Kisah Abdullah bin Qais, Laksamana Pertama dalam Sejarah Islam
Kamis, 24 Oktober 2024 - 13:02 WIB
loading...
Dia sudah melakukan 50 kali serangan selama di laut antara musim dingin dengan musim panas tanpa ada sebuah kapal pun dari pihaknya yang tenggelam atau rusak. Ilustrasi/AI
A
A
A
PADA mulanya Mu'awiyah hendak membebaskan Siprus dengan jalan damai, yaitu ketika pihak Romawi sedang sibuk-sibuknya menghadapi malapetaka di Mesir dan di Afrika . Kala itu, Muawiyah bersama Abdullah bin Qais al-Harisi berencana membebaskan Siprus dengan harapan tidak sampai terjadi pertempuran.
Asumsi ini tidak berlebihan sebab pihak Muslim dan Siprus sudah ada perjanjian damai. Tak dinyana Siprus melanggar perjanjian karena dibantu Romawi.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan armada Syam dan Mesir berangkat ke Siprus, yang kemudian mereka taklukkan dengan jalan kekerasan, dengan segala akibatnya sampai terjadi penawanan dan pembunuhan penduduk.
Dalam pertempuran itu Abdullah bin Qais dan Abdullah bin Sa'ad adalah dua orang laksamana kedua armada tersebut. Ini adalah serangan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya tanpa perlawanan.
Baca juga: 10 Prestasi Muawiyah, Salah Satunya Membangun Armada Laut Pertama dalam Islam
Abdullah bin Qais memang sudah cukup mahir memimpin pertempuran di laut. Dia sudah melakukan 50 kali serangan selama di laut antara musim dingin dengan musim panas tanpa ada sebuah kapal pun dari pihaknya yang tenggelam atau rusak.
Konon Abdullah bin Qais "Berdoa kepada Allah agar anggota-anggota pasukannya diberi keselamatan, dan jangan ada di antara mereka yang mendapat musibah."
Doanya ini terkabul. Tetapi kemudian tiba saatnya Allah membuat dia sendiri yang mengalami musibah itu. Dengan sebuah perahu perintis ia pergi ke Marga di Erzerum yang banyak dihuni oleh pengemis-pengemis. Ia memberikan sedekah kepada mereka. Seorang perempuan dari pengemis itu kembali pulang ke desanya dan berkata kepada orang-orang di sana:
"Kalian mencari Abdullah bin Qais?"
Mereka menjawab dengan pertanyaan: "Di mana dia?"
Asumsi ini tidak berlebihan sebab pihak Muslim dan Siprus sudah ada perjanjian damai. Tak dinyana Siprus melanggar perjanjian karena dibantu Romawi.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan armada Syam dan Mesir berangkat ke Siprus, yang kemudian mereka taklukkan dengan jalan kekerasan, dengan segala akibatnya sampai terjadi penawanan dan pembunuhan penduduk.
Dalam pertempuran itu Abdullah bin Qais dan Abdullah bin Sa'ad adalah dua orang laksamana kedua armada tersebut. Ini adalah serangan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya tanpa perlawanan.
Baca juga: 10 Prestasi Muawiyah, Salah Satunya Membangun Armada Laut Pertama dalam Islam
Abdullah bin Qais memang sudah cukup mahir memimpin pertempuran di laut. Dia sudah melakukan 50 kali serangan selama di laut antara musim dingin dengan musim panas tanpa ada sebuah kapal pun dari pihaknya yang tenggelam atau rusak.
Konon Abdullah bin Qais "Berdoa kepada Allah agar anggota-anggota pasukannya diberi keselamatan, dan jangan ada di antara mereka yang mendapat musibah."
Doanya ini terkabul. Tetapi kemudian tiba saatnya Allah membuat dia sendiri yang mengalami musibah itu. Dengan sebuah perahu perintis ia pergi ke Marga di Erzerum yang banyak dihuni oleh pengemis-pengemis. Ia memberikan sedekah kepada mereka. Seorang perempuan dari pengemis itu kembali pulang ke desanya dan berkata kepada orang-orang di sana:
"Kalian mencari Abdullah bin Qais?"
Mereka menjawab dengan pertanyaan: "Di mana dia?"
Lihat Juga :