Kisah Syaikh Abubakar, Jangggut Panjang, dan Nasihat Iblis kepada Nabi Musa
Rabu, 09 September 2020 - 06:06 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )
===
SEEKOR burung bertanya pada Hudhud , "Aku percaya bahwa aku telah mendapatkan sendiri segala kesempurnaan yang mungkin didapat, dan itu telah kudapatkan dengan berbagai laku pertarakan yang pedih. Karena di sini telah kudapatkan hasil yang kuinginkan, sulitlah bagiku untuk pergi ke tempat yang kau sebutkan itu. Pernahkah kau tahu orang meninggalkan harta kekayaan untuk pergi dengan susah payah mengelana melalui gunung-gunung, dalam rimba raya, dan melintasi tanah-tanah datar?" (Baca juga: Bila Kau Mencintai Tuhan, Berusahalah Pula untuk Dicintai-Nya )
Hudhud menjawab, "O makhluk yang bagai setan , penuh kesombongan dan kebanggaan diri! Kau yang tenggelam dalam nafsu mementingkan diri! Kau yang begitu tak suka berbuat! Kau telah terbujuk oleh angan-anganmu dan kau kini jauh dari perkara-perkara ilahiat." (Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf )
"Tubuh nafsu telah mengalahkan jiwamu; setan telah mencuri otakmu. Kebanggaan telah menguasai dirimu. Bahaya yang kau kira telah kau dapatkan di Jalan Rohani hanyalah nyala yang mengerdip. Seleramu akan hal-hal yang luhur hanya khayali."
"Jangan biarkan dirimu terbujuk oleh gemerlap yang kaulihat. Selama tubuh nafsumu menentangmu, hati-hatilah. Kau harus melawan musuh ini, dengan pedang di tangan." (Baca juga: Ibrahim Adham: Kubeli Kemiskinan Itu Seharga Kerajaan Dunia )
"Bila cahaya palsu menampakkan dirinya dari tubuh nafsumu kau harus memandangnya sebagai sengatan kalajengking, untuk itu harus kau pergunakan penawar bisa."
"Janganlah putus asa karena kegelapan jalan yang akan kutunjukkan padamu dan karena cahaya yang akan kau lihat di sana tak akan membuat kau merasa menjadi sahabat surya." (Baca juga: Gara-Gara Mentimun, Anak Syaikh Khirkani Dipenggal Orang )
"Selama kau, o sayangku, terus berada dalam ketakaburan hidup, maka telaahmu pada kitab-kitab dan usahamu yang tak seberapa itu tak akan berharga sekeping obol pun. Hanya bila kau meninggalkan kebanggaan dan kesombongan ini, kau akan dapat meninggalkan hidup lahiriah tanpa sesal. Selama kau masih tetap pada kesombongan dan kebanggaan diri dan pada perkara-perkara kehidupan lahiriah, seratus panah kepedihan akan menusukmu dari segala arah." (Baca juga: Dunia Sufi: Guru Palsu Bisa Jadi Tampak Seperti Asli )
Syaikh Abubakar dari Nisyapur
Syaikh itu keluar pada suatu hari dari permukimannya beserta para pengikutnya, mengendarai khimarnya, sementara para pengikutnya mengiringinya dengan berjalan kaki.
Tiba-tiba khimar itu kentut keras sekali, dan mendengar itu syaikh pun berteriak dan mengoyak-koyak khirkanya. Para pengikutnya memandangnya dengan heran, dan salah seorang bertanya mengapa ia berbuat demikian? (Baca juga: Kisah Gila Mereka yang Disebut Sebagai Para Penggila Tuhan )
Kata syaikh itu, "Ketika aku menoleh dan melihat betapa banyak para pengikutku" aku pun berpikir dalam hati, Kini benar-benar aku sama dengan Bayazid . Hari ini aku diiringkan para pengikutku yang banyak dan paling tekun; maka kelak aku pasti akan berkendara dengan kemegahan dan kehormatan di padang mahsyar."
Baca juga: DKI Akan Ganti Sembako Covid-19 Jadi BLT jika Pandemi hingga Tahun Depan
===
SEEKOR burung bertanya pada Hudhud , "Aku percaya bahwa aku telah mendapatkan sendiri segala kesempurnaan yang mungkin didapat, dan itu telah kudapatkan dengan berbagai laku pertarakan yang pedih. Karena di sini telah kudapatkan hasil yang kuinginkan, sulitlah bagiku untuk pergi ke tempat yang kau sebutkan itu. Pernahkah kau tahu orang meninggalkan harta kekayaan untuk pergi dengan susah payah mengelana melalui gunung-gunung, dalam rimba raya, dan melintasi tanah-tanah datar?" (Baca juga: Bila Kau Mencintai Tuhan, Berusahalah Pula untuk Dicintai-Nya )
Hudhud menjawab, "O makhluk yang bagai setan , penuh kesombongan dan kebanggaan diri! Kau yang tenggelam dalam nafsu mementingkan diri! Kau yang begitu tak suka berbuat! Kau telah terbujuk oleh angan-anganmu dan kau kini jauh dari perkara-perkara ilahiat." (Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf )
"Tubuh nafsu telah mengalahkan jiwamu; setan telah mencuri otakmu. Kebanggaan telah menguasai dirimu. Bahaya yang kau kira telah kau dapatkan di Jalan Rohani hanyalah nyala yang mengerdip. Seleramu akan hal-hal yang luhur hanya khayali."
"Jangan biarkan dirimu terbujuk oleh gemerlap yang kaulihat. Selama tubuh nafsumu menentangmu, hati-hatilah. Kau harus melawan musuh ini, dengan pedang di tangan." (Baca juga: Ibrahim Adham: Kubeli Kemiskinan Itu Seharga Kerajaan Dunia )
"Bila cahaya palsu menampakkan dirinya dari tubuh nafsumu kau harus memandangnya sebagai sengatan kalajengking, untuk itu harus kau pergunakan penawar bisa."
"Janganlah putus asa karena kegelapan jalan yang akan kutunjukkan padamu dan karena cahaya yang akan kau lihat di sana tak akan membuat kau merasa menjadi sahabat surya." (Baca juga: Gara-Gara Mentimun, Anak Syaikh Khirkani Dipenggal Orang )
"Selama kau, o sayangku, terus berada dalam ketakaburan hidup, maka telaahmu pada kitab-kitab dan usahamu yang tak seberapa itu tak akan berharga sekeping obol pun. Hanya bila kau meninggalkan kebanggaan dan kesombongan ini, kau akan dapat meninggalkan hidup lahiriah tanpa sesal. Selama kau masih tetap pada kesombongan dan kebanggaan diri dan pada perkara-perkara kehidupan lahiriah, seratus panah kepedihan akan menusukmu dari segala arah." (Baca juga: Dunia Sufi: Guru Palsu Bisa Jadi Tampak Seperti Asli )
Syaikh Abubakar dari Nisyapur
Syaikh itu keluar pada suatu hari dari permukimannya beserta para pengikutnya, mengendarai khimarnya, sementara para pengikutnya mengiringinya dengan berjalan kaki.
Tiba-tiba khimar itu kentut keras sekali, dan mendengar itu syaikh pun berteriak dan mengoyak-koyak khirkanya. Para pengikutnya memandangnya dengan heran, dan salah seorang bertanya mengapa ia berbuat demikian? (Baca juga: Kisah Gila Mereka yang Disebut Sebagai Para Penggila Tuhan )
Kata syaikh itu, "Ketika aku menoleh dan melihat betapa banyak para pengikutku" aku pun berpikir dalam hati, Kini benar-benar aku sama dengan Bayazid . Hari ini aku diiringkan para pengikutku yang banyak dan paling tekun; maka kelak aku pasti akan berkendara dengan kemegahan dan kehormatan di padang mahsyar."
Baca juga: DKI Akan Ganti Sembako Covid-19 Jadi BLT jika Pandemi hingga Tahun Depan
Lihat Juga :