Kisah 4.000 Orang Pasukan Amr bin Ash Menerobos Farama, Pasukan Romawi Mundur
Jum'at, 21 Juni 2024 - 20:46 WIB
loading...
Pasukan Amr bin Ash yang berjumlah 4000 prajurit mengepung kota yang diperkuat dengan tembok-tembok dan benteng-benteng yang begitu kukuh dan kuat. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Farama atau Pelusium adalah kota di Mesir Kuno, terletak sejauh 30 km dari Port Said. Ini merupakan kota utama paling timur di Mesir Hilir, terletak di tepi paling timur dari cabang sungai-sungai yang berasal dari sungai Nil, sehingga dinamakan Ostium Pelusiacum.
Pelusium dinamakan "Sin, benteng Mesir" dalam Kitab Yehezkiel di Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen . Letaknya di antara pantai Laut Tengah rawa-rawa Delta Sungai Nil , kira-kira dua setengah mil dari laut.
Kisah pasukan Amr bin Ash menerobos Farama diceritakan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" dan diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab "Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Dikisahnya, ketika itu Amr bin As sudah berada di ujung timur laut, tatkala memasuki Farama. Berita perjalanannya sudah lebih dulu sampai kepada pihak Romawi sejak ia menginjakkan kakinya di perbatasan Mesir.
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Memasuki Mesir, Begini Kondisi Sungai Nil Waktu Itu
Kiranya apa yang akan mereka lakukan? Tak terlintas dalam benak mereka hendak menghadapinya sementara ia dalam perjalanan di Sahara di sekitar Arisy dengan Farama itu, sebab mereka tahu bahwa orang Arab paling mampu mengadakan perang Sahara, dan karena dekatnya Arisy dan tempat-tempat di sekitar Palestina, bala bantuan berupa pasukan dari Baitulmuqadas mudah sekali diberikan kepada Amr.
Oleh karena itu Muqauqis gubernur kota itu lebih cenderung membiarkan Amr meneruskan perjalanannya sehingga ia akan makin jauh dari tempat-tempat yang dapat memasok ataupun yang diharapkan untuk itu, dan benteng-benteng Farama yang kukuh akan dijadikan tempat pertama menghadapi pasukan Muslimin, tanpa menanggung risiko ia harus pergi ke sana, atau mengirimkan Atrabun, panglima besarnya itu.
Selanjutnya, pihak Romawi memilih bertahan di kota untuk menghadapi pasukan Arab, dengan keyakinan mereka mampu melindungi kota dan memukul mundur musuh.
Mereka sudah tahu bahwa pasukan Arab yang dipimpin Amr itu jumlahnya kecil, dan mereka tidak mempunyai perlengkapan untuk mengadakan pengepungan seperti pada pasukan Persia ketika dulu menyerang Farama dan berhasil menaklukkannya tanpa banyak menemui kesulitan.
Baca juga: Politik Amr bin Ash di Mesir: Bebas Berkeyakinan dan Memberi Keringanan Pajak
Pelusium dinamakan "Sin, benteng Mesir" dalam Kitab Yehezkiel di Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen . Letaknya di antara pantai Laut Tengah rawa-rawa Delta Sungai Nil , kira-kira dua setengah mil dari laut.
Kisah pasukan Amr bin Ash menerobos Farama diceritakan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" dan diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab "Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Dikisahnya, ketika itu Amr bin As sudah berada di ujung timur laut, tatkala memasuki Farama. Berita perjalanannya sudah lebih dulu sampai kepada pihak Romawi sejak ia menginjakkan kakinya di perbatasan Mesir.
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Memasuki Mesir, Begini Kondisi Sungai Nil Waktu Itu
Kiranya apa yang akan mereka lakukan? Tak terlintas dalam benak mereka hendak menghadapinya sementara ia dalam perjalanan di Sahara di sekitar Arisy dengan Farama itu, sebab mereka tahu bahwa orang Arab paling mampu mengadakan perang Sahara, dan karena dekatnya Arisy dan tempat-tempat di sekitar Palestina, bala bantuan berupa pasukan dari Baitulmuqadas mudah sekali diberikan kepada Amr.
Oleh karena itu Muqauqis gubernur kota itu lebih cenderung membiarkan Amr meneruskan perjalanannya sehingga ia akan makin jauh dari tempat-tempat yang dapat memasok ataupun yang diharapkan untuk itu, dan benteng-benteng Farama yang kukuh akan dijadikan tempat pertama menghadapi pasukan Muslimin, tanpa menanggung risiko ia harus pergi ke sana, atau mengirimkan Atrabun, panglima besarnya itu.
Selanjutnya, pihak Romawi memilih bertahan di kota untuk menghadapi pasukan Arab, dengan keyakinan mereka mampu melindungi kota dan memukul mundur musuh.
Mereka sudah tahu bahwa pasukan Arab yang dipimpin Amr itu jumlahnya kecil, dan mereka tidak mempunyai perlengkapan untuk mengadakan pengepungan seperti pada pasukan Persia ketika dulu menyerang Farama dan berhasil menaklukkannya tanpa banyak menemui kesulitan.
Baca juga: Politik Amr bin Ash di Mesir: Bebas Berkeyakinan dan Memberi Keringanan Pajak
Lihat Juga :