Kisah Hikmah : Dialog Mulia Para Sosok Tawadhu
Sabtu, 30 Agustus 2025 - 18:52 WIB
loading...
Jika para sahabat Nabi SAW yang berakhlak mulia dan sosok tawadhu bertemu, seperti apa kira-kira percakapan atau dialognya? Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Jika para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berakhlak mulia dan sosok tawadhu bertemu, seperti apa kira-kira percakapan atau dialognya?
Alkisah, suatu hari Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu 'anha (ra) dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah pergi berkunjung ke rumah Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam. Setibanya di depan pintu rumah Nabi Shallahu 'alaihi wa Sallam, satu sama lain saling mempersilahkan rekannya untuk masuk terlebih dahulu.
Sayyidina Abu Bakar : "Engkau masuklah duluan, wahai Ali!"
Sayyidina Ali : "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Abu Bakr, sedang Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam sendiri pernah bersabda tentang mu: “Belum pernah matahari terbit atau terbenam atas seseorang sesudah para Nabi, lebih utama dari Abu Bakar.”
Sayyidina Abu Bakar : "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Ali, sedang Rasulullah juga pernah bersabda tentangmu: “Aku telah menikahkan wanita terbaik kepada lelaki terbaik, aku nikahkan putriku Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib.”
Sayyidina Ali : "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Abu Bakar, sedang Nabi pernah bersabda: “Kalau iman umat ini ditimbang dengan iman Abu Bakar, tentu akan berat timbangan iman Abu Bakar.”
Sayyidina Abu Bakar: "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Ali, sedang Rasulullah pernah bersabda tentangmu: “Dikumpulkan Ali bin Abi Thalib di Mahsyar pada hari Kiamat kelak dengan berkendaraan bersama Fatimah, Hasan dan Husain, lalu orang-orang bertanya-tanya, “siapa gerangan orang tersebut itu?” Lalu ada yang menjawab, “ia bukan seorang Nabi, tetapi Ali bin Abi Thalib dan keluarganya.”
Sayyididna Ali: "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Aba Bakar, sedang Rasulullah pernah bersabda tentang engkau: “Kalau aku harus mempunyai kekasih selain dari Rabbku, tentu aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasihku.”
Baca juga: Kisah Alqamah, Sahabat Nabi yang Mendahulukan istri daripada Ibunya
Alkisah, suatu hari Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu 'anha (ra) dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah pergi berkunjung ke rumah Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam. Setibanya di depan pintu rumah Nabi Shallahu 'alaihi wa Sallam, satu sama lain saling mempersilahkan rekannya untuk masuk terlebih dahulu.
Sayyidina Abu Bakar : "Engkau masuklah duluan, wahai Ali!"
Sayyidina Ali : "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Abu Bakr, sedang Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam sendiri pernah bersabda tentang mu: “Belum pernah matahari terbit atau terbenam atas seseorang sesudah para Nabi, lebih utama dari Abu Bakar.”
Sayyidina Abu Bakar : "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Ali, sedang Rasulullah juga pernah bersabda tentangmu: “Aku telah menikahkan wanita terbaik kepada lelaki terbaik, aku nikahkan putriku Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib.”
Sayyidina Ali : "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Abu Bakar, sedang Nabi pernah bersabda: “Kalau iman umat ini ditimbang dengan iman Abu Bakar, tentu akan berat timbangan iman Abu Bakar.”
Sayyidina Abu Bakar: "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Ali, sedang Rasulullah pernah bersabda tentangmu: “Dikumpulkan Ali bin Abi Thalib di Mahsyar pada hari Kiamat kelak dengan berkendaraan bersama Fatimah, Hasan dan Husain, lalu orang-orang bertanya-tanya, “siapa gerangan orang tersebut itu?” Lalu ada yang menjawab, “ia bukan seorang Nabi, tetapi Ali bin Abi Thalib dan keluarganya.”
Sayyididna Ali: "Mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Aba Bakar, sedang Rasulullah pernah bersabda tentang engkau: “Kalau aku harus mempunyai kekasih selain dari Rabbku, tentu aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasihku.”
Baca juga: Kisah Alqamah, Sahabat Nabi yang Mendahulukan istri daripada Ibunya
Lihat Juga :