Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri Cina Ternyata Bukan Hadis Shahih

loading...
Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri Cina Ternyata Bukan Hadis Shahih
Hadis tuntutlah ilmu ke negeri Cina ternyata berstatus dhaif, batil. Kata Ibnu Hibban tidak ada dasarnya. Foto ilustrasi/Dok nusagates
Kita sering mendengar hadis yang satu ini disampaikan di berbagai majelis taklim. Hadis ini begitu populer di tengah masyarakat muslim Indonesia. "Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri Cina" demikian bunyi hadisnya.

Ustaz Farid Nu'man Hasan (Dai lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia) mengatakan bahwa hadis itu tidak shahih. Berikut redaksi hadisnya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اطلبوا العلم ولو بالصين ، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم

"Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, sesungguhnya menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim." (Diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman, No. 1612). (Baca Juga: Hadis-hadis Palsu yang Populer di Masyarakat)

Sanad hadis itu sebagai berikut: telah mengabarkan kepadaku Abu Abdullah Al Hafizh, telah mengabarkan kepadaku Abul Hasan Ali bin Muhammad bin 'Uqbah Asy Syaibani, mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ali bin 'Affan, mengabarkan kepadaku Abu Muhammad Al Ashbahani, mengabarkan kepadaku Abu Sa’id bin Ziyad, berkata kepadaku Ja’far bin 'Amir Al 'Askari, mereka berdua berkata: telah bercerita kepada kami Al Hasan bin ‘Athiyah dari Abu ‘Atikah, dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: … (lalu disebut hadis di atas)

Imam Al-Baihaqi mengatakan: "Matan hadis ini masyhur, isnadnya dhaif dan telah diriwayatkan berbagai jalur, semuanya dhaif. (Ibid)



(Baca Juga: DKI Rem Darurat PSBB Transisi, Anies: Semua Kegiatan Kembali Dikerjakan di Rumah)

Imam Al-Baihaqi dalam Al Madkhal Ila As Sunan Al Kubra, No. 243. Dengan sanad: telah mengabarkan kepadaku Abu Thahir Al Faqih, mengabarkan kepadaku Abu Hamid bin Bilal, berkata kepadaku Ibrahim bin Mas’ud Al Hamdzani, berkata kepaku Al Hasan bin ‘Athiyah Al Qursyi, berkata kepadaku Abu ‘Atikah Al Bashri, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: … (lalu disebut hadis di atas) Lalu, Imam Al Baihaqi mengatakan:

هذا حديث متنه مشهور ، وأسانيده ضعيفة ، لا أعرف له إسنادا يثبت بمثله الحديث و الله أعلم

"Matan hadits ini masyhur dan sanad-sanadnya dhaif, saya tidak mengetahui adanya sanad yang kuat sebagaimana hadits ini. Wallahu A’lam." (Ibid) Imam Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadhlihi, No. 12. Mawqi’ Jami’ Al Hadits.

Katanya: Aku membaca di hadapan Abul Qasim Khalaf bin Al Qasim bin Sahl, bahwa Abu Bakar bin Al 'Abbas bin Al Washif Al Abrazi berkata kepadanya di Gaza: bercerita kepadaku Muhammad bin Al Hasan bin Qutaibah, dia berkata: telah berkata kepadaku Al ‘Abbas bin Ismail, telah bercerita kepadaku Al Hasan bin ‘Athiyah, telah berkata kepadaku Tharif bin Sulaiman Abu 'Atikah, dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: … (lalu disebut hadis di atas)



Dalam hadits No. 13, dengan sanad: Ya’isy bin Said bin Muhammad Abul Qasim Al Warraq, bercerita kepadaku Qasim bin Ashbagh, telah berkata kepadaku Muhamamd bin Ghalib At Tamtam, berkata kepadaku Al Hasan bin ‘Athiyah Al Bazaz di Kufah, telah berkata kepadaku Abu ‘Athikah, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: … (lalu disebut hadis di atas)

Imam Abu Nu'aim dalam Tarikh Ashbahan, 1/262. Mawqi’ Al Warraq Imam Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, 4/254. Mawqi' Al Warraq Imam Alaudin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal, No. 28698, dengan lafaz: Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, sesungguhnya menuntut ilmu wajib atas setiap muslim, sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang mereka tuntut."

Dengan sanad dari Ahmad bin Abdullah bin Muhammad dari Maslamah bin Al Qasim, dari Ya’qub bin Ishaq Al 'Asqalani, dari ‘Ubaidillah Al Faryabi, dari Abu Muhammad Az Zuhri, dari Anas bin Malik. Imam Al Munawi mengatakan, dalam Al Mizan disebutkan bahwa Ya’qub adalah seorang pendusta.

Lalu, An Naisaburi, Ibnul Jauzi, dan Adz Dzahabi mengatakan tidak ada yang shahih sanad hadis ini. (Faidhul Qadir Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, 1/693. No. 1111. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah). (Baca Juga: Hadis tentang Keutamaan Membaca Yasin di Malam Hari)

Imam Al 'Ajluni mengatakan, bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Khathib, Ibnu Abdil Bar, dan Ad Dailami, dari Anas bin Malik, semuanya dhaif. Bahkan Ibnu Hibban menyatakan Batil. Dan Ibnul Jauzi memasukkannya dalam Al Maudhu’at (kumpulan hadis palsu).

Abu Ya'la meriwayatkan dengan lafaz hanya: "Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. Juga, Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dengan sanad yang di dalamnya terdapat seorang pendusta, lafaznya: Tuntutlah ilmu walau ke negri Cina, sesungguhnya menuntut ilmu wajib atas setiap muslim, sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang mereka tuntut." (Kasyful Khafa, 1/139. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Ibnul Jauzi mengatakan, hadis ini tidak ada yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Imam Ibnu Hibban mengatakan hadis ini batil dan tidak ada dasarnya. (Al Maudhu’at, 1/216. Tahqiq dan taqdim oleh; Abdurrahman Muhammad ‘Utsman) Syaikh Al Albani mengatakan: Batil. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 418)

Semua sanad terdapat Al Hasan bin 'Athiyah dan Abu 'Atikah. Keduanya rawi yang kedhaifannya parah. Al Hasan bin ‘Athiyah Al ‘Aufi Al Kufi, dia adalah seorang rawi yang dhaif. Imam Ibnu Abi Hatim mengatakan, aku dengar ayahku mengatakan: dhaiful hadits. (Al Jarh wa Ta’dil, 3/26) Imam Al Munawi juga mendhaifkannya. (Faidhul Qadir, 1/693) Begitu pula yang dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar. (Taqribut Tahzib, 1/206. Darul Maktabah Al ‘Ilmiyah)

Sedangkan Abu 'Atikah, terjadi perbedaan penulisan namanya di berbagai kitab. Ada yang menyebut Salman, ada juga Sulaiman. Al Hafizh Al Mizzi mengatakan nama aslinya adalah Tharif bin Salman, ada juga yang mengatakan Salman bin Tharif. Seorang Kufi (penduduk Kufah), ada juga yang menyebutnya Bashri (penduduk Bashrah). Imam Abu Hatim mengatakan: haditsnya hilang. Imam Bukhari mengatakan: Munkarul Hadits (haditsnya munkar).

Sedangkan Imam An-Nasa'i mengatakan: Laisa bi tsiqah (bukan orang terpercaya). Imam Ad-Daruquthni dan lainnya mengatakan: dhaif. (Al Hafizh Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 34/5. Muasasah Ar Risalah. Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 2/335. No. 3984. Darul Ma’rifah)

Imam Adz-Dzahabi juga menyebutkan bahwa para ulama telah ijma' (aklamasi) atas kedhaifannya. Bahkan As-Sulaimani mengatakan, Abu 'Atikah adalah orang yang dikenal sebagai pemalsu hadits. (Ibid, 4/542)

(Baca Juga: Hey Orang Kaya yang Punya Tabungan Miliaran, Dengerin Nih Pesan Teten)

Imam Ibnu Hibban mengatakan, namanya Tharif bin Sulaiman: Munkarul hadits jiddan (hadisnya sangat munkar), dia meriwayatkan hadis dari Anas: tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 1/382. Tahqiq: Muhammad Ibrahim Zaid).

Imam Ibnu Abdil Bar dalam Jami Bayan Al ‘Ilmi wa Fadhlihi, juga menyebut Tharif bin Sulaiman. Begitu pula dalam Lisanul Mizan, ditulis Tharif bin Sulaiman. Imam Ibnu Abi Hatim mengatakan, aku bertanya kepada ayahku (Imam Abu Hatim) tentangnya, katanya: haditsnya hilang dan lemah. (Al Jarh wa Ta’dil, 4/494. No. 2169. Dar Ihya At Turats) Imam Al ‘Uqaili dalam Adh Dhu’afa menyebutkan bahwa Abu ‘Atikah adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). (Al Hafizh Al ‘Uqaili, Adh Dhu’afa Al Kabir, 2/230. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Ustaz Farid Nu'man mengatakan, Hadis ini seandainya shahih tidaklah berarti kewajiban untuk menuntut ilmu ke negeri Cina, sebagaimana zahirnya. Cina hanyalah contoh saja. Secara esensi, maksudnya adalah Islam menganjurkan menuntut ilmu walau di negeri yang amat jauh. Imam Al Munawi memberikan komentar terhadap redaksi hadits ini, sebagai berikut:

أي ولو كان إنما يمكن تحصيله بالرحلة إلى مكان بعيد جدا كمدينة الصين فإن من لم يصبر على مشقة التعلم بقي عمره في عماية الجهالة ومن صبر عليها آل عمره إلى عز الدنيا والآخرة

"Yaitu walau untuk mendapatkan ilmu paling mungkin hanya dengan mengadakan perjalanan ke tempat yang sangat jauh seperti negeri Cina. Maka, sesungguhnya siapa saja yang tidak bersabar atas kesulitan menuntut ilmu, maka sisa umurnya berada dalam kebutaan dan kebodohan, dan siapa saja yang mampu bersabar atas hal itu, maka akan membawa usianya pada kemuliaan dunia dan akhirat.” (Faidhul Qadir, 1/692)

Tetapi, nyatanya hadis ini dhaif, batil, dan –kata Ibnu Hibban- tidak ada dasarnya. Meskipun demikian, Islam adalah agama yang sangat memuliakan ilmu, menuntut ilmu, dan ahli ilmu. Banyak sekali ayat dan hadis-hadis shahih yang menegaskan hal itu. (Baca Juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal)

Wallahu Ta'ala A'lam
(rhs)
cover top ayah
لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ وَاِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡهُ يُحَاسِبۡكُمۡ بِهِ اللّٰهُ‌ؕ فَيَـغۡفِرُ لِمَنۡ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنۡ يَّشَآءُ‌ ؕ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ
Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

(QS. Al-Baqarah:284)
cover bottom ayah
preload video