Kisah Lahirnya Daulah Abbasiyah: Berakhirnya Kongsi Sunni dan Syi'ah
Selasa, 08 Oktober 2024 - 15:02 WIB
loading...
A
A
A
Abul Abbas memindahkan markasnya ke Kufah dan bersembunyi di situ. Dalam pada itu Abu Muslim memerintahkan panglimanya, Quthaibah bin Syahib untuk merebut Kufah. Dalam gerakannya menuju Kufah, dia dihadang oleh pasukan Daulah Umayyah di Karbala.
Pertempuran sengit pun terjadi. Dia memenangkan peperangan itu. Akan tetapi dia tewas. Anaknya Hasan memegang kendali selanjutnya dan bergerak menuju Kufah, dan melalui pertempuran yang tidak begitu berarti kota Kufah itu dapat ditaklukkan.
Baca juga: Kemunduran Islam setelah Bangsa Mongol Meruntuhkan Abbasiyah
Abul Abbas keluar dari persembunyiannya dan memperoklamirkan dirinya sebagai khalifah pertama, yang diberi nama dengan Daulah Abbasiyah dan dibai’at oleh penduduk Kufah di mesjid Kufah.
Mendengar hal itu, khalifah Marwan menggerakkan pasukan berkekuatan 120.000 orang tentara menuju Kufah. Untuk itu, Abul Abbas memerintahkan pamannya Abdullah bin Ali menyongsong musuh tersebut. Kedua pasukan itu bertemu di pinggir sungai Zab, anak sungai Tigris.
Pasukan Umayyah berperang tanpa semangat dan menderita kekalahan. Abdullah bin Ali melanjutkan serangan ke Syiria. Kota demi kota berjatuhan. Terakhir Damaskus, ibu kota Daulah Umayyah menyerah pada tanggal 26 April 750 M.
Khalifah Marwan melarikan diri ke Mesir, dan dikejar oleh pasukan Abdullah. Akhirnya dia tertangkap dan dibunuh pada tanggal 5 Agustus 750 M.
Dengan demikian, setelah Marwan bin Muhammad terbunuh sebagai khalifah terakhir Daulah Umayyah, maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. Sementara orang-orang Syi’ah tidak memperoleh keuntungan politik dari kerja sama ini, dan mereka terpaksa memainkan peranan lagi sebagai kelompok oposisi pada pemerintahan Daulah Abbasiyah.
Baca juga: Perkembangan Ilmu Tafsir dan Hadis Masa Dinasti Abbasiyah
Pertempuran sengit pun terjadi. Dia memenangkan peperangan itu. Akan tetapi dia tewas. Anaknya Hasan memegang kendali selanjutnya dan bergerak menuju Kufah, dan melalui pertempuran yang tidak begitu berarti kota Kufah itu dapat ditaklukkan.
Baca juga: Kemunduran Islam setelah Bangsa Mongol Meruntuhkan Abbasiyah
Abul Abbas keluar dari persembunyiannya dan memperoklamirkan dirinya sebagai khalifah pertama, yang diberi nama dengan Daulah Abbasiyah dan dibai’at oleh penduduk Kufah di mesjid Kufah.
Mendengar hal itu, khalifah Marwan menggerakkan pasukan berkekuatan 120.000 orang tentara menuju Kufah. Untuk itu, Abul Abbas memerintahkan pamannya Abdullah bin Ali menyongsong musuh tersebut. Kedua pasukan itu bertemu di pinggir sungai Zab, anak sungai Tigris.
Pasukan Umayyah berperang tanpa semangat dan menderita kekalahan. Abdullah bin Ali melanjutkan serangan ke Syiria. Kota demi kota berjatuhan. Terakhir Damaskus, ibu kota Daulah Umayyah menyerah pada tanggal 26 April 750 M.
Khalifah Marwan melarikan diri ke Mesir, dan dikejar oleh pasukan Abdullah. Akhirnya dia tertangkap dan dibunuh pada tanggal 5 Agustus 750 M.
Dengan demikian, setelah Marwan bin Muhammad terbunuh sebagai khalifah terakhir Daulah Umayyah, maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. Sementara orang-orang Syi’ah tidak memperoleh keuntungan politik dari kerja sama ini, dan mereka terpaksa memainkan peranan lagi sebagai kelompok oposisi pada pemerintahan Daulah Abbasiyah.
Baca juga: Perkembangan Ilmu Tafsir dan Hadis Masa Dinasti Abbasiyah
(mhy)
Lihat Juga :