Politik Amr bin Ash di Mesir: Bebas Berkeyakinan dan Memberi Keringanan Pajak
Jum'at, 08 Desember 2023 - 11:45 WIB
loading...
Amr bin Ash berpendapat bahwa kebebasan menganut suatu kepercayaan adalah hal suci. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Setelah membebaskan Mesir dari Romawi , Amr bin Ash mempelajari penyebab rakyat Mesir membantu pasukan Muslim dan melawan Romawi. Ternyata yang pertama menyebabkan mereka menggerutu dan berkeluh kesah ini karena adanya penindasan agama .
"Itu sebabnya yang pertama sekali dikumandangkan oleh Amr bin As kepada semua orang di Nubia dan Iskandariah, bahwa la ikraha fid-din - tak ada paksaan dalam agama," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Menaklukkan Barqah dan Tripoli Tanpa Perlawanan
Amr bin Ash berpendapat bahwa kebebasan menganut suatu kepercayaan adalah hal suci, kebebasan pribadi seseorang atau hartanya tak boleh diganggu hanya karena kepercayaan agama atau salah satu aliran yang dianutnya.
Mereka bebas mau tetap dalam sekte Marcionit atau Monofisit. Orang yang ingin pindah dari suatu agama ke agama lain atau dari suatu sekte ke sekte lain tidak boleh diganggu. "Kalau ia masuk Islam hak dan kewajibannya dengan hak dan kewajiban Muslim yang lain sama," ujarnya.
Kebijakan itu dilaksanakan dengan sangat cermat sekali. Severus, sebagaimana dikutip Haekal, menyebutkan bahwa ada seorang uskup Marcionit yang tetap bertahan dalam sektenya itu sampai meninggalnya tak seorang pun ada yang mengganggunya, dan Benyamin penganut Monofisit mengajak orang kepada ajaran sektenya itu dengan argumen dan mengemukakan bukti-bukti, tak ada orang yang merintanginya atau mau melarang kegiatannya.
Gereja-gereja kaum Marcionit dan gereja-gereja kaum Monofisit tetap berdiri, masing-masing menjalankan ritualnya sendiri-sendiri. Tak ada yang berani mencemari kesuciannya, atau menyerang salah satu sekte.
Pada masa pendudukan Romawi hal demikian tidak diperoleh. Mereka mengalami penindasan agama yang begitu getir serta nasib yang menimpa mereka demi sekte berupa penyiksaan, pengejaran dan pengusiran, selama puluhan tahun terus-menerus.
Baca juga: Profil dan Biografi Amr bin Ash, Sahabat Nabi yang Sukses Menaklukkan Mesir
Orang merasa lebih puas lagi dengan kebijaksanaan pemerintah baru ini, yang setelah melihat penyebab yang membuat mereka menggerutu dan mengeluh itu dihapus.
"Itu sebabnya yang pertama sekali dikumandangkan oleh Amr bin As kepada semua orang di Nubia dan Iskandariah, bahwa la ikraha fid-din - tak ada paksaan dalam agama," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Menaklukkan Barqah dan Tripoli Tanpa Perlawanan
Amr bin Ash berpendapat bahwa kebebasan menganut suatu kepercayaan adalah hal suci, kebebasan pribadi seseorang atau hartanya tak boleh diganggu hanya karena kepercayaan agama atau salah satu aliran yang dianutnya.
Mereka bebas mau tetap dalam sekte Marcionit atau Monofisit. Orang yang ingin pindah dari suatu agama ke agama lain atau dari suatu sekte ke sekte lain tidak boleh diganggu. "Kalau ia masuk Islam hak dan kewajibannya dengan hak dan kewajiban Muslim yang lain sama," ujarnya.
Kebijakan itu dilaksanakan dengan sangat cermat sekali. Severus, sebagaimana dikutip Haekal, menyebutkan bahwa ada seorang uskup Marcionit yang tetap bertahan dalam sektenya itu sampai meninggalnya tak seorang pun ada yang mengganggunya, dan Benyamin penganut Monofisit mengajak orang kepada ajaran sektenya itu dengan argumen dan mengemukakan bukti-bukti, tak ada orang yang merintanginya atau mau melarang kegiatannya.
Gereja-gereja kaum Marcionit dan gereja-gereja kaum Monofisit tetap berdiri, masing-masing menjalankan ritualnya sendiri-sendiri. Tak ada yang berani mencemari kesuciannya, atau menyerang salah satu sekte.
Pada masa pendudukan Romawi hal demikian tidak diperoleh. Mereka mengalami penindasan agama yang begitu getir serta nasib yang menimpa mereka demi sekte berupa penyiksaan, pengejaran dan pengusiran, selama puluhan tahun terus-menerus.
Baca juga: Profil dan Biografi Amr bin Ash, Sahabat Nabi yang Sukses Menaklukkan Mesir
Orang merasa lebih puas lagi dengan kebijaksanaan pemerintah baru ini, yang setelah melihat penyebab yang membuat mereka menggerutu dan mengeluh itu dihapus.
Lihat Juga :