Jelang Perang Yamamah (4)

Soal Si Cantik Laila, Begini Kemarahan Umar Bin Khattab kepada Khalid Bin Walid

loading...
Soal Si Cantik Laila, Begini Kemarahan Umar Bin Khattab kepada Khalid Bin Walid
Ilustrasi/Ist
ABU Qatadah al-Ansari sangat marah dengan perbuatan Khalid bin Walid yang membunuh Malik bin Nuwairah dan mengawini Laila, istrinya itu. Ia meninggalkan Khalid pergi ke Madinah. Ia bersumpah tidak sekali-kali lagi mau berada di bawah satuan Khalid. (Baca juga: Kontroversi Khalid bin Walid dan Betis Indah Si Cantik Laila)

Abu Qatadah pergi ke Madinah bersama Mutammam bin Nuwairah, saudara Malik. Sesampainya di Madinah, masih dalam keadaan marah Abu Qatadah menemui Khalifah Abu Bakar. Dilaporkannya soal Khalid yang membunuh Malik serta perkawinannya dengan Laila itu, dan ditambahkannya bahwa ia sudah bersumpah tak akan mau lagi berada di bawah komando Khalid. (Baca juga: Cinta Bersemi Dua Sejoli Nabi Palsu di Yamamah)

Hanya saja, Muhammad Husain Haekal dalam As-Siddiq Abu Bakr menyebut tanggapan Khalifah Abu Bakar mengecewakan Abu Qatadah. Khalifah justru mengeluarkan pujian kepada Khalid atas kemenangan-kemenangannya dalam tiap pertempuran. Khalifah bahkan menunjukkan sikap tidak senang dengan sikap Abu Qatadah, bahkan ia merasa heran mengapa berkata demikian tentang Saiful Islam — Pedang Islam. (Baca juga: Trio Jenderal Bertempur Bersama Perangi Kaum Murtad di Oman)

Abu Qatadah kecewa berat sehingga mengadu kepada Umar bin Khattab. Ia melaporkan segala peristiwa itu; dilukiskannya Khalid sebagai orang yang telah mengalahkan kewajibannya dengan nafsunya. Karena memperturutkan keinginannya ia menggampangkan hukum Allah.



Setelah mendengar pengaduan itu, Umar mendukung Abu Qatadah. Ia juga mengecam Khalid. Selanjutnya Umar pergi menemui Khalifah Abu Bakar. Ia marah sekali karena perbuatan Khalid itu, dan dimintanya supaya Khalid dipecat. "Pedang Khalid itu sangat tergesa-gesa, dan harus ada sanksinya," katanya. (Baca juga: Ini Dia, Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Perang Berkecamuk)

Abu Bakar tak pernah menjatuhkan sanksi pejabat-pejabatnya. Itu sebabnya, ketika Umar mendesak berulang kali ia berkata: "Ah, Umar! Dia sudah membuat pertimbangan tapi salah. Janganlah berkata yang bukan-bukan tentang Khalid."

Umar tidak puas dengan jawaban itu dan tidak pula henti-hentinya berusaha supaya usulnya itu dilaksanakan. "Umar!" kata Abu Bakar yang mulai merasa kesal karena desakan Umar itu, "Aku tak akan menyarungkan pedang yang oleh Allah sudah dihunuskan kepada orang-orang kafir!" (Baca juga: Debat Khalifah Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Pembangkang Zakat)



Umar tetap melihat perbuatan Khalid itu tak dapat diterima. Perasaan dan hati kecilnya menolak. Bagaimana ia akan diam, bagaimana akan membiarkan Khalid tenang-tenang begitu saja, merasa tak pernah berbuat kesalahan, tak pernah berdosa! Ia harus mengulangi lagi kata-katanya kepada Abu Bakar dan mengatakannya terus terang, bahwa musuh Allah ialah orang yang melanggar hak seorang Muslim lalu membunuhnya dan mengawini istrinya. Sama sekali tidak jujur perbuatan demikian itu jika tidak dijatuhi hukuman. (Baca juga: 11 Brigade Basmi Kaum Murtad, Khalid Bin Walid Pimpin Brigade Pertama)
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
اَفَحَسِبۡتُمۡ اَنَّمَا خَلَقۡنٰكُمۡ عَبَثًا وَّاَنَّكُمۡ اِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُوۡنَ
Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

(QS. Al-Mu’minun:115)
cover bottom ayah
preload video