Bila Kau Mencintai Tuhan, Berusahalah Pula untuk Dicintai-Nya.
Selasa, 08 September 2020 - 06:29 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )
===
SEEKOR burung bertanya pada Hudhud , ""Selama hayat dikandung badan, cinta akan Yang Abadi bagiku amat mulia dan dapat kuterima, dan aku tak pernah berhenti mengingat dia. Aku telah bergaul dengan segala makhluk yang hidup; dan jauh dari perasaan terikat pada mereka, aku pun tak terikat dengan siapa saja." (Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf )
"Kedunguan cinta menguasai seluruh pikiranku, maka bagiku, cinta pun cukuplah. Tetapi cinta demikian tidaklah menguntungkan bagi siapa pun, dan kini saatnya telah tiba ketika aku harus menarik garis batas pada hidupku agar aku dapat mengambil piala cinta dari kekasihku; maka mata hatiku akan menjadi bercahaya karena keindahannya, dan tanganku akan menyentuh lehernya sebagai tanda permesraan." (Baca juga: Ibrahim Adham: Kubeli Kemiskinan Itu Seharga Kerajaan Dunia )
Hudhud menjawab, "Bukanlah dengan penyombongan yang penuh lagak demikian maka kita dapat menjadi tamu terhormat bagi Simurgh di Pegunungan Kaukasus."
"Janganlah begitu menyombongkan cinta yang menurut keyakinanmu kaurasakan terhadapnya, sebab cinta itu tak dikaruniakan pada setiap makhluk untuk memilikinya." (Baca juga: Gara-Gara Mentimun, Anak Syaikh Khirkani Dipenggal Orang )
"Perlu kiranya angin kemujuran menyingkapkan tabir rahasia itu, dan kemudian Simurgh akan menarik kau ke dekatnya dan kau pun akan duduk bersamanya dalam sanastrinya. Bila kau ingin sampai ke tempat suci itu, lebih dulu kau harus berusaha memiliki pengetahuan kerohanian; jika tidak, cintamu pada Simurgh akan berubah menjadi siksaan. Demi kebahagiaanmu yang sejati, maka perlu hendaknya Simurgh pun mencintai kau pula." (Baca juga: Dunia Sufi: Guru Palsu Bisa Jadi Tampak Seperti Asli )
Mimpi Seorang Pengikut Bayazid
Ketika Bayazid meninggalkan istana dunia ini, seorang pengikutnya melihatnya malam itu juga dalam mimpi dan menanyakan pada syaikh yang utama itu bagaimana ia dapat terbebas dari Munkar dan Nakir .
Sufi itu pun berkata padanya, "Ketika kedua malaikat ini menanyakan padaku tentang Al-Khalik, kukatakan pada mereka, 'Pertanyaan itu tak dapat dijawab dengan tepat, sebab jika kukatakan, "dia Tuhanku, begitu saja", ini hanya akan menyatakan keinginan dari pihakku semata; lebih baik bila kalian kembali kepada Tuhan dan mohon bertanya pada-Nya, bagaimana pendapat-Nya tentang diriku. (Baca juga: Kisah Gila Mereka yang Disebut Sebagai Para Penggila Tuhan )
Bila ia menamakan aku hamba-Nya, maka kalian akan tahu bahwa demikianlah adanya. Bila tidak, maka Ia telah meninggalkan aku pada perjanjian yang mengikatku. Karena tak mudah mencapai persatuan, dengan Tuhan, adakah pantas bagiku untuk memanggil Dia Junjunganku?
Jika Ia tak berkenan dengan pengabdianku, bagaimana dapat aku mengaku bertuan padaNya? Memang benar bahwa aku telah menundukkan kepalaku tetapi perlu pula kiranya bahwa Dia menamakan aku hamba-Nya'."
Mahmud di Bilik-Panas Hammam
Suatu malam Mahmud, dalam keadaan sedih, pergi ke hamman dengan menyamar. Seorang pelayan muda menyambutnya dan menyediakan segala yang perlu untuk dapat berkeringat dengan bertangas pada perbaraan yang panas. Kemudian disuguhkannya pada Sultan sekadar roti kering, dan Sultan pun menyantapnya.
===
SEEKOR burung bertanya pada Hudhud , ""Selama hayat dikandung badan, cinta akan Yang Abadi bagiku amat mulia dan dapat kuterima, dan aku tak pernah berhenti mengingat dia. Aku telah bergaul dengan segala makhluk yang hidup; dan jauh dari perasaan terikat pada mereka, aku pun tak terikat dengan siapa saja." (Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf )
"Kedunguan cinta menguasai seluruh pikiranku, maka bagiku, cinta pun cukuplah. Tetapi cinta demikian tidaklah menguntungkan bagi siapa pun, dan kini saatnya telah tiba ketika aku harus menarik garis batas pada hidupku agar aku dapat mengambil piala cinta dari kekasihku; maka mata hatiku akan menjadi bercahaya karena keindahannya, dan tanganku akan menyentuh lehernya sebagai tanda permesraan." (Baca juga: Ibrahim Adham: Kubeli Kemiskinan Itu Seharga Kerajaan Dunia )
Hudhud menjawab, "Bukanlah dengan penyombongan yang penuh lagak demikian maka kita dapat menjadi tamu terhormat bagi Simurgh di Pegunungan Kaukasus."
"Janganlah begitu menyombongkan cinta yang menurut keyakinanmu kaurasakan terhadapnya, sebab cinta itu tak dikaruniakan pada setiap makhluk untuk memilikinya." (Baca juga: Gara-Gara Mentimun, Anak Syaikh Khirkani Dipenggal Orang )
"Perlu kiranya angin kemujuran menyingkapkan tabir rahasia itu, dan kemudian Simurgh akan menarik kau ke dekatnya dan kau pun akan duduk bersamanya dalam sanastrinya. Bila kau ingin sampai ke tempat suci itu, lebih dulu kau harus berusaha memiliki pengetahuan kerohanian; jika tidak, cintamu pada Simurgh akan berubah menjadi siksaan. Demi kebahagiaanmu yang sejati, maka perlu hendaknya Simurgh pun mencintai kau pula." (Baca juga: Dunia Sufi: Guru Palsu Bisa Jadi Tampak Seperti Asli )
Mimpi Seorang Pengikut Bayazid
Ketika Bayazid meninggalkan istana dunia ini, seorang pengikutnya melihatnya malam itu juga dalam mimpi dan menanyakan pada syaikh yang utama itu bagaimana ia dapat terbebas dari Munkar dan Nakir .
Sufi itu pun berkata padanya, "Ketika kedua malaikat ini menanyakan padaku tentang Al-Khalik, kukatakan pada mereka, 'Pertanyaan itu tak dapat dijawab dengan tepat, sebab jika kukatakan, "dia Tuhanku, begitu saja", ini hanya akan menyatakan keinginan dari pihakku semata; lebih baik bila kalian kembali kepada Tuhan dan mohon bertanya pada-Nya, bagaimana pendapat-Nya tentang diriku. (Baca juga: Kisah Gila Mereka yang Disebut Sebagai Para Penggila Tuhan )
Bila ia menamakan aku hamba-Nya, maka kalian akan tahu bahwa demikianlah adanya. Bila tidak, maka Ia telah meninggalkan aku pada perjanjian yang mengikatku. Karena tak mudah mencapai persatuan, dengan Tuhan, adakah pantas bagiku untuk memanggil Dia Junjunganku?
Jika Ia tak berkenan dengan pengabdianku, bagaimana dapat aku mengaku bertuan padaNya? Memang benar bahwa aku telah menundukkan kepalaku tetapi perlu pula kiranya bahwa Dia menamakan aku hamba-Nya'."
Mahmud di Bilik-Panas Hammam
Suatu malam Mahmud, dalam keadaan sedih, pergi ke hamman dengan menyamar. Seorang pelayan muda menyambutnya dan menyediakan segala yang perlu untuk dapat berkeringat dengan bertangas pada perbaraan yang panas. Kemudian disuguhkannya pada Sultan sekadar roti kering, dan Sultan pun menyantapnya.
Lihat Juga :