Kisah Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk: Masa Kejayaan Turki Utsmani
Minggu, 01 Desember 2024 - 19:07 WIB
loading...
A
A
A
Adapun yang menjadi faktor keberhasilan Sultan Muhammad I menaklukkan Konstantinopel ditentukan oleh perencanaan yang matang, strategis yang jitu, penuh perhitungan dan yang tidak kalah pentingnya karena dia membangun benteng pertahanan di dekatnya sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan persenjataan. Dengan cara itu tidak akan terjadi kelangkaan peralatan dan perbekalan.
Kemudian secara eksternal Kaisar Romawi tidak mendapat dukungan lagi dari raja-raja Eropa dan Paus yang berkedudukan di Roma dalam melawan Sultan Muhammad Al-Fatih, sehingga faktor ini menjadi kunci keberhasilan Sultan Muhammad II melawan kaisar.
Tindakan strategis yang dilakukan Sultan Muhammad II setelah menaklukkan Konstantinopel adalah memindahkan pusat pemerintahan atau ibu kota Daulah Turki Utsmani dari Adrianopel ke konstinopel setelah mengadakan perbaikan-perbaikan yang rusak akibat perang.
Baca juga: Hagia Sophia Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih
Perpindahan pusat kekuasaan kali ini merupakan yang ketiga kali dalam sejarah Daulah Turki Utsmani.
Masa Sultan Utsman I berada di Asia Kecil pindah ke Broessa pada masa Sultan Orkhan, kemudian pindah ke Adrianopel pada masa Sultan Murad I dan sekarang pindah ke Konstantinopel pada masa Muhammad Al-Fatih ini.
Kota ini letaknya strategis dan kelak berganti nama dengan Istambul.
Dari pusat kekuasaan Turki Utsmani ini, Sultan Muhammad II mengatur rencana besarnya menaklukkan Eropa. Maka pada tahun 1458-1460 M dia menaklukkan kerajaan Serbia, Bosnia dan Morea untuk kedua kalinya dan kali ini mereka diwajibkan Sultan membayar upeti kepada Daulah Turki Utsmani.
Jika selama ini perhatian Sultan-Sultan hanya tertuju pada bidang keamanan dan ekspansi wilayah saja, maka pada masa Muhammad II ini mulai ada perhatian pada bidang lain, yaitu Gereja Aya Sofia dimodifikasi dan disulap menjadi Masjid.
Baca juga: Erdogan: Kunjungi Makam Sultan Muhammad Al Fatih, Pemilik Sesungguhnya
Kemudian sebuah Masjid baru yang lain dibangunnya pula, namanya “Masjid Jami’ Muhammad Al-Fatih” atas bantuan seorang arsitektur Yunani yang bernama Christodulos.
Dia juga membangun sekolah-sekolah, pemandian, dapur umum, rumah sakit dan panti-panti sosial.
Selain itu, dia juga membangun sebuah masjid di dekat makam Abu Ayyub Al-Anshari yang gugur dalam penyerangan pertama ke Konstantinopel pada tahun 678 M.
Akhirnya, dalam usia 51 tahun Muhammad Al-Fatih pun meninggal dunia dan dia dimakamkan di dekat masjid megah yang dibangunnya di Konstantinopel atau Istambul, dia digantikan oleh anaknya Sultan Salim I (1512-1520 M).
Kemudian secara eksternal Kaisar Romawi tidak mendapat dukungan lagi dari raja-raja Eropa dan Paus yang berkedudukan di Roma dalam melawan Sultan Muhammad Al-Fatih, sehingga faktor ini menjadi kunci keberhasilan Sultan Muhammad II melawan kaisar.
Tindakan strategis yang dilakukan Sultan Muhammad II setelah menaklukkan Konstantinopel adalah memindahkan pusat pemerintahan atau ibu kota Daulah Turki Utsmani dari Adrianopel ke konstinopel setelah mengadakan perbaikan-perbaikan yang rusak akibat perang.
Baca juga: Hagia Sophia Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih
Perpindahan pusat kekuasaan kali ini merupakan yang ketiga kali dalam sejarah Daulah Turki Utsmani.
Masa Sultan Utsman I berada di Asia Kecil pindah ke Broessa pada masa Sultan Orkhan, kemudian pindah ke Adrianopel pada masa Sultan Murad I dan sekarang pindah ke Konstantinopel pada masa Muhammad Al-Fatih ini.
Kota ini letaknya strategis dan kelak berganti nama dengan Istambul.
Dari pusat kekuasaan Turki Utsmani ini, Sultan Muhammad II mengatur rencana besarnya menaklukkan Eropa. Maka pada tahun 1458-1460 M dia menaklukkan kerajaan Serbia, Bosnia dan Morea untuk kedua kalinya dan kali ini mereka diwajibkan Sultan membayar upeti kepada Daulah Turki Utsmani.
Jika selama ini perhatian Sultan-Sultan hanya tertuju pada bidang keamanan dan ekspansi wilayah saja, maka pada masa Muhammad II ini mulai ada perhatian pada bidang lain, yaitu Gereja Aya Sofia dimodifikasi dan disulap menjadi Masjid.
Baca juga: Erdogan: Kunjungi Makam Sultan Muhammad Al Fatih, Pemilik Sesungguhnya
Kemudian sebuah Masjid baru yang lain dibangunnya pula, namanya “Masjid Jami’ Muhammad Al-Fatih” atas bantuan seorang arsitektur Yunani yang bernama Christodulos.
Dia juga membangun sekolah-sekolah, pemandian, dapur umum, rumah sakit dan panti-panti sosial.
Selain itu, dia juga membangun sebuah masjid di dekat makam Abu Ayyub Al-Anshari yang gugur dalam penyerangan pertama ke Konstantinopel pada tahun 678 M.
Akhirnya, dalam usia 51 tahun Muhammad Al-Fatih pun meninggal dunia dan dia dimakamkan di dekat masjid megah yang dibangunnya di Konstantinopel atau Istambul, dia digantikan oleh anaknya Sultan Salim I (1512-1520 M).
(mhy)
Lihat Juga :