Perang Salib: Masalah Kemurnian Agama Hanya sebagai Pemicu
Selasa, 13 Agustus 2024 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Perang Salib I: Kisah Kekalahan Turki Seljuk Rum sehingga Memindahkan Ibu Kotanya
Pada tahun 1144, pemerintahan Kristen di Edessa dikalahkan oleh Turki Seljuk dan hal tersebut adalah alasan dikirimkannya pasukan yang lebih banyak ke Timur Tengah dengan tujuan menambah luas Kerajaan Surga.
Perang Salib II mengalami kegagalan dan pasukan Salib mengalami kekalahan di Timur Tengah. Perlu diketahui bahwa Turki Seljuk bukanlah pihak yang terlibat Perang Salib di Yerusalem. Jadi Turki Seljuk tidak terikat dengan pasukan Salib sehingga mereka kapan pun dapat menyerang Kerajaan Surga, baik Yerusalem, Tripoli, Antiokhia, ataupun Edessa.
Pasukan Salib di akhir pertempuran hanya melakukan perjanjian dengan Dinasti Fatimiyah. Perang Salib II secara politik mulai melibatkan raja-raja di Eropa yang termotivasi oleh Raymond, Bohemond, dan Baldwin yang ketiganya menjadi raja, serta Godfrey yang menjadi pendiri atau penggagas Kerajaan Yerusalem padahal mereka di Eropa bukanlah bangsawan utama sekelas raja.
Conrad II sebagai Raja Kerajaan Suci Roma dan Louis VII sebagai Raja Prancis mengikuti Perang Salib yang, selain karena seruan Paus, diduga bertujuan mendapatkan tanah-tanah baru di Timur Tengah.
Mendapatkan tanah atau wilayah sama halnya mendapatkan emas ataupun kekayaan yang berlimpah karena Timur Tengah, khususnya Yerusalem, Damaskus, dan Bagdad, adalah jantung perekonomian dunia.
Baca juga: Perang Salib II: Bukan Hanya Perang Katolik dengan Islam
Pada waktu itu Islam memulai masa kejayaannya dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, sedangkan Eropa masih jauh dari Renaisans.
Ibarat perbandingan, baju orang Timur Tengah, baik itu dari Mesir, Syams, atau Irak, pasti lebih bagus dari baju yang dipakai oleh orang-orang Eropa.
Hal tersebut juga berlaku pada berbagai hal dalam kehidupan seperti makanan, kualitas hidup, sistem masyarakat, hukum, dan sebagainya yang tercakup dalam peradaban.
Renaisans dimulai pada awal abad ke-14 dan Perang Salib II berakhir pada tahun 1149. Ketika Perang Salib IX berakhir pun, Eropa belum memulai kebangkitannya. Kebangkitan Eropa ada kaitannya dengan jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 dan jatuhnya Emirat Granada pada tahun 1492.
Pada tahun 1144, pemerintahan Kristen di Edessa dikalahkan oleh Turki Seljuk dan hal tersebut adalah alasan dikirimkannya pasukan yang lebih banyak ke Timur Tengah dengan tujuan menambah luas Kerajaan Surga.
Perang Salib II mengalami kegagalan dan pasukan Salib mengalami kekalahan di Timur Tengah. Perlu diketahui bahwa Turki Seljuk bukanlah pihak yang terlibat Perang Salib di Yerusalem. Jadi Turki Seljuk tidak terikat dengan pasukan Salib sehingga mereka kapan pun dapat menyerang Kerajaan Surga, baik Yerusalem, Tripoli, Antiokhia, ataupun Edessa.
Pasukan Salib di akhir pertempuran hanya melakukan perjanjian dengan Dinasti Fatimiyah. Perang Salib II secara politik mulai melibatkan raja-raja di Eropa yang termotivasi oleh Raymond, Bohemond, dan Baldwin yang ketiganya menjadi raja, serta Godfrey yang menjadi pendiri atau penggagas Kerajaan Yerusalem padahal mereka di Eropa bukanlah bangsawan utama sekelas raja.
Conrad II sebagai Raja Kerajaan Suci Roma dan Louis VII sebagai Raja Prancis mengikuti Perang Salib yang, selain karena seruan Paus, diduga bertujuan mendapatkan tanah-tanah baru di Timur Tengah.
Mendapatkan tanah atau wilayah sama halnya mendapatkan emas ataupun kekayaan yang berlimpah karena Timur Tengah, khususnya Yerusalem, Damaskus, dan Bagdad, adalah jantung perekonomian dunia.
Baca juga: Perang Salib II: Bukan Hanya Perang Katolik dengan Islam
Pada waktu itu Islam memulai masa kejayaannya dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, sedangkan Eropa masih jauh dari Renaisans.
Ibarat perbandingan, baju orang Timur Tengah, baik itu dari Mesir, Syams, atau Irak, pasti lebih bagus dari baju yang dipakai oleh orang-orang Eropa.
Hal tersebut juga berlaku pada berbagai hal dalam kehidupan seperti makanan, kualitas hidup, sistem masyarakat, hukum, dan sebagainya yang tercakup dalam peradaban.
Renaisans dimulai pada awal abad ke-14 dan Perang Salib II berakhir pada tahun 1149. Ketika Perang Salib IX berakhir pun, Eropa belum memulai kebangkitannya. Kebangkitan Eropa ada kaitannya dengan jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 dan jatuhnya Emirat Granada pada tahun 1492.
Lihat Juga :