Kisah Orang Sisilia Membunuh Konstantin karena Kalah Perang Melawan Muslim
Minggu, 27 Oktober 2024 - 06:10 WIB
loading...
Konstantin dengan kapalnya melarikan diri menuju ke Sisilia. Ilustrasi: AI
A
A
A
Peristiwa ini terjadi di era Khalifah Utsman bin Affan . Armada laut pasukan Romawi dengan 600 kapal dipimpin Konstantis, adik Heraklius , mencoba menyerang Iskandariah atau Aleksandria dihadang pasukan muslim dengan 200 kapal.
Kala itu, pasukan muslim dipimpin Gubernur Mesir, Abdullah bin Sa'ad. Pertempuran sengit pun terjadi berhari-hari. Korban berguguran. Pantai yang dihantam ombak itu permukaannya sudah seperti anak bukit yang besar oleh timbunan mayat-mayat, darah sudah mengalahkan air.
Dalam pada itu Konstantin sendiri mengalami luka-luka sehingga ia sudah tak berdaya lagi, semangatnya pun sudah makin surut.
Setelah dia dan anak buahnya tahu dan melihat semangat pihak Muslimin yang tidak berkurang, yakinlah dia bahwa sekarang sudah gilirannya dia akan mengalami kehancuran.
Baca juga: Perang Salib VIII: Kisah Pasukan Salib Kalah Melawan Wabah Disentri di Tunis
Ia berbalik lari bersama semua armada dan pasukannya yang masih tersisa. Ia yakin sekarang bahwa ketangguhan pasukan Muslimin di laut pun ternyata tidak kurang dari ketangguhannya di darat. Mereka tidak akan dapat dikalahkan.
Nah, di sini ada yang aneh. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan Abdullah bin Sa'ad berpendapat, musuh yang sudah lari itu tak perlu dikejar. Ia memerintahkan armadanya tetap berada di tempat kejadian peristiwa.
Selama beberapa hari itu ia berada di sana, untuk memberikan kesempatan kepada anak buahnya beristirahat. Setelah itu baru kemudian ia kembali ke pelabuhan Iskandariah.
Keputusan Abdullah bin Sa'ad ini mengundang reaksi negatif lawan politik Khalifah Utsman bin Affan. Mereka mengecam tindakannya itu, dan mengatakan kepada semua orang, bahwa andai kata armada Romawi itu terus dikejar, niscaya akan dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya.
Baca juga: Kisah Akhir Kekuasaan Yahudi di Jazirah Arab, setelah Kalah Perang dengan Muslim
Kala itu, pasukan muslim dipimpin Gubernur Mesir, Abdullah bin Sa'ad. Pertempuran sengit pun terjadi berhari-hari. Korban berguguran. Pantai yang dihantam ombak itu permukaannya sudah seperti anak bukit yang besar oleh timbunan mayat-mayat, darah sudah mengalahkan air.
Dalam pada itu Konstantin sendiri mengalami luka-luka sehingga ia sudah tak berdaya lagi, semangatnya pun sudah makin surut.
Setelah dia dan anak buahnya tahu dan melihat semangat pihak Muslimin yang tidak berkurang, yakinlah dia bahwa sekarang sudah gilirannya dia akan mengalami kehancuran.
Baca juga: Perang Salib VIII: Kisah Pasukan Salib Kalah Melawan Wabah Disentri di Tunis
Ia berbalik lari bersama semua armada dan pasukannya yang masih tersisa. Ia yakin sekarang bahwa ketangguhan pasukan Muslimin di laut pun ternyata tidak kurang dari ketangguhannya di darat. Mereka tidak akan dapat dikalahkan.
Nah, di sini ada yang aneh. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan Abdullah bin Sa'ad berpendapat, musuh yang sudah lari itu tak perlu dikejar. Ia memerintahkan armadanya tetap berada di tempat kejadian peristiwa.
Selama beberapa hari itu ia berada di sana, untuk memberikan kesempatan kepada anak buahnya beristirahat. Setelah itu baru kemudian ia kembali ke pelabuhan Iskandariah.
Keputusan Abdullah bin Sa'ad ini mengundang reaksi negatif lawan politik Khalifah Utsman bin Affan. Mereka mengecam tindakannya itu, dan mengatakan kepada semua orang, bahwa andai kata armada Romawi itu terus dikejar, niscaya akan dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya.
Baca juga: Kisah Akhir Kekuasaan Yahudi di Jazirah Arab, setelah Kalah Perang dengan Muslim
Lihat Juga :