Perang Salib Menjadi Salah Satu Faktor kemunduran Islam
Senin, 02 September 2024 - 15:36 WIB
loading...
A
A
A
Shalahuddin merupakan sekelompok Islam mayoritas Suni yang dikuasai Islam minoritas Syiah sejak Kekhalifahan Fatimiyah didirikan.
Deklarasi Shalahuddin mengakui Khalifah di Baghdad sama saja dengan kudeta karena Fatimiyah dengan Abbasiyah selalu bermusuhan. Berdirinya Kekhalifahan Fatimiyah pada tahun 909 merupakan jawaban penolakan terhadap politik dan pemerintahan di Baghdad.
Dinasti Ayyubiah akhirnya menjadi kekuatan militer terbesar yang dapat menandingi pasukan Salib di Timur Tengah. Pada masa Perang Salib yang terjadi dari tahun 1096 hingga 1272, jika hanya dihitung sampai Perang Salib IX, Cairo terlalu disibukkan dengan peperangan sehingga perkembangan ilmu pengetahuan sedikit terganggu.
Baca juga: Begini Kondisi Kekhalifahan Islam Menjelang Perang Salib I
Baghdad menjadi kota yang masih stabil dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di wilayah timur, sedangkan Cairo tidak lagi menjadi tempat yang representative. Begitu pula dengan Damaskus, karena selalu dipengaruhi hawa panas politik dalam Perang Salib.
Pecahnya Perang Salib di Timur Tengah mengubah wajah politik Islam yang mengedepankan perkembangan ilmu pengetahuan dan juga dakwah Islamiah menjadi lebih berorientasi terhadap kemiliteran.
Kekhalifahan Fatimiyah, Dinasti Ayyubiyah, dan Dinasti Mamlukiyah disibukkan dengan Perang Salib sehingga orentasi ketiganya mengedepankan militer.
Turki Seljuk hampir serupa dengan kekuatan yang berasal dari Mesir tersebut. Turki Seljuk disibukkan dengan persaingan antara sesama kekuatan Islam dan mempunyai ketegangan abadi dengan Byzantium dalam melakukan perluasan wilayah di Anatolia.
Akibat adanya ketegangan politik dan militer yang terus menerus membuat Turki Seljuk mengedepankan militer dalam tata kelola kenegaraannya, kemiliteran Turki Seljuk nanti akan diadopsi oleh Turki Usmani.
Jadi berubahnya orientasi pemerintahan Islam dari membangun peradaban berubah menjadi membangun kemiliteran sebenarnya telah menggerogoti kejayaan Islam.
Baca juga: Perang Salib: Byzantium Bersekutu dengan Shalahuddin Al Ayyubi
Deklarasi Shalahuddin mengakui Khalifah di Baghdad sama saja dengan kudeta karena Fatimiyah dengan Abbasiyah selalu bermusuhan. Berdirinya Kekhalifahan Fatimiyah pada tahun 909 merupakan jawaban penolakan terhadap politik dan pemerintahan di Baghdad.
Dinasti Ayyubiah akhirnya menjadi kekuatan militer terbesar yang dapat menandingi pasukan Salib di Timur Tengah. Pada masa Perang Salib yang terjadi dari tahun 1096 hingga 1272, jika hanya dihitung sampai Perang Salib IX, Cairo terlalu disibukkan dengan peperangan sehingga perkembangan ilmu pengetahuan sedikit terganggu.
Baca juga: Begini Kondisi Kekhalifahan Islam Menjelang Perang Salib I
Baghdad menjadi kota yang masih stabil dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di wilayah timur, sedangkan Cairo tidak lagi menjadi tempat yang representative. Begitu pula dengan Damaskus, karena selalu dipengaruhi hawa panas politik dalam Perang Salib.
Pecahnya Perang Salib di Timur Tengah mengubah wajah politik Islam yang mengedepankan perkembangan ilmu pengetahuan dan juga dakwah Islamiah menjadi lebih berorientasi terhadap kemiliteran.
Kekhalifahan Fatimiyah, Dinasti Ayyubiyah, dan Dinasti Mamlukiyah disibukkan dengan Perang Salib sehingga orentasi ketiganya mengedepankan militer.
Turki Seljuk hampir serupa dengan kekuatan yang berasal dari Mesir tersebut. Turki Seljuk disibukkan dengan persaingan antara sesama kekuatan Islam dan mempunyai ketegangan abadi dengan Byzantium dalam melakukan perluasan wilayah di Anatolia.
Akibat adanya ketegangan politik dan militer yang terus menerus membuat Turki Seljuk mengedepankan militer dalam tata kelola kenegaraannya, kemiliteran Turki Seljuk nanti akan diadopsi oleh Turki Usmani.
Jadi berubahnya orientasi pemerintahan Islam dari membangun peradaban berubah menjadi membangun kemiliteran sebenarnya telah menggerogoti kejayaan Islam.
Baca juga: Perang Salib: Byzantium Bersekutu dengan Shalahuddin Al Ayyubi
(mhy)
Lihat Juga :