Kisah Muslim Taklukkan Kota Suci Iran Istakhr: Kuil Penyembah Sapi Diubah Jadi Masjid
Rabu, 01 Mei 2024 - 18:05 WIB
loading...
A
A
A
Segala yang menimpanya pada saat itu masih selalu membayangkan rasa cemas mengingat kejayaannya di masa silam. Dari waktu ke waktu hal ini telah menggerakkan niatnya untuk mengadakan pemberontakan.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Strategi 30.000 Pasukan Muslim Hadapi 150.000 Tentara Persia
Tak lama sesudah adanya persetujuan Harbaz dengan Usman bin Abil-As, Istakhr memberontak, kemudian terjadi lagi di masa Khalifah Utsman bin Affan. Tetapi kedua kejadian itu berakhir dengan keharusan ia kembali tunduk dan terpaksa menghormati perjanjian itu.
Yang membantu timbulnya pemberontakan yang pertama karena tempat Syahrak, seorang raja Persia tidak jauh dari tempat Kisra di Kirman.
Setelah diketahuinya apa yang telah menimpa Istakhr, ia menggerakkan penduduk dan menyebarkan bibit-bibit pemberontakan di seluruh kawasan itu, dengan mengingatkan kejayaan mereka belum lama ini ketika Ala' bin al-Hadrami datang dari Bahrain mencoba hendak menyerang mereka.
Istakhr lalu memberontak diikuti oleh tempat-tempat lain di Persia yang memungkinkan mengadakan pemberontakan. Mereka bergabung dengan Syahrak.
Hakam bin Abil-As, saudara Usman, segera berangkat untuk menghadapi Syahrak. Ia berhenti di Tawwaj untuk memperkuat diri dan sekaligus dijadikan markas komandonya.
Dari sana ia menyerang daerah-daerah sekitarnya, kemudian kembali dengan membawa rampasan perang. Distrik-distrik Shapur, Ardasyir, Arrajan dan Istakhr tidak selamat dari serangan itu.
Tindakan pasukan Muslimin telah membangkitkan kemarahan Syahrak. Dengan segala kekuatan bersenjatanya ia berangkat ke Tawwaj hendak menghadapi Hakam.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Khalifah Umar Menunjuk Nu'man Memimpin Pasukan Muslim
Di barisan belakang ditempatkannya satu pasukan yang ditugaskan membunuh setiap ada prajurit Persia yang mau mundur dari medan perang.
Ia bertemu dengan Hakam dan kemudian terjadi kontak senjata dan pertempuran sengit yang cukup lama, tanpa ada yang tahu siapa yang akan menang. Tetapi kesudahannya memperlihatkan kemenangan di pihak pasukan Muslimin dan larinya pasukan Persia serta terbunuhnya Syahrak dan anaknya.
Pengaruh pertempuran ini mengakibatkan hancurnya kekuatan moral yang masih tersisa dalam jiwa pasukan Persia. Usman bin Abil-As yang berpindah dari Bahrain hendak membantu saudaranya, bebas berjalan ke mana-mana di kawasan yang luas itu tanpa menemui perlawanan berarti.
Al-Balazuri menyebutkan, bahwa atas perintah Khalifah Umar bin Khattab, Abu Musa al-Asy'ari berangkat dari Basrah, dan bergabung dengan Usman bin Abil-As selama dalam perang dengan Persia itu.
Mereka sama-sama menaklukkan Arrajan dengan jalan damai atas dasar membayar jizyah dan lcharaj. Kemudian keduanya membebaskan Syiraz, juga penduduk akan mendapat jaminan atas dasar kharaj, kecuali mereka yang mau meninggalkan tempat.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Raja Kisra Mati di Pelarian, Persia Tak Pernah Melawan Lagi
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Strategi 30.000 Pasukan Muslim Hadapi 150.000 Tentara Persia
Tak lama sesudah adanya persetujuan Harbaz dengan Usman bin Abil-As, Istakhr memberontak, kemudian terjadi lagi di masa Khalifah Utsman bin Affan. Tetapi kedua kejadian itu berakhir dengan keharusan ia kembali tunduk dan terpaksa menghormati perjanjian itu.
Yang membantu timbulnya pemberontakan yang pertama karena tempat Syahrak, seorang raja Persia tidak jauh dari tempat Kisra di Kirman.
Setelah diketahuinya apa yang telah menimpa Istakhr, ia menggerakkan penduduk dan menyebarkan bibit-bibit pemberontakan di seluruh kawasan itu, dengan mengingatkan kejayaan mereka belum lama ini ketika Ala' bin al-Hadrami datang dari Bahrain mencoba hendak menyerang mereka.
Istakhr lalu memberontak diikuti oleh tempat-tempat lain di Persia yang memungkinkan mengadakan pemberontakan. Mereka bergabung dengan Syahrak.
Hakam bin Abil-As, saudara Usman, segera berangkat untuk menghadapi Syahrak. Ia berhenti di Tawwaj untuk memperkuat diri dan sekaligus dijadikan markas komandonya.
Dari sana ia menyerang daerah-daerah sekitarnya, kemudian kembali dengan membawa rampasan perang. Distrik-distrik Shapur, Ardasyir, Arrajan dan Istakhr tidak selamat dari serangan itu.
Tindakan pasukan Muslimin telah membangkitkan kemarahan Syahrak. Dengan segala kekuatan bersenjatanya ia berangkat ke Tawwaj hendak menghadapi Hakam.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Khalifah Umar Menunjuk Nu'man Memimpin Pasukan Muslim
Di barisan belakang ditempatkannya satu pasukan yang ditugaskan membunuh setiap ada prajurit Persia yang mau mundur dari medan perang.
Ia bertemu dengan Hakam dan kemudian terjadi kontak senjata dan pertempuran sengit yang cukup lama, tanpa ada yang tahu siapa yang akan menang. Tetapi kesudahannya memperlihatkan kemenangan di pihak pasukan Muslimin dan larinya pasukan Persia serta terbunuhnya Syahrak dan anaknya.
Pengaruh pertempuran ini mengakibatkan hancurnya kekuatan moral yang masih tersisa dalam jiwa pasukan Persia. Usman bin Abil-As yang berpindah dari Bahrain hendak membantu saudaranya, bebas berjalan ke mana-mana di kawasan yang luas itu tanpa menemui perlawanan berarti.
Al-Balazuri menyebutkan, bahwa atas perintah Khalifah Umar bin Khattab, Abu Musa al-Asy'ari berangkat dari Basrah, dan bergabung dengan Usman bin Abil-As selama dalam perang dengan Persia itu.
Mereka sama-sama menaklukkan Arrajan dengan jalan damai atas dasar membayar jizyah dan lcharaj. Kemudian keduanya membebaskan Syiraz, juga penduduk akan mendapat jaminan atas dasar kharaj, kecuali mereka yang mau meninggalkan tempat.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Raja Kisra Mati di Pelarian, Persia Tak Pernah Melawan Lagi
(mhy)
Lihat Juga :