Al-Mughirah bin Syu'bah: Pencetus Ide Mengganti Kekhalifahan Menjadi Dinasti Umayyah
Sabtu, 07 September 2024 - 06:38 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Terbelahnya Orientasi Fiqih di Era Muawiyah
Akhirnya, al-Mughirah tidak jadi dipecat Muawiyah, malahan disuruh untuk mempersiapkan bai’at bagi penobatan Yazid menjadi putra mahkota. Misi al-Mughirah berhasil dan dapat menggalang penduduk Kufah untuk mendukung Yazid menjadi putra mahkota sepeninggal Muawiyah nanti.
Pemikiran al-Mughirah itu diterima Muawiyah, dengan menunjuk putranya Yazid menjadi khalifah sepeninggalnya, karena dia berkeinginan agar umat Islam tidak terlibat lagi dalam suatu pertempuran karena memperebutkan jabatan khalifah. Sebab, belum lama lagi umat Islam berperang sesamanya dalam Perang Jamal, Perang Shiffin dan mereka belum dapat melupakan malapetaka tersebut disebabkan adanya keinginan orang-orang tertentu menduduki jabatan khalifah.
Oleh sebab itu, Muawiyah mengirim surat kepada Gubernur Madinah Marwan bin al-Hakam, sebagai berikut:
“Aku ini telah lanjut usia, tulangku telah lemah, aku khawatir akan terjadi perpecahan di kalangan umat Islam sepeninggalku. Dan aku berpendapat kini sebaiknya aku memilih untuk umat seseorang yang akan menjadi khalifah mereka sesudahku..”
Keinginan Muawiyah itu mendapat sokongan dari para gubernurnya, kecuali Ziyad, gubernur Basrah yang menganjurkan kepada Muawiyah agar tidak tergesa-gesa melaksanakan cita-citanya itu.
Baca juga: Kisah Khalifah Muawiyah Mengganti Sistem Demokratis ke Monarki
Akan tetapi setelah Ziyad meninggal, Muawiyah mendapat dukungan dari anaknya Ubaidillah bin Ziyad yang menggantikan ayahnya. Hal ini berarti keinginan Muawiyah itu mendapat sokongan penuh dari kalangan Bani Umaiyyah, tetapi ditentang oleh keturunan Bani Hasyim.
Tantangan keras datang dari Abdurrahman bin Abi Bakar, dengan tegas dia berkata “…kamu hendak menjadikan khalifah itu sebagai ‘Heracliusisme’, bila seorang Heraclius meninggal dunia maka digantikan oleh Heraclius yang lain…”
Sikap Abdurrahman itu mendapat sokongan dari pemimpin-pemimpin lainnya di Madinah seperti Husein bin Ali, Abdullah bin Umar , Abdullah bin Abbas , Abdullah bin Zubeir , dan lain-lainnya.
Akhirnya, al-Mughirah tidak jadi dipecat Muawiyah, malahan disuruh untuk mempersiapkan bai’at bagi penobatan Yazid menjadi putra mahkota. Misi al-Mughirah berhasil dan dapat menggalang penduduk Kufah untuk mendukung Yazid menjadi putra mahkota sepeninggal Muawiyah nanti.
Pemikiran al-Mughirah itu diterima Muawiyah, dengan menunjuk putranya Yazid menjadi khalifah sepeninggalnya, karena dia berkeinginan agar umat Islam tidak terlibat lagi dalam suatu pertempuran karena memperebutkan jabatan khalifah. Sebab, belum lama lagi umat Islam berperang sesamanya dalam Perang Jamal, Perang Shiffin dan mereka belum dapat melupakan malapetaka tersebut disebabkan adanya keinginan orang-orang tertentu menduduki jabatan khalifah.
Oleh sebab itu, Muawiyah mengirim surat kepada Gubernur Madinah Marwan bin al-Hakam, sebagai berikut:
“Aku ini telah lanjut usia, tulangku telah lemah, aku khawatir akan terjadi perpecahan di kalangan umat Islam sepeninggalku. Dan aku berpendapat kini sebaiknya aku memilih untuk umat seseorang yang akan menjadi khalifah mereka sesudahku..”
Keinginan Muawiyah itu mendapat sokongan dari para gubernurnya, kecuali Ziyad, gubernur Basrah yang menganjurkan kepada Muawiyah agar tidak tergesa-gesa melaksanakan cita-citanya itu.
Baca juga: Kisah Khalifah Muawiyah Mengganti Sistem Demokratis ke Monarki
Akan tetapi setelah Ziyad meninggal, Muawiyah mendapat dukungan dari anaknya Ubaidillah bin Ziyad yang menggantikan ayahnya. Hal ini berarti keinginan Muawiyah itu mendapat sokongan penuh dari kalangan Bani Umaiyyah, tetapi ditentang oleh keturunan Bani Hasyim.
Tantangan keras datang dari Abdurrahman bin Abi Bakar, dengan tegas dia berkata “…kamu hendak menjadikan khalifah itu sebagai ‘Heracliusisme’, bila seorang Heraclius meninggal dunia maka digantikan oleh Heraclius yang lain…”
Sikap Abdurrahman itu mendapat sokongan dari pemimpin-pemimpin lainnya di Madinah seperti Husein bin Ali, Abdullah bin Umar , Abdullah bin Abbas , Abdullah bin Zubeir , dan lain-lainnya.
Lihat Juga :