Hukum Hiburan, Syaikh Al-Qardhawi: Islam Mengakui Fitrah dan Insting Manusia
Selasa, 04 Juni 2024 - 14:53 WIB
loading...
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto: Aljazeera
A
A
A
Islam adalah agama realis, tidak tenggelam dalam dunia khayal dan lamunan. "Tetapi Islam berjalan bersama manusia di atas dunia realita dan alam kenyataan," tulis Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya yang diterjemahkan H Mu'ammal Hamidy berjudul "Halal dan Haram dalam Islam" (PT Bina Ilmu, 1993)
Islam tidak memperlakukan manusia sebagai Malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat. Tetapi Islam memperlakukan manusia sebagai manusia yang suka makan dan berjalan di pasar-pasar.
Al-Qardhawi mengatakan justru itu Islam tidak mengharuskan manusia supaya dalam seluruh percakapannya itu berupa zikir, diamnya itu berarti berpikir, seluruh pendengarannya hanya kepada al-Quran dan seluruh senggangnya harus di masjid.
Baca juga: Seni Islam: Tidak Harus Berbahasa Arab dan tentang Ajaran Islam
Islam mengakui fitrah dan instink manusia sebagai makhluk yang dicipta Allah, di mana Allah membuat mereka sebagai makhluk yang suka bergembira, bersenang-senang, ketawa dan bermain-main, sebagaimana mereka dicipta suka makan dan minum.
Sekadarnya Saja
Al-Qardhawi menjelaskan meningkatnya rohani sebagian para sahabat, telah mencapai puncak di mana mereka beranggapan, bahwa kesungguhan yang membulat dan ketekunan beribadah, haruslah menjadi adat kebiasaannya sehingga mereka harus memalingkan dari kenikmatan hidup dan keindahan dunia, tidak bergembira dan tidak bermain-main.
Bahkan seluruh pandangannya dan pikirannya hanya tertuju kepada akhirat melulu dengan seluruh isinya, serta jauh dari dunia dengan keindahannya.
Marilah kita dengarkan kisah seorang sahabat yang mulia, namanya Handhalah al-Asidi, dia termasuk salah seorang penulis Nabi. Ia menceriterakan tentang dirinya kepada kita sebagai berikut. Satu ketika aku bertemu Abu Bakar, kemudian terjadilah suatu dialog:
Baca juga: Syaikh Al-Qardhawi: Larangan Melukis Tidak Jadi Penyebab Terpuruknya Seni Islam
Abu Bakar: Apa kabar, ya Handhalah?
Aku: Handhalah berbuat nifaq!
Abu Bakar: Subhanallah, apa katamu?
Islam tidak memperlakukan manusia sebagai Malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat. Tetapi Islam memperlakukan manusia sebagai manusia yang suka makan dan berjalan di pasar-pasar.
Al-Qardhawi mengatakan justru itu Islam tidak mengharuskan manusia supaya dalam seluruh percakapannya itu berupa zikir, diamnya itu berarti berpikir, seluruh pendengarannya hanya kepada al-Quran dan seluruh senggangnya harus di masjid.
Baca juga: Seni Islam: Tidak Harus Berbahasa Arab dan tentang Ajaran Islam
Islam mengakui fitrah dan instink manusia sebagai makhluk yang dicipta Allah, di mana Allah membuat mereka sebagai makhluk yang suka bergembira, bersenang-senang, ketawa dan bermain-main, sebagaimana mereka dicipta suka makan dan minum.
Sekadarnya Saja
Al-Qardhawi menjelaskan meningkatnya rohani sebagian para sahabat, telah mencapai puncak di mana mereka beranggapan, bahwa kesungguhan yang membulat dan ketekunan beribadah, haruslah menjadi adat kebiasaannya sehingga mereka harus memalingkan dari kenikmatan hidup dan keindahan dunia, tidak bergembira dan tidak bermain-main.
Bahkan seluruh pandangannya dan pikirannya hanya tertuju kepada akhirat melulu dengan seluruh isinya, serta jauh dari dunia dengan keindahannya.
Marilah kita dengarkan kisah seorang sahabat yang mulia, namanya Handhalah al-Asidi, dia termasuk salah seorang penulis Nabi. Ia menceriterakan tentang dirinya kepada kita sebagai berikut. Satu ketika aku bertemu Abu Bakar, kemudian terjadilah suatu dialog:
Baca juga: Syaikh Al-Qardhawi: Larangan Melukis Tidak Jadi Penyebab Terpuruknya Seni Islam
Abu Bakar: Apa kabar, ya Handhalah?
Aku: Handhalah berbuat nifaq!
Abu Bakar: Subhanallah, apa katamu?
Lihat Juga :