksa karena kesepian dan jauh dari medan pertempuran. Buat dia Anbar dan Ain Tamr belum lagi memuaskan hatinya. Latihan itu tidak memadai untuk kemampuannya yang luar biasa besarnya itu.
Baca juga: Begini Kondisi Wilayah Palestina ketika di Bawah Pemerintahan Islam
(mhy)
Lihat Juga :