Ucapan Burung Kedua dan Cerita Kecil tentang Seorang Perenung

Senin, 24 Agustus 2020 - 06:15 WIB
loading...
Ucapan Burung Kedua...
Sirmugh. Foto/Ilustrasi/Wikipedia
A A A
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )

===

SEEKOR burung lain mendekati Hudhud dan berkata, "O pelindung bala tentara Sulaiman! Aku tak kuat menempuh perjalanan ini. Aku terlalu lemah untuk melintasi lembah demi lembah. Jalan begitu sulit sehingga aku akan terbaring mati pada tahap pertama.” (Baca juga: Burung-Burung Berangkat dan Kisah Sultan Mahmud dengan Penangkap Ikan )

“Ada gunung-gunung berapi di tengah jalan. Juga tidaklah menguntungkan bagi setiap orang untuk ikut serta dalam usaha demikian.”

“Ribuan kepala telah bergulingan bagai bola dalam permainan polo, karena telah banyak yang tewas mereka yang pergi mencari
Simurgh . Di jalan semacam itu, banyak makhluk yang tulus menyembunyikan kepala karena takut, bagaimana jadinya diriku nanti, yang tak lain dari debu?"

Hudhud menjawab, "O kau yang berwajah muram! Mengapa hatimu begitu sedih? Karena begitu kecil artimu di dunia ini, maka tak ada bedanya apakah kau muda dan berani atau tua dan lemah.” (Baca juga: Burung-Burung Membicarakan Perjalanan Menuju Simurgh)

“Dunia benar-benar kotor; makhluk-makhluk binasa di sana pada setiap pintu. Beribu-ribu yang jadi kuning bagai sutera, dan binasa di tengah airmata dan derita. Lebih baik mengurbankan hidupmu dalam mencari ketimbang merana sengsara.”

“Andaikan kita tak akan berhasil, tetapi mati karena sedih, yah, jauh lebih parah lagi, namun karena banyak kesalahan di dunia ini, kita setidak-tidaknya akan dapat menghindarkan diri dari kesalahan-kesalahan baru.”

“Ribuan makhluk dengan cerdiknya menyibukkan diri dalam usaha mencari jasad mati dunia ini; maka, bila kau abdikan dirimu dalam usaha ini, terlebih lagi dengan tipu daya, akan dapatkah kau menjadikan hatimu lautan cinta!” (Baca Juga: Hudhud: Cinta Mawar Banyak Durinya, Mengusik dan Menguasai)

“Ada yang mengatakan bahwa keinginan akan apa yang bersifat rohani hanya kesombongan, dan bahwa bukan hanya yang beruntung akan dapat mencapainya. Tetapi tidakkah lebih baik mengurbankan hidup kita dalam mengejar nasrat ini ketimbang terikat dengan urusan duniawi?”

“Telah kulihat segalanya dan telah kulakukan segalanya, dan tak ada apa pun yang mengguncangkan kesimpulanku. Lama aku harus berurusan dengan orang-orang dan telah kulihat betapa sedikit mereka yang benar-benar tak terikat pada kekayaan.”

“Selama kita tak mempertaruhkan diri kita sendiri, dan selama kita terikat pada seseorang atau sesuatu, kita tak akan bebas. Jalan rohani tidak teruntuk bagi mereka yang terliput dalam kehidupan lahiriah.” (Baca juga: Burung Gereja, Kisah Nabi Ya'kub dan Nabi Yusuf )

“Tapakkan kakimu di Jalan ini bila kau dapat berbuat, dan jangan bersenang hati dengan upaya yang hanya layak bagi betina. Ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa seandainya pun pencarian ini tak bersifat saleh, namun masih tetap perlu dilaksanakan. Tentu saja, ini tak gampang; di pohon cinta, buah itu tak berdaun. Katakan pada siapa yang memiliki daun-daun agar melepaskan semua itu.”

Bila cinta menguasai kita, ia membangkitkan hati kita, mencemplungkan kita dalam darah, memaksa kita bersujud di luar tirai; ia tak memberi kita istirahat sejenak pun; ia membunuh kita, namun masih tetap menuntut harga darah. Ia mereguk air luh1 dan makan roti yang beragikan dukacita; tetapi meskipun kita lebih lemah dari seekor semut, cinta akan memberi kita kekuatan."

Cerita Kecil tentang Seorang Perenung
Seorang gila, yang gila akan Tuhan, pergi dengan bertelanjang ketika orang-orang lain pergi dengan berpakaian. Ia berkata, "O Tuhan, beri hamba pakaian yang indah, maka hamba pun akan puas seperti orang-orang lain."

Sebuah suara dari dunia gaib menjawabnya, "Telah kuberikan padamu matahari yang hangat, duduklah dan bersuka-sukalah dalam kehangatan matahari itu." (Baca juga: Burung Hantu, Tikus, Si Bakhil, dan Rayuan Emas )

Si gila berkata "Mengapa menghukum hamba? Tak punyakah Tuan pakaian yang lebih baik dari matahari?"

Suara itu pun berkata, "Tunggulah dengan sabar selama sepuluh hari, dan tanpa ribut-ribut akan kuberikan padamu pakaian lain."

Matahari menghanguskan si gila itu selama delapan hari; kemudian seorang miskin datang mendekati dan memberinya sehelai pakaian yang bertambal seribu. Si gila berkata pada Tuhan, "O Tuan yang mengetahui segala apa yang tersembunyi, mengapa telah Tuan berikan pada hamba pakaian yang bertambal-tambal ini? Adakah telah Tuan bakar sekalian pakaian Tuan dan harus menambal pakaian usang ini? Tuan telah menyambung-nyambung seribu pakaian. Dari siapa Tuan mempelajari seni ini?"

Tidaklah mudah berhubungan dengan istana Tuhan. Orang harus menjadi bagai debu di jalan yang menuju ke sana. Setelah pergulatan yang lama ia mengira telah mencapai tujuannya hanya karena mengetahui bahwa tujuan itu masih harus dicapai.

Cerita tentang Rabi'ah
Rabi'ah, meskipun seorang wanita, namun merupakan mahkota laki-laki. Sekali ia mempergunakan waktunya delapan tahun untuk pergi haji ke Ka’bah dengan mengingsutkan panjang badannya di tanah. Ketika akhirnya ia sampai ke pintu rumah suci itu, ia berpikir, "Kini akhirnya telah kutunaikan kewajibanku." (Baca juga: Oh, Kau yang Telah Hidup Berdekatan dengan Raja-Raja, Hati-Hatilah! )

Pada hari suci ketika ia hendak menghadapkan diri ke Ka'bah, perempuan-perempuan pengiringnya meninggalkannya. Maka Rabi'ah pun menyelusuri jejaknya semula dan berkata, "O Tuhan yang memiliki seri keagungan, delapan tahun lamanya hamba telah mengukur jalan dengan panjang badan hamba, dan kini, ketika hari yang dirindukan itu telah tiba sebagai jawaban atas doa-doa hamba, Tuan letakkan duri-duri di jalan hamba!"

Untuk memahami arti peristiwa demikian, perlu pula mengetahui seorang pencinta Tuhan seperti Rabi'ah itu. Selama kau terapung-apung di lautan dunia yang dalam, ombak-ombaknya akan menerima dan menolakmu berganti-ganti. (Baca juga: Merak Kencana serta Kisah Guru dan Murid )

Kadang-kadang kau akan diperkenankan sampai ke Ka'bah, kadang-kadang pula kau akan menarik nafas panjang (karena kecewa) berada di sebuah kuil. Jika kau berhasil menarik diri dari keterikatan dengan dunia ini, kau akan menikmati kebahagiaan; tetapi jika kau tinggal terikat, kepalamu akan berpusing-pusing bagai batu giling pada perkakas penggiling. Tidak sejenak pun kau akan tenang; kau akan terganggu oleh seekor nyamuk saja pun.

Si Penggila Tuhan
Sudah menjadi kebiasaan seorang laki-laki miskin yang gandrung dengan Tuhan untuk berdiri di suatu tempat tertentu. Dan suatu hari seorang raja Mesir yang sering lalu di mukanya dengan orang-orang istana yang menjadi pengiringnya, berhenti dan berkata, "Kulihat dalam dirimu sifat tenang dan santai yang cukup menarik."

Si gila itu menjawab, "Bagaimana hamba akan tenang kalau hamba menjadi sasaran lalat dan kutu anjing? Sepanjang siang lalat-lalat menyiksa hamba, dan malam hari kutu-kutu anjing tak membiarkan hamba tidur. Seekor lalat kecil saja yang masuk ke telinga Nimrod mengganggu benak si gila itu berabad-abad. Mungkin hamba Nimrod zaman ini sebab hamba harus berurusan dengan sahabat-sahabat hamba, lalat-lalat dan kutu-kutu anjing itu." (Baca juga: Nuri, Si Penggila Tuhan, dan Khizr )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Mesir Temukan Minyak...
Mesir Temukan Minyak Baru di Gurun Barat
Kota Metropolis Kuno...
Kota Metropolis Kuno Berusia 2.500 Tahun Ditemukan di Hutan Amazon
Arus Besar Laut Samudera...
Arus Besar Laut Samudera Atlantik Berubah, Bumi Dalam Bahaya
Artikel Terkini
Amalan Jumat: Raih Cahaya...
Amalan Jumat: Raih Cahaya dengan Membaca Surat Al-Kahfi
Doa-doa Bakda Ashar...
Doa-doa Bakda Ashar di Hari Jumat, Jangan Lupa Amalkan!
8 Olahraga yang Pernah...
8 Olahraga yang Pernah Dilakukan Rasulullah SAW, Lengkap dengan Dalilnya
Jangan Asal Olahraga!...
Jangan Asal Olahraga! Ini 9 Adab Berolahraga dalam Islam
Demam Piala Dunia, Bagaimana...
Demam Piala Dunia, Bagaimana Islam Memandang Olahraga?
Khotbah Jumat : Ada...
Khotbah Jumat : Ada Apa dengan Hari Asyura?
Infografis
Tri Mumpuni, Ilmuwan...
Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved