Pembebasan Irak: Tanpa Perang, Khalid Merasa Kesepian
Selasa, 23 Januari 2024 - 16:06 WIB
loading...
Melihat sudah tak berdaya menghadapi Khalid, mereka yang masih berada dalam benteng itu mengajak damai. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Banu Taglib, Banu Namir dan Banu Iyad dipimpin oleh Uqqah bin Abi Uqqah dan Huzail adalah kabilah yang pernah memerangi umat Islam di Madinah . Mereka tinggal di wilayah Irak dan mencoba menyerang pasukan muslimin yang dipimpin Khalid bin Walid .
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul " Abu Bakr As-Siddiq " yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan kedua pasukan bertemu di tengah jalan. Uqqah pun mengerahkan tentaranya untuk menyerangnya.
Hanya saja, Khalid lebih cepat bertindak. Tentara Arab yang menghuni Irak itu disergap dan ditawan. Tak sampai berperang orang-orang badui itu sudah kabur berlarian.
Pasukan Muslimin terus mengejar mereka sehingga banyak mereka yang ditawan, sementara Huzail dan pemimpin-pemimpin lain yang bersama dia dapat lolos.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Daerah-Daerah di Dekat Hirah di Bawah Pemerintahan Islam
Tatkala melihat apa yang terjadi dengan benteng di kota Anbar yang dikepung muslim, komandan pasukan Persia, Mahran lari bersama pasukannya dan membiarkan benteng itu dipertahankan oleh satuan-satuan tentara dan sisa-sisa badui yang sudah kalah.
Melihat sudah tak berdaya menghadapi Khalid, mereka yang masih berada dalam benteng itu mengajak damai. Tetapi Khalid menolak, kecuali jika mereka tunduk di bawah perintahnya.
Syarat ini mereka terima dan pintu-pintu benteng pun dibuka. Sekarang mereka berada dalam tahanan Khalid selain Uqqah yang disuruh penggal lehernya. Setelah itu menyusul mereka yang ikut berperang dalam benteng itu. Harta mereka menjadi rampasan perang dan kaum perempuan ditawan.
Sikap Khalid yang begitu keras dalam peristiwa ini menurut analisis para sejarawan karena musuh-musuhnya itu membunuh Umair, seorang sahabat Nabi, dan salah seorang anggota Ansar juga dibunuh secara gelap.
Ada lagi sebagian yang berpendapat bahwa sikapnya yang keras itu telah menimbulkan kebencian orang-orang Irak kepada Khalid, yang akibatnya dalam bentuk pemberontakan yang terjadi setelah ia pergi hendak membebaskan Syam.
Di dalam benteng itu ada sebuah biara, di dalamnya ada empat puluh anak sedang belajar Injil dengan pintu tertutup. Oleh Khalid pintu dirusak dan mereka ditanyai: "Sedang apa kamu?" Mereka menjawab: "Disandera."
Mereka lalu dipilah mana di antara mereka yang belajar dengan sungguh-sungguh. Besar sekali dugaan bahwa yang mereka pelajari dalam biara ini besar sekali manfaatnya.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Penduduk Hirah Setuju dengan Jizyah
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul " Abu Bakr As-Siddiq " yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan kedua pasukan bertemu di tengah jalan. Uqqah pun mengerahkan tentaranya untuk menyerangnya.
Hanya saja, Khalid lebih cepat bertindak. Tentara Arab yang menghuni Irak itu disergap dan ditawan. Tak sampai berperang orang-orang badui itu sudah kabur berlarian.
Pasukan Muslimin terus mengejar mereka sehingga banyak mereka yang ditawan, sementara Huzail dan pemimpin-pemimpin lain yang bersama dia dapat lolos.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Daerah-Daerah di Dekat Hirah di Bawah Pemerintahan Islam
Tatkala melihat apa yang terjadi dengan benteng di kota Anbar yang dikepung muslim, komandan pasukan Persia, Mahran lari bersama pasukannya dan membiarkan benteng itu dipertahankan oleh satuan-satuan tentara dan sisa-sisa badui yang sudah kalah.
Melihat sudah tak berdaya menghadapi Khalid, mereka yang masih berada dalam benteng itu mengajak damai. Tetapi Khalid menolak, kecuali jika mereka tunduk di bawah perintahnya.
Syarat ini mereka terima dan pintu-pintu benteng pun dibuka. Sekarang mereka berada dalam tahanan Khalid selain Uqqah yang disuruh penggal lehernya. Setelah itu menyusul mereka yang ikut berperang dalam benteng itu. Harta mereka menjadi rampasan perang dan kaum perempuan ditawan.
Sikap Khalid yang begitu keras dalam peristiwa ini menurut analisis para sejarawan karena musuh-musuhnya itu membunuh Umair, seorang sahabat Nabi, dan salah seorang anggota Ansar juga dibunuh secara gelap.
Ada lagi sebagian yang berpendapat bahwa sikapnya yang keras itu telah menimbulkan kebencian orang-orang Irak kepada Khalid, yang akibatnya dalam bentuk pemberontakan yang terjadi setelah ia pergi hendak membebaskan Syam.
Di dalam benteng itu ada sebuah biara, di dalamnya ada empat puluh anak sedang belajar Injil dengan pintu tertutup. Oleh Khalid pintu dirusak dan mereka ditanyai: "Sedang apa kamu?" Mereka menjawab: "Disandera."
Mereka lalu dipilah mana di antara mereka yang belajar dengan sungguh-sungguh. Besar sekali dugaan bahwa yang mereka pelajari dalam biara ini besar sekali manfaatnya.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Penduduk Hirah Setuju dengan Jizyah
Lihat Juga :