Dialog Sang Guru yang Bikin Murid Menangis

loading...
Dialog Sang Guru yang Bikin Murid Menangis
Ustaz Saeful Huda, dai lulusan Darul Musthafa Hadhramaut Yaman. Foto/Ist
Dai lulusan Darul Musthafa Hadhramaut Yaman, Ustaz Saeful Huda, menceritakan sebuah kisah dialog antara guru dan murid. Dialog guru dengan sang murid ini mengajarkan kita betapa besarnya pengorbanan guru dalam mendidik muridnya.

Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada gurunya, "Jika memang benar para guru adalah orang orang pintar! Mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu? (Baca Juga: Imam Syafi'i Nimba Ilmu dari Ratusan Guru, Ini yang Paling Berpengaruh)

Gurunya tersenyum bijaksana, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masuk ke ruangannya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan. Ia meletakkan timbangan itu di atas meja dan berkata: "Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5.000 gram". "Berapa harga emas seberat itu?"

Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia mejawab: "Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5.000 gram akan setara dengan 4 miliar rupiah".

"Baiklah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga itu, adakah yang bersedia membelinya?" kata sang guru.



Murid terdiam sejenak karena merasa mulai mendapatkan sedikit pencerahan dari sang guru, lalu ia berkata: "Timbangan emas tidak lebih berharga dari emas nya. Saya bisa mendapatkan timbangan ini dengan harga di bawah dua juta rupiah! Mengapa harus membayar sampai 4 miliar?"

Gurunya menjawab: "Nah, anakku, kini engkau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar pengetahuanmu". (Baca Juga:Bagaimana Adab Murid kepada Guru? Ini Kata Imam Al-Ghazali)

"Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian di tangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya. Kemudian ia berkata: di tangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada di tangan kananku ini. Tanpa keringat ini, tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian".

"Apakah ada yang mau membeli keringatnya? Tentu tidak."

"Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru yang menjadi keringat itu, dan kalianlah yang seharusnya menjadi berliannya," kata sang Guru.



Mendengar penjelasan guru itu, sang murid menangis. Ia memeluk gurunya dan berkata: "Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya, kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kepintaran kami, setiap kilau permata kami, ada tetes keringatmu".

Sang Guru berkata: "Biarlah keringat itu menguap, menuju alam hakiki di sisi ilahi Rabbi. Karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik dunia ini, mohon jangan lupakan nama kami dalam doa kalian". (Baca Juga: Ulama Adalah Guru yang Mempersatukan Umat)

Pondok Pesantren (Ponpes) Sultan Fatah Semarang
(rhs)
cover top ayah
وَاِذَا قُرِئَ الۡقُرۡاٰنُ فَاسۡتَمِعُوۡا لَهٗ وَاَنۡصِتُوۡا لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ‏
Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.

(QS. Al-A’raf:204)
cover bottom ayah
preload video