Kisah Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk: Masa Kejayaan Turki Utsmani
Minggu, 01 Desember 2024 - 19:07 WIB
loading...
A
A
A
Pembangunan benteng itu sudah diperhitungkan secara matang dan terencana karena pengepungan Konstantinopel akan menyedot tenaga yang besar, rencana yang matang, persenjataan yang lengkap dan tidak boleh gegabah.
Untuk itu sebelum penyerangan dilakukan, Sultan bersama-sama dengan para pengiringnya mengelilingi parit pertahanan Konstantinopel untuk menganalisa segi kekuatan dan segi kelemahan lawan untuk mencarikan cara yang tepat mengatasinya.
Pada sisi lain, Kaisar untuk kedua kalinya berusaha untuk membujuk Sultan agar dapat mengurungkan niatnya menyerang Konstantinopel, tetapi Sultan menjawab; “Kalau Kaisar tidak suka berperang lebih baik menyerahkan Konstantinopel saja”.
Baca juga: Kisah Vlad Dracula Melawan Sultan Muhammad Al Fatih
Jika Kaisar mau menyerahkan Konstantinopel, maka Sultan akan menjamin keselamatannya. Akan tetapi tawaran tersebut tidak dapat diterima Kaisar. Kemudian Kaisar mencari jalan lain yaitu berusaha untuk meminta bantuan kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa dan permintaan yang sama juga disampaikan kepada Paus di Roma Italia agar dapat membantu Kaisar menyerang Sultan. Akan tetapi bantuan yang diharapkan tersebut tidak kunjung datang.
Adapun yang menjadi penyebab tidak datangnya bantuan kepada Kaisar karena sebagian dari kerajaan-kerajaan Eropa itu sudah terlanjur menandatangani perjanjian dengan Sultan agar tidak saling menyerang.
Sementara dari Roma tidak datang bantuan karena terdapat masalah mendasar mengenai paham keagamaan antara Roma Katolik di bawah pimpinan Paus yang berpusat di Roma dengan paham Ortodok yang berpusat di Konstantinopel sendiri yang mengakibatkan tidak akan mungkin lagi menyatukan kedua gereja tersebut.
Hal inilah yang membuat Paus di Roma tidak merasa terpanggil membantu Konstantinopel.
Sultan Muhammad II melakukan penyerangan ke Konstantinopel melalui Selat Borporus, sementara Selat itu dipagari dengan rantai-rantai dan ranjau oleh pihak Kaisar, sehingga tidak bisa dilalui oleh kapal-kapal.
Oleh karena itu, Sultan memerintahkan pemindahan kapal-kapal melalui daratan. Langkah yang ditempuh Sultan tampaknya sebagai taktik yang bersifat terror mental karena setelah siang hari penduduk Konstantinopel dapat melihat musuh dari atas bentengnya bahwa ranjau mereka dapat dilewati tentara Islam.
Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama
Akhirnya pada tanggal 29 Mei 1453 M, di Subuh hari penyerbuan terakhir dilakukan. Meriam berhasil membobol dinding tembok sehingga mereka dapat masuk menyerbu ke dalam. Kaisar terbunuh, konstantinopel jatuh, tentara Islam menang.
Dengan jatuhnya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Byzantium, maka akan lebih mudahlah arus ekspansi Daulah Turki Usmani ke Benua Eropa.
Maka berakhirlah penyerbuan yang sangat dramatis dan mendebarkan tersebut sehingga Sultan Muhammad II berharak mendapat gelar “al-Fatih” artinya Sang Penakluk.
Untuk itu sebelum penyerangan dilakukan, Sultan bersama-sama dengan para pengiringnya mengelilingi parit pertahanan Konstantinopel untuk menganalisa segi kekuatan dan segi kelemahan lawan untuk mencarikan cara yang tepat mengatasinya.
Pada sisi lain, Kaisar untuk kedua kalinya berusaha untuk membujuk Sultan agar dapat mengurungkan niatnya menyerang Konstantinopel, tetapi Sultan menjawab; “Kalau Kaisar tidak suka berperang lebih baik menyerahkan Konstantinopel saja”.
Baca juga: Kisah Vlad Dracula Melawan Sultan Muhammad Al Fatih
Jika Kaisar mau menyerahkan Konstantinopel, maka Sultan akan menjamin keselamatannya. Akan tetapi tawaran tersebut tidak dapat diterima Kaisar. Kemudian Kaisar mencari jalan lain yaitu berusaha untuk meminta bantuan kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa dan permintaan yang sama juga disampaikan kepada Paus di Roma Italia agar dapat membantu Kaisar menyerang Sultan. Akan tetapi bantuan yang diharapkan tersebut tidak kunjung datang.
Adapun yang menjadi penyebab tidak datangnya bantuan kepada Kaisar karena sebagian dari kerajaan-kerajaan Eropa itu sudah terlanjur menandatangani perjanjian dengan Sultan agar tidak saling menyerang.
Sementara dari Roma tidak datang bantuan karena terdapat masalah mendasar mengenai paham keagamaan antara Roma Katolik di bawah pimpinan Paus yang berpusat di Roma dengan paham Ortodok yang berpusat di Konstantinopel sendiri yang mengakibatkan tidak akan mungkin lagi menyatukan kedua gereja tersebut.
Hal inilah yang membuat Paus di Roma tidak merasa terpanggil membantu Konstantinopel.
Sultan Muhammad II melakukan penyerangan ke Konstantinopel melalui Selat Borporus, sementara Selat itu dipagari dengan rantai-rantai dan ranjau oleh pihak Kaisar, sehingga tidak bisa dilalui oleh kapal-kapal.
Oleh karena itu, Sultan memerintahkan pemindahan kapal-kapal melalui daratan. Langkah yang ditempuh Sultan tampaknya sebagai taktik yang bersifat terror mental karena setelah siang hari penduduk Konstantinopel dapat melihat musuh dari atas bentengnya bahwa ranjau mereka dapat dilewati tentara Islam.
Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama
Akhirnya pada tanggal 29 Mei 1453 M, di Subuh hari penyerbuan terakhir dilakukan. Meriam berhasil membobol dinding tembok sehingga mereka dapat masuk menyerbu ke dalam. Kaisar terbunuh, konstantinopel jatuh, tentara Islam menang.
Dengan jatuhnya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Byzantium, maka akan lebih mudahlah arus ekspansi Daulah Turki Usmani ke Benua Eropa.
Maka berakhirlah penyerbuan yang sangat dramatis dan mendebarkan tersebut sehingga Sultan Muhammad II berharak mendapat gelar “al-Fatih” artinya Sang Penakluk.
Lihat Juga :