Perang Yamamah: 1.200 Sahid, 39 Orang Di Antaranya Penghafal Qur'an

Sabtu, 29 Agustus 2020 - 10:31 WIB
loading...
Perang Yamamah: 1.200...
Ilustrasi/Ist
A A A
SESUDAH membereskan mereka yang berlindung di Kebun Maut , Abdullah bin Umar dan Abdur-Rahman bin Abi Bakar mengusulkan kepada Khalid bin Walid agar mereka dikirim untuk menempati benteng Yamamah . Hanya saja, Khalid tak mau buru-buru mengambil keputusan. (Baca juga: Khalid bin Walid dan Terbunuhnya Nabi Palsu Musailamah di Kebun Maut )

"Aku akan menyebarkan pasukan berkuda dan menangkapi orang-orang yang ada di luar benteng, sesudah itu nanti aku mengambil keputusan," jawabnya.

Muhammad Husain Haekal dalam As-Siddiq Abu Bakr mengisahkan Khalid menyebarkan pasukan berkudanya, yang kemudian kembali membawa segala harta benda, perempuan dan anak-anak. Semua itu dibawa ke markas. Barulah kemudian ia memerintahkan agar berangkat ke benteng dan membongkar segala yang ada di dalamnya. Dengan mengadakan pembersihan demikian, sejak itu tak ada lagi perlawanan dari Banu Hanifah. (Baca juga: Meletusnya Perang Yamamah, Khalid Bin Walid dan Para Syuhada yang Bertumbangan )

Khalid makin percaya kepada Mujja'ah sesudah ia diberi tugas melindungi Umm Tamim, demikian juga kejujurannya mengenai Musailamah dan pengikut-pengikutnya. Orang ini datang kepada Khalid dan mengatakan: "Yang sudah kauperoleh itu hanya orang-orang baris depan saja; di dalam benteng masih banyak tokoh-tokoh yang lain. Bersediakah kau mengadakan perdamaian sehubungan dengan orang-orang yang menjadi tanggung jawabku?" (Baca juga: Khalid bin Walid, Peristiwa Yamamah, dan Detik-Detik Menentukan dalam Sejarah Islam )

Khalid memperhatikan angkatan bersenjatanya. Tampaknya mereka sudah letih sekali dicabik perang, sudah banyak pula di antara pemuka-pemuka mereka yang mengalami luka-luka. Mereka ingin kembali membawa kemenangan yang membanggakan itu. Kalau dengan maksudnya itu Mujja'ah jujur, menurut hematnya memang sebaiknya mengajaknya damai, dengan catatan pihak Muslimin tetap menguasai rampasan perang yang sudah menjadi bagiannya, kecuali separuh dari orang-orang tawanan. (Baca juga: Musailamah, Nabi Palsu yang Perkasa karena Didukung Seorang Ahli Al-Qur’an )

Selanjutnya kata Mujja'ah: "Sekarang aku akan menemui kaumku dan akan kutawarkan apa yang sudah kulakukan ini."

la pergi menemui perempuan-perempuan di tempat itu dan katanya kepada mereka: "Pakailah pakaian besi kalian dan tampillah ke depan benteng."

Setelah mereka melakukan itu dan Khalid menyaksikannya, ia yakin bahwa Mujja'ah tidak membohonginya. Tetapi kemudian Mujja'ah kembali lagi dan berdalih bahwa apa yang sudah dilakukannya itu mereka tak setuju. Hanya sebagian yang tampil ke depan benteng kemudian kembali menyatakan pendapat mereka yang sama. (Baca juga: Kontroversi Khalid bin Walid dan Betis Indah Si Cantik Laila )

Khalid mengalah dari separuh tawanan yang sudah disetujuinya itu. Tetapi ketika benteng itu dibuka yang ada hanya perempuan, anak-anak dan orang tua-tua yang sudah lemah. Khalid menatap Mujja'ah dengan pandangan berang. "Celaka engkau! Kau mau menipu aku?!"

"Tenanglah," kata Mujja'ah. "Mereka itu kaumku. Aku tak dapat berbuat lain selain apa yang sudah kulakukan itu."

Khalid sangat menghargai kesungguhan solidaritasnya itu. Kemudian perjanjian perdamaian disetujui dan orang itu pun dibebaskan. Disebutkan juga bahwa sebelum diadakan perjanjian dan sebelum Khalid melihat siapa yang ada dalam benteng itu, Mujja'ah pergi menemui kaumnya dan menawarkan perjanjian tersebut kepada mereka. Tetapi Salamah bin Umair dari Banu Hanifah menentangnya. "Tidak," katanya. "Kita tidak setuju. Kita akan mengajak penduduk dan budak-budak, kita akan terus berperang, bukan berdamai dengan Khalid. Benteng kita kuat, makanan cukup dan musim dingin sudah tiba." (Baca juga: Kasus Khalid tentang Laila, Membaca Sikap Umar dengan Khalifah Abu Bakar )

"Engkau ini sial!" kata Mujja'ah, "masih hijau, kurang pengalaman. Engkau keliru mengira aku menipu mereka sampai dapat memenuhi permintaanku untuk damai. Masih adakah orang dari kita yang dapat diharapkan atau dapat mempertahankan diri? Aku cepat-cepat bertindak demikian sebelum kalian ditimpa malapetaka seperti yang dikatakan Syurahbil bin Musailamah 'Sebelum perempuan-perempuan kita mendapat giliran sebagai tawanan, dan dijadikan gundik-gundik.'"

Mendengar kata-kata itu mereka lebih menyetujui perdamaian dan tidak lagi menghiraukan kata-kata Salamah bin Umair. (Baca juga: Pertaruhan Besar Khalid bin Walid dalam Perang Yamamah )

Perintah Bunuh
Sementara itu, Khalifah Abu Bakar mengirim seorang utusan untuk menemui Khalid dengan membawa perintah membunuh semua orang dari Banu Hanifah yang mampu berperang. Tetapi Khalid sudah mengadakan perdamaian dengan mereka. Khalid adalah orang yang teguh berpegang pada janji. Semua anggota keluarga Banu Hanifah dikumpulkan dan dibawa ke markas Khalid untuk membuat ikrar dan kemudian akan dibebaskan dari segala kesalahan masa lampau. (Baca juga: Soal Si Cantik Laila, Begini Kemarahan Umar Bin Khattab kepada Khalid Bin Walid )

Setelah membuat ikrar dan mereka dibebaskan dari perbuatan murtadnya lalu kembali kepada Islam, Khalid mengutus orang kepada Abu Bakar di Madinah. "Mengapa kamu sampai merendahkan diri serupa itu?" kata Abu Bakar kepada para utusan itu begitu mereka sampai ke Madinah. "Khalifah Rasulullah," kata mereka. "Apa yang kami alami sudah disampaikan kepada Khalifah. Orang itu dan keluarganya memang belum mendapat karunia Allah." (Baca juga: Cinta Bersemi Dua Sejoli Nabi Palsu di Yamamah )

Bagaimana Khalid masih mau menerima Mujja'ah padahal sudah menipunya, Khalid yang kita kenal sangat keras dan tegar itu? Rupanya, kemenangan Muslimin yang sangat meyakinkan membuat Khalid lebih banyak menenggang. Jumlah korban yang mati di pihak Banu Hanifah sudah melebihi suatu kemampuan. Konon yang mati di Kebun Maut itu mencapai tujuh ribu orang, dan sebanyak itu pula mati di medan perang, dan tujuh ribu lagi mati ketika Khalid melepaskan pasukannya mengadakan pengejaran terhadap orang-orang yang melarikan diri.

Di samping itu dari perdamaian yang dilakukan dengan Mujja'ah itu Muslimin mendapat rampasan perang berupa emas, perak, senjata dan seperempat tawanan perang. Di setiap pedesaan Banu Hanifah, dapat pula kebun dan persawahan sesuai dengan pilihan Khalid.

Baca juga: Penasaran Nama dan Logo Partai Baru Amien Rais? Ini Bocorannya Kalaupun Mujja'ah sudah berhasil menyelamatkan masyarakatnya yang masih ada sehingga mereka yang masih mampu berperang pun tak sampai dibunuh, namun masyarakatnya itu semua sudah kembali kepada Islam dan mengakui kedaulatan Abu Bakar.

Jika Khalid sudah dapat mencapai semua itu tak perlu lagi ia marah kepada Mujja'ah atau mengadakan pembalasan karena tipu dayanya itu.

Seperti jumlah kurban yang terbunuh di pihak Banu Hanifah, yang tak pernah terbayang dalam pikiran siapa pun di tanah Arab masa itu, begitu juga jumlah korban yang terbunuh di kalangan Muslimin, di luar perkiraan mereka pula.

Dari pihak Muhajirin yang terbunuh sebanyak 360 orang, dari Ansar 300 orang, tak termasuk anggota-anggota kabilah yang terbunuh. Jumlah total yang terbunuh di pihak Muslimin mencapai 1.200 orang.

Kabilah-kabilah itu diperolok oleh kaum Muhajirin dan Ansar. Mereka merasa bangga dengan jumlah yang terbunuh itu. Kelebihan Muhajirin dan Ansar bukan hanya pada jumlah orang yang terbunuh itu saja, tetapi di antara mereka itu terdapat 39 orang sahabat besar dan mereka yang sudah hafal Qur'an.

Baca juga: Amien Rais Khawatir Indonesia Darurat Tenaga Medis Dan kita pun tahu betapa besar dan terhormatnya kedudukan mereka di mata kaum Muslimin. Tetapi ya, adakalanya malapetaka membawa rahmat! Akibat terbunuhnya para penghafal Qur'an itulah maka timbul pikiran pada masa Abu Bakar hendak mengumpulkan Qur'an, sebab pembunuhan seperti yang terjadi terhadap mereka yang ikut serta dalam ekspedisi Yamamah itu, dikhawatirkan kelak akan berlanjut kepada yang lain. (Baca juga: Sabar! 1,7 Juta Karyawan Masih Nunggu Transferan BLT Rp600.000 )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Karomah Khalid bin Walid,...
Karomah Khalid bin Walid, Si Pedang Allah yang Tak Mempan Diracun
Jejak Hormuz dan Khalid...
Jejak Hormuz dan Khalid bin Walid: Dari Duel Maut hingga Gerbang Penaklukan Persia
Ayat-ayat Al Quran Tentang...
Ayat-ayat Al Quran Tentang Si Pendusta alias Nabi Palsu
Kemunculan Nabi Palsu...
Kemunculan Nabi Palsu Telah Disabdakan Nabi Muhammad SAW
Nabi-nabi Palsu Bermunculan,...
Nabi-nabi Palsu Bermunculan, Bagaimana Umat Islam Harus Bersikap?
Sejarah Perang dalam...
Sejarah Perang dalam Islam dan Turunnya Ayat Perintah Jihad!
Rekomendasi
Gunung Everest Tumbuh...
Gunung Everest Tumbuh Tinggi Lebih Cepat, Ilmuwan Beberkan Hal Ini
Gas Inti Bumi Terdeteksi...
Gas Inti Bumi Terdeteksi Bocor, Penduduk Dunia Diminta Waspada
Cacing Api Serbu Pesisir...
Cacing Api Serbu Pesisir Teluk Texas, Warga AS Diminta Hindari Pantai
Artikel Terkini
Doa Anak Yatim Diyakini...
Doa Anak Yatim Diyakini Mustajab, Benarkah?
Mengapa Anak Yatim Begitu...
Mengapa Anak Yatim Begitu Istimewa di Mata Allah? Ini Penjelasannya
Lebaran Anak Yatim:...
Lebaran Anak Yatim: Antara Dalil, Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial
Kenapa Hari Asyura Dijuluki...
Kenapa Hari Asyura Dijuluki Lebaran Anak Yatim? Begini Sejarahnya di Indonesia
Puasa Tasua 9 Muharram:...
Puasa Tasua 9 Muharram: Dalil, dan Bacaan Niat Lengkap
Puasa Tasua dan Asyura,...
Puasa Tasua dan Asyura, Mana yang Lebih Utama?
Infografis
Jika Perang Nuklir Terjadi,...
Jika Perang Nuklir Terjadi, 300 Juta Orang di AS Bisa lenyap
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved