Kisah Sufi Amir Sulan: Putra Raja Bernama Dhat
Minggu, 02 Januari 2022 - 07:07 WIB
loading...
Kisah ini dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syaikh dari Bokhara, yang mengajar di Istanbul dan meninggal pada tahun 1429. (Foto/Ilustrasi : Ist)
A
A
A
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menukil kisah yang muncul dalam sebuah tulisan darwis pengembara. Tulisan ini dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syaikh dari Bokhara, yang mengajar di Istanbul dan meninggal pada tahun 1429.
Tema hampir mirip terdapat pula pada "Himne Jiwa" (Hymn of the Soul) dalam Perjanjian Baru Apokripa. Filsuf Ibnu Sina (wafat 1038), di Barat dikenal sebagai Avicenna, telah menguraikan bahan yang sama dalam alegorinya tentang Keterasingan Jiwa, atau juga, Puisi Jiwa. Berikut kisahnya:
Baca juga: Kisah Sufi Ajaran Guru Hamadani: Minuman Surgawi Bernama Teh
Konon, di sebuah negeri di mana semua orang bagaikan raja, ada sebuah keluarga yang hidup berkecukupan dan dikelilingi oleh hal-hal yang tidak bisa diucapkan oleh lidah manusia dalam istilah-istilah yang diketahuinya.
Negeri Sharq itu tampak memuaskan bagi pangeran muda, Dhat, sampai suatu hari orang tuanya berkata: "Sayang, Nak, sudah kebiasaan di negeri kita ini bahwa setiap pangeran raja, yang telah mencapai usia tertentu, harus pergi berkelana menempuh ujian."
"Hal ini dimaksudkan agar seorang pangeran bisa layak mewarisi kerajaan ini; supaya dalam nama baik dan kenyataan, seorang anak raja akan mencapai dengan waspada penuh dan kerja keras suatu derajat kelaki-lakian yang tak dapat diperoleh dengan cara lain."
Demikianlah kebiasaan itu sejak semula, dan akan terus begitu sampai akhir.
Karena itulah, Pangeran Dhat pun bersiap melakukan perjalanannya, dan keluarganya pun membekalinya dengan makanan terbaik yang bisa mereka temukan; suatu makanan khusus yang bisa menguatkannya selama dalam perantauan, tetapi dalam jangka pendek jumlahnya tak terbatas.
Mereka juga memberinya bekal-bekal lain, yang tak mungkin disebutkan, untuk melindunginya, apabila dipergunakan dengan tepat.
Pemuda itu harus mengadakan perjalanan ke sebuah negara bernama Misr, dengan menyamar. Oleh karena itu, ia diberi petunjuk-petunjuk untuk pengembaraannya itu, dan berpakaian sesuai dengan samarannya, yang sama sekali tak menunjukkan bahwa ia putra seorang raja. Tugasnya adalah membawa pulang batu permata tertentu dari Misr, yang dijagai oleh raksasa yang menakutkan.
Tema hampir mirip terdapat pula pada "Himne Jiwa" (Hymn of the Soul) dalam Perjanjian Baru Apokripa. Filsuf Ibnu Sina (wafat 1038), di Barat dikenal sebagai Avicenna, telah menguraikan bahan yang sama dalam alegorinya tentang Keterasingan Jiwa, atau juga, Puisi Jiwa. Berikut kisahnya:
Baca juga: Kisah Sufi Ajaran Guru Hamadani: Minuman Surgawi Bernama Teh
Konon, di sebuah negeri di mana semua orang bagaikan raja, ada sebuah keluarga yang hidup berkecukupan dan dikelilingi oleh hal-hal yang tidak bisa diucapkan oleh lidah manusia dalam istilah-istilah yang diketahuinya.
Negeri Sharq itu tampak memuaskan bagi pangeran muda, Dhat, sampai suatu hari orang tuanya berkata: "Sayang, Nak, sudah kebiasaan di negeri kita ini bahwa setiap pangeran raja, yang telah mencapai usia tertentu, harus pergi berkelana menempuh ujian."
"Hal ini dimaksudkan agar seorang pangeran bisa layak mewarisi kerajaan ini; supaya dalam nama baik dan kenyataan, seorang anak raja akan mencapai dengan waspada penuh dan kerja keras suatu derajat kelaki-lakian yang tak dapat diperoleh dengan cara lain."
Demikianlah kebiasaan itu sejak semula, dan akan terus begitu sampai akhir.
Karena itulah, Pangeran Dhat pun bersiap melakukan perjalanannya, dan keluarganya pun membekalinya dengan makanan terbaik yang bisa mereka temukan; suatu makanan khusus yang bisa menguatkannya selama dalam perantauan, tetapi dalam jangka pendek jumlahnya tak terbatas.
Mereka juga memberinya bekal-bekal lain, yang tak mungkin disebutkan, untuk melindunginya, apabila dipergunakan dengan tepat.
Pemuda itu harus mengadakan perjalanan ke sebuah negara bernama Misr, dengan menyamar. Oleh karena itu, ia diberi petunjuk-petunjuk untuk pengembaraannya itu, dan berpakaian sesuai dengan samarannya, yang sama sekali tak menunjukkan bahwa ia putra seorang raja. Tugasnya adalah membawa pulang batu permata tertentu dari Misr, yang dijagai oleh raksasa yang menakutkan.
Lihat Juga :