Pertaruhan Besar Khalid bin Walid dalam Perang Yamamah
Senin, 24 Agustus 2020 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
Khalifah Abu Bakar tahu benar bahwa di pihak nabi palsu ini ada empat puluh ribu anggota pasukan yang sudah siap tempur. Mereka sudah percaya benar kepadanya dan bersedia mati untuk membelanya. Kalau dalam menghadapi kaum pembangkang itu Khalifah Abu Bakar juga tidak menyiapkan kaum Muslimin pilihan — dalam kepemimpinan, dalam keberanian dan dalam bertempur di medan perang — strateginya dalam perang menghadapi kaum murtad itu akan menemui kegagalan. (Baca juga: Dendam Perempuan Nabi Palsu dari Banu Tamim )
Pandangan Khalifah Abu Bakar cukup jauh dengan imannya yang begitu kuat untuk membiarkan Islam yang baru ini sampai mengalami nasib demikian. Di antara mereka yang dikirimkan Khalifah Abu Bakar untuk membantu Khalid itu terdapat orang-orang yang sudah hafal Al-Qur'an, juga terdiri dari mereka yang sudah pernah terjun ke dalam perang Badr.
Padahal Khalifah Abu Bakar masih sangat menghemat kaum veteran Badar dengan mengatakan: "Aku tak akan menggunakan pasukan Badar. Biarlah mereka hidup sampai menemui Allah dengan amal mereka yang saleh. Allah akan menyelamatkan mereka dan orang-orang saleh itu melebihi pertolongan yang diberikan kepada mereka." (Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar )
Tetapi Abu Bakar kini harus menanggalkan pendiriannya itu, dan bersedia membantu Khalid dengan pasukan Badar dan mereka yang pernah mengalami pertempuran pada masa Rasulullah, sebab Musailamah sudah makin kuat di Yamamah.
Jadi setiap pengorbanan untuk mengikisnya berarti mempertahankan agama Allah, dan membiarkannya merajalela berarti api pemberontakan di tanah Arab akan makin berkobar, dan posisi kaum Muslimin akan semakin sulit. (Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar )
Sebenarnya peristiwa ini kecil sekali dibandingkan dengan kemenangan yang diperoleh Muslimin sampai sebelum ekspedisi Yamamah itu. Kabilah-kabilah yang berdekatan dengan Madinah dan yang pada suatu pagi dulu hendak mengepungnya waktu pelantikan Abu Bakar, tak ada yang mendakwakan diri jadi nabi, tak punya keinginan apa pun selain ingin dibebaskan dari kewajiban zakat.
Adi bin Hatim sudah berhasil menjauhkan kabilah-kabilah itu dari Tulaihah al-Asadi. Dengan demikian ia jadi lemah, dan tak lagi dapat mengadakan perlawanan. Juga kabilah-kabilah yang sudah mengalami kekalahan, yang ada di sekeliling Umm Ziml, sudah tak mampu memberikan dukungan. (Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman )
Dalam pada itu Banu Tamim sedang dalam sengketa antara sesama mereka, sedang Sajah sudah membuat patah semangat Malik bin Nuwairah. Perang antara dia dengan Khalid bin Walid sebenarnya sudah tak ada lagi. (Bersambung)
Pandangan Khalifah Abu Bakar cukup jauh dengan imannya yang begitu kuat untuk membiarkan Islam yang baru ini sampai mengalami nasib demikian. Di antara mereka yang dikirimkan Khalifah Abu Bakar untuk membantu Khalid itu terdapat orang-orang yang sudah hafal Al-Qur'an, juga terdiri dari mereka yang sudah pernah terjun ke dalam perang Badr.
Padahal Khalifah Abu Bakar masih sangat menghemat kaum veteran Badar dengan mengatakan: "Aku tak akan menggunakan pasukan Badar. Biarlah mereka hidup sampai menemui Allah dengan amal mereka yang saleh. Allah akan menyelamatkan mereka dan orang-orang saleh itu melebihi pertolongan yang diberikan kepada mereka." (Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar )
Tetapi Abu Bakar kini harus menanggalkan pendiriannya itu, dan bersedia membantu Khalid dengan pasukan Badar dan mereka yang pernah mengalami pertempuran pada masa Rasulullah, sebab Musailamah sudah makin kuat di Yamamah.
Jadi setiap pengorbanan untuk mengikisnya berarti mempertahankan agama Allah, dan membiarkannya merajalela berarti api pemberontakan di tanah Arab akan makin berkobar, dan posisi kaum Muslimin akan semakin sulit. (Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar )
Sebenarnya peristiwa ini kecil sekali dibandingkan dengan kemenangan yang diperoleh Muslimin sampai sebelum ekspedisi Yamamah itu. Kabilah-kabilah yang berdekatan dengan Madinah dan yang pada suatu pagi dulu hendak mengepungnya waktu pelantikan Abu Bakar, tak ada yang mendakwakan diri jadi nabi, tak punya keinginan apa pun selain ingin dibebaskan dari kewajiban zakat.
Adi bin Hatim sudah berhasil menjauhkan kabilah-kabilah itu dari Tulaihah al-Asadi. Dengan demikian ia jadi lemah, dan tak lagi dapat mengadakan perlawanan. Juga kabilah-kabilah yang sudah mengalami kekalahan, yang ada di sekeliling Umm Ziml, sudah tak mampu memberikan dukungan. (Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman )
Dalam pada itu Banu Tamim sedang dalam sengketa antara sesama mereka, sedang Sajah sudah membuat patah semangat Malik bin Nuwairah. Perang antara dia dengan Khalid bin Walid sebenarnya sudah tak ada lagi. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :