Kisah Panglima Perang Romawi Muqauqis Mengancam Amr bin Ash
Selasa, 02 Juli 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Politik Amr bin Ash di Mesir: Bebas Berkeyakinan dan Memberi Keringanan Pajak
Sudah satu bulan kalian tinggal di tengah-tengah kami dalam keadaan serba sulit. Kami kasihan kepada kalian karena keadaan kalian lemah dan jumlah yang kecil serta sedikitnya persediaan kalian. Maka demi kebaikan kalian dengan segala senang sekali kami akan memberikan kepada setiap orang di antara kalian dua dinar, bagi pemimpin kalian seratus dinar dan untuk khalifah kalian seribu dinar. Terimalah itu dan kembalilah ke negeri kalian sebelum kalian berhadapan dengan serangan yang tak akan mampu kalian menahannya."
Kata-kata itu berisi janji, bujukan dan ancaman sekaligus. Tiga puluh ribu dinar yang ditawarkan kepada Ubadah ini sebagai harga pengganti perang. Kalau ditolak, mereka diancam oleh bala bantuan Romawi seperti dikatakan oleh Muqauqis. Tetapi perintah Amr kepada Ubadah tegas sekali, dan Ubadah sendiri seorang pemberani yang tak pernah takut mati.
Oleh karena itu ia menjawab Muqauqis sambil mengejek banyaknya jumlah pasukan Romawi dengan menyebutkan firman Allah ini: "Betapa sering pasukan yang kecil dapat mengalahkan pasukan yang besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang yang tabah." (Qur'an, 2: 249).
Laki-laki Muslim setiap pagi dan petang berdoa kepada Allah agar ia diberi karunia dengan mati syahid. Di amping itu hidup mereka cukup dan mereka dalam keadaan sangat baik.
Pertimbangkanlah apa yang Anda inginkan dan jelaskan kepada kami. Tak ada perkara apa pun yang dapat kami terima dari Anda atau kami jawab selain satu dari yang tiga itu. Pilihlah mana yang lebih Anda sukai dan janganlah Anda berangan-angan. Itulah perintah yang saya terima dari pemimpin kami, dan begitu pula perintah Amirulmukinin. Sebelum itu, itulah pula amanat Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam kepada kami."
Baca juga: Kisah 4.000 Orang Pasukan Amr bin Ash Menerobos Farama, Pasukan Romawi Mundur
Kemudian dijelaskannya bahwa jika mereka menerima Islam, pasukan Arab itu akan meninggalkan tempat itu. Kalau mereka menolak Islam dan menunaikan jizyah, Muslimin akan menjamin dan melindungi mereka dan akan membela mereka. Kalau Islam dan jizyah keduanya mereka tolak, maka yang keputusannya hanyalah perang.
Muqauqis sia-sia berusaha agar Ubadah mengenyampingkan ketiga perkara itu. Ia berpaling kepada stafnya ingin mengetahui pendapat mereka. Tetapi tawaran pihak Muslimin itu mereka tolak.
Ubadah dan sahabat-sahabatnya pun pergi tanpa mengubah sepatah kata pun apa yang sudah dikatakannya itu.
Muqauqis kembali menasihati stafnya akan perlunya mengadakan perdamaian dengan pihak Muslimin. Tetapi mereka berbalik menanyakan: "Bagian mana yang akan kita jawab untuk mereka?"
"Begini," kata Muqauqis, "saya tidak akan menyuruh kalian memeluk agama lain selain agama kalian. Kalau akan bertempur melawan mereka, saya tahu kalian tidak akan kuat dan tidak akan sabar dan tabah seperti mereka. Jadi harus yang ketiga."
Baca juga: Profil dan Biografi Amr bin Ash, Sahabat Nabi yang Sukses Menaklukkan Mesir
Mereka berkata lagi: "Kita akan menjadi budak mereka untuk selama-lamanya!"
"Ya, menjadi budak yang berkuasa di negeri kita sendiri. Jiwa kita, harta kita dan anak keturunan kita aman, lebih baik daripada akhirnya kita mati atau menjadi budak yang diperjualbelikan di negeri ini, diperbudak selama-selamanya, kita, keluarga kita dan anak keturunan kita."
Mereka masih menjawab: "Buat kita lebih baik mati daripada begini!"
Lalu mereka kembali ke dalam benteng dan jembatan pun mereka putuskan dari jazirah dengan akibat perang pecah kembali antara mereka dengan pihak Muslimin.
Sudah satu bulan kalian tinggal di tengah-tengah kami dalam keadaan serba sulit. Kami kasihan kepada kalian karena keadaan kalian lemah dan jumlah yang kecil serta sedikitnya persediaan kalian. Maka demi kebaikan kalian dengan segala senang sekali kami akan memberikan kepada setiap orang di antara kalian dua dinar, bagi pemimpin kalian seratus dinar dan untuk khalifah kalian seribu dinar. Terimalah itu dan kembalilah ke negeri kalian sebelum kalian berhadapan dengan serangan yang tak akan mampu kalian menahannya."
Kata-kata itu berisi janji, bujukan dan ancaman sekaligus. Tiga puluh ribu dinar yang ditawarkan kepada Ubadah ini sebagai harga pengganti perang. Kalau ditolak, mereka diancam oleh bala bantuan Romawi seperti dikatakan oleh Muqauqis. Tetapi perintah Amr kepada Ubadah tegas sekali, dan Ubadah sendiri seorang pemberani yang tak pernah takut mati.
Oleh karena itu ia menjawab Muqauqis sambil mengejek banyaknya jumlah pasukan Romawi dengan menyebutkan firman Allah ini: "Betapa sering pasukan yang kecil dapat mengalahkan pasukan yang besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang yang tabah." (Qur'an, 2: 249).
Laki-laki Muslim setiap pagi dan petang berdoa kepada Allah agar ia diberi karunia dengan mati syahid. Di amping itu hidup mereka cukup dan mereka dalam keadaan sangat baik.
Pertimbangkanlah apa yang Anda inginkan dan jelaskan kepada kami. Tak ada perkara apa pun yang dapat kami terima dari Anda atau kami jawab selain satu dari yang tiga itu. Pilihlah mana yang lebih Anda sukai dan janganlah Anda berangan-angan. Itulah perintah yang saya terima dari pemimpin kami, dan begitu pula perintah Amirulmukinin. Sebelum itu, itulah pula amanat Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam kepada kami."
Baca juga: Kisah 4.000 Orang Pasukan Amr bin Ash Menerobos Farama, Pasukan Romawi Mundur
Kemudian dijelaskannya bahwa jika mereka menerima Islam, pasukan Arab itu akan meninggalkan tempat itu. Kalau mereka menolak Islam dan menunaikan jizyah, Muslimin akan menjamin dan melindungi mereka dan akan membela mereka. Kalau Islam dan jizyah keduanya mereka tolak, maka yang keputusannya hanyalah perang.
Muqauqis sia-sia berusaha agar Ubadah mengenyampingkan ketiga perkara itu. Ia berpaling kepada stafnya ingin mengetahui pendapat mereka. Tetapi tawaran pihak Muslimin itu mereka tolak.
Ubadah dan sahabat-sahabatnya pun pergi tanpa mengubah sepatah kata pun apa yang sudah dikatakannya itu.
Muqauqis kembali menasihati stafnya akan perlunya mengadakan perdamaian dengan pihak Muslimin. Tetapi mereka berbalik menanyakan: "Bagian mana yang akan kita jawab untuk mereka?"
"Begini," kata Muqauqis, "saya tidak akan menyuruh kalian memeluk agama lain selain agama kalian. Kalau akan bertempur melawan mereka, saya tahu kalian tidak akan kuat dan tidak akan sabar dan tabah seperti mereka. Jadi harus yang ketiga."
Baca juga: Profil dan Biografi Amr bin Ash, Sahabat Nabi yang Sukses Menaklukkan Mesir
Mereka berkata lagi: "Kita akan menjadi budak mereka untuk selama-lamanya!"
"Ya, menjadi budak yang berkuasa di negeri kita sendiri. Jiwa kita, harta kita dan anak keturunan kita aman, lebih baik daripada akhirnya kita mati atau menjadi budak yang diperjualbelikan di negeri ini, diperbudak selama-selamanya, kita, keluarga kita dan anak keturunan kita."
Mereka masih menjawab: "Buat kita lebih baik mati daripada begini!"
Lalu mereka kembali ke dalam benteng dan jembatan pun mereka putuskan dari jazirah dengan akibat perang pecah kembali antara mereka dengan pihak Muslimin.
(mhy)
Lihat Juga :