Ketika Makin Banyak Warga Amerika Dibunuh Tentara Israel
Senin, 16 September 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Omar adalah cedekiawan Muslim Amerika dan aktivis hak asasi manusia yang berlandaskan teologi. Lebih jauh lagi ia adalah Pendiri dan Presiden Institut Penelitian Islam Yaqeen, dan seorang Profesor Studi Islam di Universitas Southern Methodist.
Menurutnya, itu adalah pembunuhan yang direncanakan dan diperhitungkan, yang dipicu oleh dehumanisasi, impunitas, dan keinginan untuk memanfaatkan kekacauan demi penyelesaian ilegal yang cepat.
"Dan Rachel dan Ayşenur bukanlah satu-satunya korban Amerika dari teror Israel," lanjutnya sebagaimana dilansir Al Jazeera 11 September lalu.
Pada tahun 2022, Shireen Abu Akleh, seorang jurnalis Palestina-Amerika, dibunuh oleh penembak jitu Israel di Tepi Barat.
Pada bulan Januari tahun ini, Omar Assad, seorang Palestina-Amerika berusia 80 tahun, meninggal setelah ditahan selama berjam-jam oleh tentara Israel di dekat Ramallah.
Baca juga: Palestina Murka Banyak Warga Negara Ganda Jadi Tentara Israel dan Serbu Gaza
Pada bulan April, tentara Israel membunuh pekerja bantuan Amerika Jacob Flickinger bersama enam orang lainnya, yang merupakan bagian dari konvoi World Central Kitchen.
Pada bulan Agustus, seorang guru New Jersey ditembak di kaki saat memprotes aktivitas permukiman ilegal Israel di Tepi Barat. Namanya dirahasiakan demi keselamatannya. "Uang yang saya bayarkan sebagai pajak sebagai guru mungkin digunakan untuk membiayai peluru yang mereka tembakkan ke saya," katanya kepada media Zeteo.
Beberapa hari setelah Israel menembak guru Amerika tersebut, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyetujui penjualan peralatan militer tambahan senilai USD20 miliar ke Israel termasuk jet F-15, peluru tank senilai USD774 juta, peluru mortir peledak senilai USD60 juta, dan kendaraan militer senilai USD583 juta.
Pada jumpa pers tanggal 9 September, Prem Thakker dari Zeteo mengajukan pertanyaan tajam kepada Patel: "Berapa banyak lagi warga Palestina dan berapa banyak lagi warga Amerika yang terbunuh [dan] dilanggar, yang akan dibutuhkan sebelum pemerintahan ini benar-benar mengumumkan perubahan kebijakan?"
Patel menanggapi dengan mengoceh tentang upaya gencatan senjata yang gagal oleh pemerintahan AS.
Baca juga: Profesor Ini Salahkan Biden: 36 Orang Keluarganya Dibunuh Tentara Israel
Peringatan
Menurutnya, itu adalah pembunuhan yang direncanakan dan diperhitungkan, yang dipicu oleh dehumanisasi, impunitas, dan keinginan untuk memanfaatkan kekacauan demi penyelesaian ilegal yang cepat.
"Dan Rachel dan Ayşenur bukanlah satu-satunya korban Amerika dari teror Israel," lanjutnya sebagaimana dilansir Al Jazeera 11 September lalu.
Pada tahun 2022, Shireen Abu Akleh, seorang jurnalis Palestina-Amerika, dibunuh oleh penembak jitu Israel di Tepi Barat.
Pada bulan Januari tahun ini, Omar Assad, seorang Palestina-Amerika berusia 80 tahun, meninggal setelah ditahan selama berjam-jam oleh tentara Israel di dekat Ramallah.
Baca juga: Palestina Murka Banyak Warga Negara Ganda Jadi Tentara Israel dan Serbu Gaza
Pada bulan April, tentara Israel membunuh pekerja bantuan Amerika Jacob Flickinger bersama enam orang lainnya, yang merupakan bagian dari konvoi World Central Kitchen.
Pada bulan Agustus, seorang guru New Jersey ditembak di kaki saat memprotes aktivitas permukiman ilegal Israel di Tepi Barat. Namanya dirahasiakan demi keselamatannya. "Uang yang saya bayarkan sebagai pajak sebagai guru mungkin digunakan untuk membiayai peluru yang mereka tembakkan ke saya," katanya kepada media Zeteo.
Beberapa hari setelah Israel menembak guru Amerika tersebut, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyetujui penjualan peralatan militer tambahan senilai USD20 miliar ke Israel termasuk jet F-15, peluru tank senilai USD774 juta, peluru mortir peledak senilai USD60 juta, dan kendaraan militer senilai USD583 juta.
Pada jumpa pers tanggal 9 September, Prem Thakker dari Zeteo mengajukan pertanyaan tajam kepada Patel: "Berapa banyak lagi warga Palestina dan berapa banyak lagi warga Amerika yang terbunuh [dan] dilanggar, yang akan dibutuhkan sebelum pemerintahan ini benar-benar mengumumkan perubahan kebijakan?"
Patel menanggapi dengan mengoceh tentang upaya gencatan senjata yang gagal oleh pemerintahan AS.
Baca juga: Profesor Ini Salahkan Biden: 36 Orang Keluarganya Dibunuh Tentara Israel
Peringatan
Lihat Juga :