Ilmuwan yang Lahir di Masa Daulah Mamalik: Dari Ibnu Khaldun sampai Ibnu Taimiyah
Kamis, 21 November 2024 - 16:20 WIB
loading...
A
A
A
Pada masa ini juga muncul seorang dekter hewan yang bernama Abdul Al-Ma’min Dimyati. (w.1306) dengan kitabnya yang berjudul "Fadhl Al-Khail" (Keunggulan Pasukan Berkuda).
Dalam bidang farmasi dikenal seorang ahli yang bernama Al-Kuhin dan Al-Attar dengan bukunya yang berjudul "Minhaj Al-Dukhan wa Dutswa Al-Ayan".
Dalam bidang matematika dikenal dengan nama Abu Al-Faraj Al-Tabari (1226-1286).
Dalam bidang agama, pada saat ulama Baghdad kehilangan semangat, akibat kehancuran Baghdad, pintu berijtihad seolah-olah tertutup. Akhirnya mereka banyak yang menggeluti ilmu tasawuf dan tarikat.
Sementara itu Daulah Mamalik di Mesir muncul seorang ulama besar Ibnu Taimiyah Al-Hambaly (1332) yang berusaha untuk mengubah pola pikir umat Islam yang bersifat tradisional pada masa itu kepada pola pikir yang lebih rasional yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits serta selalu memupuk semangat untuk melakukan ijtihad.
Hal yang dilakukan Ibn Taimiyah tersebut dapat dipahami karena masa itu banyak ulama yang beraliran Sunni mereka kuat berpegang pada tarikat dan tasawuf dan telah menjadi paham bagi kebanyakan dari pada mereka bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan kita tinggal hanya mengkaji apa yang telah dibahas ulama terdahulu.
Baca juga: Kisah Masjid Al-Zhahir Kairo Baybars yang Sempat Jadi Rumah Jagal dan Pabrik Sabun Selama 225 Tahun
Pola pikir seperti inilah yang hendak diperbaharui oleh Imam Ibnu Taimiyah.
Ibnu Taimiyah tidak sendirian, dia ditemani oleh kawan-kawannya, seperti ulama Jalaluddin Al-Suyuti, dia adalah seorang ulama yang produktif menulis, baik di bidang tafsir maupun sejarah. Di bidang tafsir dia menulis buku yang berjudul “Al-Itqan fi Ulumil Qur’an”.
Ditambah lagi seorang ulama terkenal di bidang Hadits Ibnu Hajar Al-Asqalani (1372-1449) kepala Qadhi di Cairo dengan bukunya, antara lain, "Tahzib al-Tahzib" (dua belas jilid) dan buku yang berjudul "Al-Itsabah" (empat jilid).
Ulama lain yang terkenal dalam bidang sastra tercatat Safaruddin Muhammad Busiri dengan kitabnya yang berjudul “Burdah”.
Dalam bidang farmasi dikenal seorang ahli yang bernama Al-Kuhin dan Al-Attar dengan bukunya yang berjudul "Minhaj Al-Dukhan wa Dutswa Al-Ayan".
Dalam bidang matematika dikenal dengan nama Abu Al-Faraj Al-Tabari (1226-1286).
Dalam bidang agama, pada saat ulama Baghdad kehilangan semangat, akibat kehancuran Baghdad, pintu berijtihad seolah-olah tertutup. Akhirnya mereka banyak yang menggeluti ilmu tasawuf dan tarikat.
Sementara itu Daulah Mamalik di Mesir muncul seorang ulama besar Ibnu Taimiyah Al-Hambaly (1332) yang berusaha untuk mengubah pola pikir umat Islam yang bersifat tradisional pada masa itu kepada pola pikir yang lebih rasional yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits serta selalu memupuk semangat untuk melakukan ijtihad.
Hal yang dilakukan Ibn Taimiyah tersebut dapat dipahami karena masa itu banyak ulama yang beraliran Sunni mereka kuat berpegang pada tarikat dan tasawuf dan telah menjadi paham bagi kebanyakan dari pada mereka bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan kita tinggal hanya mengkaji apa yang telah dibahas ulama terdahulu.
Baca juga: Kisah Masjid Al-Zhahir Kairo Baybars yang Sempat Jadi Rumah Jagal dan Pabrik Sabun Selama 225 Tahun
Pola pikir seperti inilah yang hendak diperbaharui oleh Imam Ibnu Taimiyah.
Ibnu Taimiyah tidak sendirian, dia ditemani oleh kawan-kawannya, seperti ulama Jalaluddin Al-Suyuti, dia adalah seorang ulama yang produktif menulis, baik di bidang tafsir maupun sejarah. Di bidang tafsir dia menulis buku yang berjudul “Al-Itqan fi Ulumil Qur’an”.
Ditambah lagi seorang ulama terkenal di bidang Hadits Ibnu Hajar Al-Asqalani (1372-1449) kepala Qadhi di Cairo dengan bukunya, antara lain, "Tahzib al-Tahzib" (dua belas jilid) dan buku yang berjudul "Al-Itsabah" (empat jilid).
Ulama lain yang terkenal dalam bidang sastra tercatat Safaruddin Muhammad Busiri dengan kitabnya yang berjudul “Burdah”.
(mhy)
Lihat Juga :