Mengapa Nama Persia Diganti Menjadi Iran?
Kamis, 25 April 2024 - 19:20 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Cerita tentang 2 Peti Permata Berlian
Pada tahun 820 M seluruh wilayah Persia praktis berada di bawah kekuasaan penuh kekhalifahan di Baghdad. Tetapi sejak tahun 820 M bermunculan dinasti-dinasti kecil maupun besar di berbagai wilayah Persia yang silih berganti menguasai wilayah-wilayah Persia.
Dinasti-dinasti itu antara lain adalah Dinasti Samanid (892-999 M), Gaznawi (999- 1037 M) dan Saljuk (1037-1157 M).
Hal ini bermula dari rasa terima kasih Khalifah al-Makmun (813-833) kepada panglima perangnya, Tahir bin Husain yang telah berjasa memulihkan kekuasaannya, yakni memberikan wewenang kepada Tahir ibn Husain untuk mendirikan Dinasti Tahiriy (820-872 M) di Khurasan (Iran).
Dalam track-record (catatan sejarah) sepeninggal Imam Junaid, pimpinan Tarekat Safawiyah digantikan oleh putranya yang bernama Haidar. Haidar mempersunting putri Uzun Hasan dan melahirkan anak yang bernama Ismail. Sang anak ini kelak berhasil mendirikan Dinasti Safawi di Persia.
Haidar menjadi pemimpin Safawiyah, menjalin kerjasama dengan Ak-Koyunlu. Atas kerjasama itu, pada tahun 1467 M Ak-Koyunlu melancarkan agresi kepada kerajaan Kara-Koyunlu untuk membantu memenuhi ambisi politik dan militer Safawiyah.
Pada tahun 1488 M, aliansi yang dibangun oleh kedua kekuatan ini retak, ketika Safawiyah melancarkan agresi politik ancaman terhadap Ak-koyunlu.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kesedihan Khalifah Umar Atas Syahidnya Nu'man
Tatkala Haidar menyerang Syirwan, Ak-Koyunlu mengirim detasemen pasukan untuk membantu Syirwan di wilayah Sircassia. Namun pasukan Haidar kalah dan terbunuh dalam pertempuran itu.
Ali adalah putra dan penggati Haidar, didesak oleh bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap Ak-Koyunlu. Tetapi Yakub sebagai pemimpin Ak-Koyunlu berhasil menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya Ibrahim dan Ismail, sementara ibunya di Fars selama empat tahun, yaitu antara tahun 1489 sampai 1493 M.
Pada tahun 820 M seluruh wilayah Persia praktis berada di bawah kekuasaan penuh kekhalifahan di Baghdad. Tetapi sejak tahun 820 M bermunculan dinasti-dinasti kecil maupun besar di berbagai wilayah Persia yang silih berganti menguasai wilayah-wilayah Persia.
Dinasti-dinasti itu antara lain adalah Dinasti Samanid (892-999 M), Gaznawi (999- 1037 M) dan Saljuk (1037-1157 M).
Hal ini bermula dari rasa terima kasih Khalifah al-Makmun (813-833) kepada panglima perangnya, Tahir bin Husain yang telah berjasa memulihkan kekuasaannya, yakni memberikan wewenang kepada Tahir ibn Husain untuk mendirikan Dinasti Tahiriy (820-872 M) di Khurasan (Iran).
Dalam track-record (catatan sejarah) sepeninggal Imam Junaid, pimpinan Tarekat Safawiyah digantikan oleh putranya yang bernama Haidar. Haidar mempersunting putri Uzun Hasan dan melahirkan anak yang bernama Ismail. Sang anak ini kelak berhasil mendirikan Dinasti Safawi di Persia.
Haidar menjadi pemimpin Safawiyah, menjalin kerjasama dengan Ak-Koyunlu. Atas kerjasama itu, pada tahun 1467 M Ak-Koyunlu melancarkan agresi kepada kerajaan Kara-Koyunlu untuk membantu memenuhi ambisi politik dan militer Safawiyah.
Pada tahun 1488 M, aliansi yang dibangun oleh kedua kekuatan ini retak, ketika Safawiyah melancarkan agresi politik ancaman terhadap Ak-koyunlu.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kesedihan Khalifah Umar Atas Syahidnya Nu'man
Tatkala Haidar menyerang Syirwan, Ak-Koyunlu mengirim detasemen pasukan untuk membantu Syirwan di wilayah Sircassia. Namun pasukan Haidar kalah dan terbunuh dalam pertempuran itu.
Ali adalah putra dan penggati Haidar, didesak oleh bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap Ak-Koyunlu. Tetapi Yakub sebagai pemimpin Ak-Koyunlu berhasil menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya Ibrahim dan Ismail, sementara ibunya di Fars selama empat tahun, yaitu antara tahun 1489 sampai 1493 M.
Lihat Juga :