Kisah Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk: Masa Kejayaan Turki Utsmani
loading...
A
A
A
Sementara dari Roma tidak datang bantuan karena terdapat masalah mendasar mengenai paham keagamaan antara Roma Katolik di bawah pimpinan Paus yang berpusat di Roma dengan paham Ortodok yang berpusat di Konstantinopel sendiri yang mengakibatkan tidak akan mungkin lagi menyatukan kedua gereja tersebut.
Hal inilah yang membuat Paus di Roma tidak merasa terpanggil membantu Konstantinopel.
Sultan Muhammad II melakukan penyerangan ke Konstantinopel melalui Selat Borporus, sementara Selat itu dipagari dengan rantai-rantai dan ranjau oleh pihak Kaisar, sehingga tidak bisa dilalui oleh kapal-kapal.
Oleh karena itu, Sultan memerintahkan pemindahan kapal-kapal melalui daratan. Langkah yang ditempuh Sultan tampaknya sebagai taktik yang bersifat terror mental karena setelah siang hari penduduk Konstantinopel dapat melihat musuh dari atas bentengnya bahwa ranjau mereka dapat dilewati tentara Islam.
Akhirnya pada tanggal 29 Mei 1453 M, di Subuh hari penyerbuan terakhir dilakukan. Meriam berhasil membobol dinding tembok sehingga mereka dapat masuk menyerbu ke dalam. Kaisar terbunuh, konstantinopel jatuh, tentara Islam menang.
Dengan jatuhnya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Byzantium, maka akan lebih mudahlah arus ekspansi Daulah Turki Usmani ke Benua Eropa.
Maka berakhirlah penyerbuan yang sangat dramatis dan mendebarkan tersebut sehingga Sultan Muhammad II berharak mendapat gelar “al-Fatih” artinya Sang Penakluk.
Adapun yang menjadi faktor keberhasilan Sultan Muhammad I menaklukkan Konstantinopel ditentukan oleh perencanaan yang matang, strategis yang jitu, penuh perhitungan dan yang tidak kalah pentingnya karena dia membangun benteng pertahanan di dekatnya sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan persenjataan. Dengan cara itu tidak akan terjadi kelangkaan peralatan dan perbekalan.
Kemudian secara eksternal Kaisar Romawi tidak mendapat dukungan lagi dari raja-raja Eropa dan Paus yang berkedudukan di Roma dalam melawan Sultan Muhammad Al-Fatih, sehingga faktor ini menjadi kunci keberhasilan Sultan Muhammad II melawan kaisar.
Tindakan strategis yang dilakukan Sultan Muhammad II setelah menaklukkan Konstantinopel adalah memindahkan pusat pemerintahan atau ibu kota Daulah Turki Utsmani dari Adrianopel ke konstinopel setelah mengadakan perbaikan-perbaikan yang rusak akibat perang.
Perpindahan pusat kekuasaan kali ini merupakan yang ketiga kali dalam sejarah Daulah Turki Utsmani.
Masa Sultan Utsman I berada di Asia Kecil pindah ke Broessa pada masa Sultan Orkhan, kemudian pindah ke Adrianopel pada masa Sultan Murad I dan sekarang pindah ke Konstantinopel pada masa Muhammad Al-Fatih ini.
Kota ini letaknya strategis dan kelak berganti nama dengan Istambul.
Dari pusat kekuasaan Turki Utsmani ini, Sultan Muhammad II mengatur rencana besarnya menaklukkan Eropa. Maka pada tahun 1458-1460 M dia menaklukkan kerajaan Serbia, Bosnia dan Morea untuk kedua kalinya dan kali ini mereka diwajibkan Sultan membayar upeti kepada Daulah Turki Utsmani.
Jika selama ini perhatian Sultan-Sultan hanya tertuju pada bidang keamanan dan ekspansi wilayah saja, maka pada masa Muhammad II ini mulai ada perhatian pada bidang lain, yaitu Gereja Aya Sofia dimodifikasi dan disulap menjadi Masjid.
Kemudian sebuah Masjid baru yang lain dibangunnya pula, namanya “Masjid Jami’ Muhammad Al-Fatih” atas bantuan seorang arsitektur Yunani yang bernama Christodulos.
Dia juga membangun sekolah-sekolah, pemandian, dapur umum, rumah sakit dan panti-panti sosial.
Hal inilah yang membuat Paus di Roma tidak merasa terpanggil membantu Konstantinopel.
Sultan Muhammad II melakukan penyerangan ke Konstantinopel melalui Selat Borporus, sementara Selat itu dipagari dengan rantai-rantai dan ranjau oleh pihak Kaisar, sehingga tidak bisa dilalui oleh kapal-kapal.
Oleh karena itu, Sultan memerintahkan pemindahan kapal-kapal melalui daratan. Langkah yang ditempuh Sultan tampaknya sebagai taktik yang bersifat terror mental karena setelah siang hari penduduk Konstantinopel dapat melihat musuh dari atas bentengnya bahwa ranjau mereka dapat dilewati tentara Islam.
Akhirnya pada tanggal 29 Mei 1453 M, di Subuh hari penyerbuan terakhir dilakukan. Meriam berhasil membobol dinding tembok sehingga mereka dapat masuk menyerbu ke dalam. Kaisar terbunuh, konstantinopel jatuh, tentara Islam menang.
Dengan jatuhnya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Byzantium, maka akan lebih mudahlah arus ekspansi Daulah Turki Usmani ke Benua Eropa.
Maka berakhirlah penyerbuan yang sangat dramatis dan mendebarkan tersebut sehingga Sultan Muhammad II berharak mendapat gelar “al-Fatih” artinya Sang Penakluk.
Adapun yang menjadi faktor keberhasilan Sultan Muhammad I menaklukkan Konstantinopel ditentukan oleh perencanaan yang matang, strategis yang jitu, penuh perhitungan dan yang tidak kalah pentingnya karena dia membangun benteng pertahanan di dekatnya sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan persenjataan. Dengan cara itu tidak akan terjadi kelangkaan peralatan dan perbekalan.
Kemudian secara eksternal Kaisar Romawi tidak mendapat dukungan lagi dari raja-raja Eropa dan Paus yang berkedudukan di Roma dalam melawan Sultan Muhammad Al-Fatih, sehingga faktor ini menjadi kunci keberhasilan Sultan Muhammad II melawan kaisar.
Tindakan strategis yang dilakukan Sultan Muhammad II setelah menaklukkan Konstantinopel adalah memindahkan pusat pemerintahan atau ibu kota Daulah Turki Utsmani dari Adrianopel ke konstinopel setelah mengadakan perbaikan-perbaikan yang rusak akibat perang.
Perpindahan pusat kekuasaan kali ini merupakan yang ketiga kali dalam sejarah Daulah Turki Utsmani.
Masa Sultan Utsman I berada di Asia Kecil pindah ke Broessa pada masa Sultan Orkhan, kemudian pindah ke Adrianopel pada masa Sultan Murad I dan sekarang pindah ke Konstantinopel pada masa Muhammad Al-Fatih ini.
Kota ini letaknya strategis dan kelak berganti nama dengan Istambul.
Dari pusat kekuasaan Turki Utsmani ini, Sultan Muhammad II mengatur rencana besarnya menaklukkan Eropa. Maka pada tahun 1458-1460 M dia menaklukkan kerajaan Serbia, Bosnia dan Morea untuk kedua kalinya dan kali ini mereka diwajibkan Sultan membayar upeti kepada Daulah Turki Utsmani.
Jika selama ini perhatian Sultan-Sultan hanya tertuju pada bidang keamanan dan ekspansi wilayah saja, maka pada masa Muhammad II ini mulai ada perhatian pada bidang lain, yaitu Gereja Aya Sofia dimodifikasi dan disulap menjadi Masjid.
Kemudian sebuah Masjid baru yang lain dibangunnya pula, namanya “Masjid Jami’ Muhammad Al-Fatih” atas bantuan seorang arsitektur Yunani yang bernama Christodulos.
Dia juga membangun sekolah-sekolah, pemandian, dapur umum, rumah sakit dan panti-panti sosial.