Salah Satu Makna Khusus Perang Salib: Musuhnya Bukan hanya Islam
Senin, 12 Agustus 2024 - 05:15 WIB
loading...
Terdapat misi tambahan dalam Perang Salib, yaitu menyebarkan paham Katolik. Pada Perang Salib I terjadi pembantaian orang-orang Yahudi di Rhineland, tahun 1096. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Perang Salib di Timur Tengah memakan waktu 269 tahun, dimulai dari tahun 1096 hingga 1365. Itu jika Perang Salib X dihitung. Jika tidak, maka selama 176 tahun, yaitu dari tahun 1096 hingga 1272.
Salah satunya fakta bahwa Perang Salib diidentikkan dengan perang yang terjadi antara umat Islam dan umat Kristen untuk memperebutkan Yerusalem .
Jati Pamungkas, S.Hum, M.A. dalam bukunya berjudul "Perang Salib Timur dan Barat, Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa" menyebut dari data dan fakta sejarah mengenai Perang Salib, dapat disimpulkan bahwa Perang Salib mempunyai makna khusus, salah satunya bahwa musuh Perang Salib tidak hanya Islam.
"Pada penjelasan inilah keunikan Perang Salib. Yerusalem adalah tujuan dan misi utama Kepausan di Roma," tulis Jati Pamungkas.
Baca juga: 3 Makna Khusus Perang Salib: Milik Katolik, Menjalankan Seruan Paus di Roma
Pasukan Salib harus berhasil merebut Yerusalem. Penguasa Yerusalem selama terjadi Perang Salib adalah Dinasti Fatimiyah, Turki Seljuk, Dinasti Ayyubiyah, dan Dinasti Mamlukiah. Keempat dinasti tersebut secara bergantian menguasai Yerusalem.
Keempat dinasti tersebut semuanya adalah dinasti yang dibentuk dari Islam. Fakta-fakta sejarah tersebut akhirnya melahirkan suatu kemutlakan: bahwa musuh pasukan Salib adalah Islam.
Terdapat misi tambahan dalam Perang Salib, yaitu menyebarkan paham Katolik. Pada Perang Salib I terjadi pembantaian orang-orang Yahudi di Rhineland, tahun 1096.
Pada waktu itu keberadaan Yahudi sangat dibenci oleh Katolik. Orang-orang Yahudi secara ekonomi merupakan orang kaya dan kekayaan mereka dibutuhkan untuk membiayai perjalanan ke Yerusalem.
Sebelum pasukan Salib berangkat menuju Yerusalem pada Perang Salib I, banyak pembantaian orang-orang Yahudi di Eropa. Begitu pula ketika berhasil menguasai Yerusalem, orang-orang Yahudi didiskriminasi dan juga banyak yang dieksekusi.
Salah satunya fakta bahwa Perang Salib diidentikkan dengan perang yang terjadi antara umat Islam dan umat Kristen untuk memperebutkan Yerusalem .
Jati Pamungkas, S.Hum, M.A. dalam bukunya berjudul "Perang Salib Timur dan Barat, Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa" menyebut dari data dan fakta sejarah mengenai Perang Salib, dapat disimpulkan bahwa Perang Salib mempunyai makna khusus, salah satunya bahwa musuh Perang Salib tidak hanya Islam.
"Pada penjelasan inilah keunikan Perang Salib. Yerusalem adalah tujuan dan misi utama Kepausan di Roma," tulis Jati Pamungkas.
Baca juga: 3 Makna Khusus Perang Salib: Milik Katolik, Menjalankan Seruan Paus di Roma
Pasukan Salib harus berhasil merebut Yerusalem. Penguasa Yerusalem selama terjadi Perang Salib adalah Dinasti Fatimiyah, Turki Seljuk, Dinasti Ayyubiyah, dan Dinasti Mamlukiah. Keempat dinasti tersebut secara bergantian menguasai Yerusalem.
Keempat dinasti tersebut semuanya adalah dinasti yang dibentuk dari Islam. Fakta-fakta sejarah tersebut akhirnya melahirkan suatu kemutlakan: bahwa musuh pasukan Salib adalah Islam.
Terdapat misi tambahan dalam Perang Salib, yaitu menyebarkan paham Katolik. Pada Perang Salib I terjadi pembantaian orang-orang Yahudi di Rhineland, tahun 1096.
Pada waktu itu keberadaan Yahudi sangat dibenci oleh Katolik. Orang-orang Yahudi secara ekonomi merupakan orang kaya dan kekayaan mereka dibutuhkan untuk membiayai perjalanan ke Yerusalem.
Sebelum pasukan Salib berangkat menuju Yerusalem pada Perang Salib I, banyak pembantaian orang-orang Yahudi di Eropa. Begitu pula ketika berhasil menguasai Yerusalem, orang-orang Yahudi didiskriminasi dan juga banyak yang dieksekusi.
Lihat Juga :