Kisah Heraklius Menolak Pakta Perdamaian yang Diajukan Panglima Perangnya
Minggu, 07 Juli 2024 - 11:37 WIB
loading...
Kaisar Romawi Heraklius menolak perjanjian damai yang ditandatangani anak buahnya sendiri. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah Kaisar Romawi Heraklius menolak perjanjian perdamaian dengan Amr bin Ash yang diajukan panglima perangnya sendiri, Muqauqis, diceritakan Muhammad Husain Haekal dalam bukung berjudul "Al-Faruq Umar" dan diterjemahkan Ali Audah menjadi Umar bin Khattab "Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Dikisahkan, lantaran merasa kalah dalam pertempuran dengan pasukan muslim di Benteng Babilon, Mesir , Muqauqis mengajak berunding Amr bin Ash.
Muqauqis setuju dengan ketentuan bahwa semua orang Kopti di Mesir, yang di hulu dan hilir, yang bangsawan dan yang jelata yang sudah dewasa, dikenakan dua dinar untuk setiap orang - kecuali mereka yang berusia lanjut, anak-anak dan perempuan.
Bagi kaum Muslimin, di tempat mereka berada harus disediakan tempat. Barangsiapa mendapat tamu seorang Muslim atau lebih menjadi kewajiban mereka menerimanya tinggal selama tiga hari.
Baca juga: Kisah Muslim Sukses Menaklukkan Palestina, Heraklius Menyusun Kekuatan
Mereka boleh tetap mempertahankan tanah mereka, harta, gereja-gereja dan salib-salib mereka, begitu juga daratan dan lautan di daerah-daerah mereka. Mereka tak boleh diserang dan dalam perdagangan tak boleh dilarang mengirim barang-barang ke luar dan menerima dari luar.
Persetujuan itu bisa mulai berlaku dengan jika sudah disetujui Maharaja Heraklius. Muqauqis sendiri yang akan membawa kepada Heraklius.
Kedua pihak setuju bahwa angkatan bersenjata mereka akan tetap tinggal di tempat mereka berada sampai ada jawaban dari Kaisar, begitu juga sampai pada waktu itu benteng tersebut tetap di tangan pihak Romawi.
Muqauqis pergi ke Iskandariah dengan kapal melalui sungai, dan dari sana laporan terinci mengenai segala peristiwa itu dikirimkan ke Konstantinopel dilampiri catatan tambahan dengan permohonan kepada Heraklius pada penutupnya, pengukuhan persetujuan itu, supaya Mesir selamat dari bencana perang dan segala akibatnya.
Heraclius kebingungan saat membaca catatan dan dokumen-dokumen itu. Ia tidak tahu persetujuan itu khusus hanya untuk benteng Babilon saja, atau membiarkan Mesir seluruhnya untuk pihak Arab?
Dikisahkan, lantaran merasa kalah dalam pertempuran dengan pasukan muslim di Benteng Babilon, Mesir , Muqauqis mengajak berunding Amr bin Ash.
Muqauqis setuju dengan ketentuan bahwa semua orang Kopti di Mesir, yang di hulu dan hilir, yang bangsawan dan yang jelata yang sudah dewasa, dikenakan dua dinar untuk setiap orang - kecuali mereka yang berusia lanjut, anak-anak dan perempuan.
Bagi kaum Muslimin, di tempat mereka berada harus disediakan tempat. Barangsiapa mendapat tamu seorang Muslim atau lebih menjadi kewajiban mereka menerimanya tinggal selama tiga hari.
Baca juga: Kisah Muslim Sukses Menaklukkan Palestina, Heraklius Menyusun Kekuatan
Mereka boleh tetap mempertahankan tanah mereka, harta, gereja-gereja dan salib-salib mereka, begitu juga daratan dan lautan di daerah-daerah mereka. Mereka tak boleh diserang dan dalam perdagangan tak boleh dilarang mengirim barang-barang ke luar dan menerima dari luar.
Persetujuan itu bisa mulai berlaku dengan jika sudah disetujui Maharaja Heraklius. Muqauqis sendiri yang akan membawa kepada Heraklius.
Kedua pihak setuju bahwa angkatan bersenjata mereka akan tetap tinggal di tempat mereka berada sampai ada jawaban dari Kaisar, begitu juga sampai pada waktu itu benteng tersebut tetap di tangan pihak Romawi.
Muqauqis pergi ke Iskandariah dengan kapal melalui sungai, dan dari sana laporan terinci mengenai segala peristiwa itu dikirimkan ke Konstantinopel dilampiri catatan tambahan dengan permohonan kepada Heraklius pada penutupnya, pengukuhan persetujuan itu, supaya Mesir selamat dari bencana perang dan segala akibatnya.
Heraclius kebingungan saat membaca catatan dan dokumen-dokumen itu. Ia tidak tahu persetujuan itu khusus hanya untuk benteng Babilon saja, atau membiarkan Mesir seluruhnya untuk pihak Arab?
Lihat Juga :