Kisah Sufi Amir Sulan: Putra Raja Bernama Dhat

loading...
Kisah Sufi Amir Sulan: Putra Raja Bernama Dhat
Kisah ini dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syaikh dari Bokhara, yang mengajar di Istanbul dan meninggal pada tahun 1429. (Foto/Ilustrasi : Ist)
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menukil kisah yang muncul dalam sebuah tulisan darwis pengembara. Tulisan ini dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syaikh dari Bokhara, yang mengajar di Istanbul dan meninggal pada tahun 1429.

Tema hampir mirip terdapat pula pada "Himne Jiwa" (Hymn of the Soul) dalam Perjanjian Baru Apokripa. Filsuf Ibnu Sina (wafat 1038), di Barat dikenal sebagai Avicenna, telah menguraikan bahan yang sama dalam alegorinya tentang Keterasingan Jiwa, atau juga, Puisi Jiwa. Berikut kisahnya:

Baca juga: Kisah Sufi Ajaran Guru Hamadani: Minuman Surgawi Bernama Teh

Konon, di sebuah negeri di mana semua orang bagaikan raja, ada sebuah keluarga yang hidup berkecukupan dan dikelilingi oleh hal-hal yang tidak bisa diucapkan oleh lidah manusia dalam istilah-istilah yang diketahuinya.

Negeri Sharq itu tampak memuaskan bagi pangeran muda, Dhat, sampai suatu hari orang tuanya berkata: "Sayang, Nak, sudah kebiasaan di negeri kita ini bahwa setiap pangeran raja, yang telah mencapai usia tertentu, harus pergi berkelana menempuh ujian."

"Hal ini dimaksudkan agar seorang pangeran bisa layak mewarisi kerajaan ini; supaya dalam nama baik dan kenyataan, seorang anak raja akan mencapai dengan waspada penuh dan kerja keras suatu derajat kelaki-lakian yang tak dapat diperoleh dengan cara lain."

Demikianlah kebiasaan itu sejak semula, dan akan terus begitu sampai akhir.

Karena itulah, Pangeran Dhat pun bersiap melakukan perjalanannya, dan keluarganya pun membekalinya dengan makanan terbaik yang bisa mereka temukan; suatu makanan khusus yang bisa menguatkannya selama dalam perantauan, tetapi dalam jangka pendek jumlahnya tak terbatas.

Mereka juga memberinya bekal-bekal lain, yang tak mungkin disebutkan, untuk melindunginya, apabila dipergunakan dengan tepat.

Pemuda itu harus mengadakan perjalanan ke sebuah negara bernama Misr, dengan menyamar. Oleh karena itu, ia diberi petunjuk-petunjuk untuk pengembaraannya itu, dan berpakaian sesuai dengan samarannya, yang sama sekali tak menunjukkan bahwa ia putra seorang raja. Tugasnya adalah membawa pulang batu permata tertentu dari Misr, yang dijagai oleh raksasa yang menakutkan.

Ketika para pengawalnya meninggal, tinggallah Dhat sendirian, namun tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang lain yang mempunyai tujuan sama dengannya, dan mereka berdua pun bersama-sama mempertahankan ingatan tentang asal-usul mereka yang mulia. Tetapi, karena pengaruh udara dan makanan di negeri itu, rasa kantuk pun mulai menyerang keduanya, dan Dhat pun melupakan tujuannya.

Bertahun-tahun lamanya pangeran itu hidup di Misr, melakukan pekerjaan rendah demi mencari nafkah tampaknya, ia tak lagi sadar tentang tugas yang harus dikerjakannya.

Dengan suatu cara yang lazim bagi mereka namun tak diketahui orang lain, orang-orang Sharq bisa mengetahui keadaan menakutkan yang dialami Dhat, dan mereka itu pun bekerja sama untuk membebaskannya dari 'tidur' dan memampukannya terus bertekun mencapai tujuannya.

Baca juga: Kisah Sufi Abdur-Rahtuan Jami: Si Bebal di Kota Agung

Sebuah pesan pun disampaikan secara gaib kepada Sang Pangeran Muda, isinya, "Bangun! Sebab kau ini putra seorang raja, disuruh mengambil batu permata tertentu, dan kepada kami kau harus kembali."

Pesan tersebut membangunkan Sang Pangeran, yang segera pula melanjutkan perjalanannya. Ketika ia telah berhadapan dengan Penjaga Berlian, dipergunakannya suara-suara gaib untuk menidurkannya; dan putra raja pun berhasil mengambil dari penjagaan Si Raksasa, batu mutiara yang tak ternilai harganya itu.

Kemudian, Dhat, yang dipimpin oleh Suara, berganti pakaian dan menelusuri kembali langkahnya sampai ke negeri Sharq.

Dalam waktu yang sangat singkat, Dhat pun telah mengenakan lagi jubahnya yang lama, dan kembali ke negeri ayahnya, rumahnya. Tetapi kali ini, lewat pengalaman-pengalamannya, ia bisa menyaksikan bahwa negeri itu kini lebih megah daripada sebelumnya, suatu tempat yang aman baginya; lalu, ia menyadari bahwa kerajaan ayahnya itu merupakan tempat yang diketahui secara samar-samar oleh orang-orang Misr sebagai Salamat: yang mereka artikan Kepatuhan, namun yang Sang Pangeran kini sadari maknanya adalah kedamaian.

Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.

Baca juga: Kisah Sufi Tarekat Asaaseen: Orang Berjalan di Atas Air
(mhy)
preload video