Benarkah Perbuatan Orang Kafir Sudah Tertulis di Lauh Mahfudz? Begini Penjelasannya
Kamis, 19 Desember 2024 - 13:10 WIB
loading...
Syaikh Al-Utsaimin. Foto: Ist
A
A
A
Apakah perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di Lauh Mahfudz? Apabila benar, maka bagaimana Allah menyiksa mereka?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab "Al-Qadha’ wal Qadar" mengatakan perbuatan orang-orang kafir telah tertulis sejak zaman azali, bahkan perbuatan semua manusia telah tertulis sejak dia berada di perut ibunya.
Hal ini sebagaimana tertuang dalam hadis sahih dari Abdullah bin Mas’ud ra . Beliau berkata, Rasulullah SAW bercerita kepada kami:
“Sesungguhnya salah seorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi mudhghah selama empat puluh hari pula. Lalu diutuslah kepadanya seorang malaikat, dan diperintahkan dengan empat kalimat untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, celaka atau bahagia”.
Baca juga: Mengenal Perbedaan Kafir Harbi dan Kafir Dzimmi
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan maka perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di sisi Allah SWT, telah diketahui oleh Allah Taala sejak zaman azali dan orang yang berbahagia telah diketahui pula oleh Allah sejak zaman azali.
Akan tetapi barangkali ada yang bertanya-tanya bagaimana mereka akan diazab padahal Allah telah menetapkan atas mereka akan hal itu sejak zaman azali?
Menurut Syaikh Al-Utsaimin, mereka disiksa karena hujjah telah sampai kepada mereka, jalan kebenaran telah dijelaskan, lalu para rasul telah diutus kepada mereka, kitab-kitabnyapun telah diuturunkan. Juga telah dijelaskan petunjuk dan kesesatan dan mereka diberi motivasi untuk menempuh jalan petunjuk, sekaligus menjauhi jalan yang sesat.
Mereka memiliki akal dan kehendak; mereka memiliki kemampuan untuk berikhtiar. "Oleh karena itu kita mendapati orang-orang kafir ini dan juga selain mereka, berusaha meraih kemaslahatan dunia dengan kehendak dan ikhtiarnya," jelas Syaikh Al-Utsaimin.
Kita tidak mendapati seorangpun dari mereka berupaya meraih sesuatu yang membahayakan di dunia atau meremehkan dan bermalas-malasan dalam perkara yang bermanfaat baginya, lalu ia mengatakan: ini telah tertulis sebagai jatahku.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab "Al-Qadha’ wal Qadar" mengatakan perbuatan orang-orang kafir telah tertulis sejak zaman azali, bahkan perbuatan semua manusia telah tertulis sejak dia berada di perut ibunya.
Hal ini sebagaimana tertuang dalam hadis sahih dari Abdullah bin Mas’ud ra . Beliau berkata, Rasulullah SAW bercerita kepada kami:
“Sesungguhnya salah seorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi mudhghah selama empat puluh hari pula. Lalu diutuslah kepadanya seorang malaikat, dan diperintahkan dengan empat kalimat untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, celaka atau bahagia”.
Baca juga: Mengenal Perbedaan Kafir Harbi dan Kafir Dzimmi
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan maka perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di sisi Allah SWT, telah diketahui oleh Allah Taala sejak zaman azali dan orang yang berbahagia telah diketahui pula oleh Allah sejak zaman azali.
Akan tetapi barangkali ada yang bertanya-tanya bagaimana mereka akan diazab padahal Allah telah menetapkan atas mereka akan hal itu sejak zaman azali?
Menurut Syaikh Al-Utsaimin, mereka disiksa karena hujjah telah sampai kepada mereka, jalan kebenaran telah dijelaskan, lalu para rasul telah diutus kepada mereka, kitab-kitabnyapun telah diuturunkan. Juga telah dijelaskan petunjuk dan kesesatan dan mereka diberi motivasi untuk menempuh jalan petunjuk, sekaligus menjauhi jalan yang sesat.
Mereka memiliki akal dan kehendak; mereka memiliki kemampuan untuk berikhtiar. "Oleh karena itu kita mendapati orang-orang kafir ini dan juga selain mereka, berusaha meraih kemaslahatan dunia dengan kehendak dan ikhtiarnya," jelas Syaikh Al-Utsaimin.
Kita tidak mendapati seorangpun dari mereka berupaya meraih sesuatu yang membahayakan di dunia atau meremehkan dan bermalas-malasan dalam perkara yang bermanfaat baginya, lalu ia mengatakan: ini telah tertulis sebagai jatahku.
Lihat Juga :