Kemerdekaan, Makna dan Cinta Tanah Air dalam Perpekstif Islam

Minggu, 17 Agustus 2025 - 05:15 WIB
loading...
Kemerdekaan, Makna dan...
Dalam Islam, makna kemerdekaan memiliki dimensi yang mendalam, melebihi sekadar bebas dari penjajahan fisik, hakikat kemerdekaan adalah kebebasan yang murni dan hakiki dari segala bentuk perbudakan, baik yang bersifat fisik maupun spiritual. Foto ilustras
A A A
Hari ini, 17 Agustus 2025 Banga Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-80. Apa makna kemerdekaan dan cinta Tanah Air ini dalam pandangan Islam?

Makna Kemerdekaan dalam Islam adalah anugerah yang tak ternilai. Dalam ajaran Islam , makna kemerdekaan memiliki dimensi yang mendalam, melebihi sekadar bebas dari penjajahan fisik. Islam mengajarkan bahwa hakikat kemerdekaan adalah kebebasan yang murni dan hakiki dari segala bentuk perbudakan, baik yang bersifat fisik maupun spiritual.

Dalam ajaran Islam, kemerdekaan sejati adalah ketika manusia berhasil membebaskan dirinya dari penghambaan kepada sesama manusia dan hanya mengabdi kepada Allah SWT. Ini ditegaskan dalam Al-Quran, di mana Allah berfirman:

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ

Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya'buduun

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" ( QS Adz-Dzariyat : 56).



Muhammad Imaduddin Abdulrahim dalam buku "Kuliah Tauhid" (Pustaka-Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1980) mengatakan nilai kemanusiaan yang paling utama ialah kemerdekaan.

"Kemerdekaanlah satu-satunya nilai yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Tanpa kemerdekaan manusia sebenarnya tidak mungkin menjalani hidupnya sebagai manusia," katanya.

Dengan perkataan lain, tanpa kemerdekaan pada hakikatnya manusia berhenti jadi manusia atau tidak lagi berfungsi sebagai manusia. Oleh karena itu, harga diri setiap manusia justru diukur dengan derajat kemerdekaan yang bisa dihayati dan dipertahankan manusia itu.

Secara individu setiap manusia dilahirkan merdeka. Namun dalam mempertahankan hidupnya manusia pada tingkat awal dari kehidupannya itu terpaksa tergantung kepada manusia lain, yaitu ibunya.

"Akan tetapi, setiap ibu telah dianugerahi Allah SWT suatu rasa kasih sayang kepada anak yang dilahirkannya sedemikian sempurnanya, sehingga setingkat hanya di bawah sifat Rahman (kasih sayang) daripada Allah sendiri," katanya.

Sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan telah membakar semangat kebangsaan yang menggebu-gebu. Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah tonggak bersejarah yang menandai awal dari perjalanan bangsa Indonesia sebagai negara merdeka.

Kebangsaan dan Cinta Tanah Air

Sementara itu, Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran" mengatakan rasa kebangsaan tidak dapat dinyatakan adanya, tanpa dibuktikan oleh patriotisme dan cinta tanah air.

"Cinta tanah air tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama, bahkan inklusif di dalam ajaran Al-Quran dan praktik Nabi Muhammad SAW," ujarnya.

Baca juga: Prabowo Umumkan Tema HUT ke-80 RI: Bersatu Berdaulat Rakyat Sejahtera Indonesia Maju

Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui ungkapan populer yang dinilai oleh sebagian orang sebagai hadis Nabi SAW, Hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air adalah bagian dari iman), melainkan justru dibuktikan dalam praktek Nabi Muhammad SAW, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.

Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau salat menghadap ke Bait Al-Maqdis. Tetapi, setelah enam belas bulan, rupanya beliau rindu kepada Makkah dan Kakbah, karena merupakan kiblat leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab.

Begitu tulis Al-Qasimi dalam tafsirnya. Wajah beliau berbolak-balik menengadah ke langit, bermohon agar kiblat diarahkan ke Makkah, maka Allah merestui keinginan ini dengan menurunkan firman-Nya:

"Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram..." ( QS Al-Baqarah [2] : 144).

Cinta beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak pula ketika meninggalkan kota Makkah dan berhijrah ke Madinah. Sambil menengok ke kota Makkah beliau berucap:

Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkannya.

Sahabat-sahabat Nabi SAW pun demikian, sampai-sampai Nabi SAW bermohon kepada Allah:

Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami, sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada
kami, bahkan lebih (HR Bukhari, Malik dan Ahmad).

Memang, cinta kepada tanah tumpah darah merupakan naluri manusia, dan karena itu pula Nabi Saw. menjadikan salah satu tolok ukur kebahagiaan adalah "diperolehnya rezeki dari tanah tumpah darah". Sungguh benar ungkapan, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih senang di negeri sendiri."

Bahkan Rasulullah Saw. mengatakan bahwa orang yang gugur karena membela keluarga, mempertahankan harta, dan negeri sendiri dinilai sebagai syahid sebagaimana yang gugur membela ajaran agama. Bahkan Al-Quran menggandengkan pembelaan agama dan pembelaan negara dalam firman-Nya:

Allah tidak melarang kamu berbuat baik, dan memberi sebagian hartamu (berbuat adil) kepada orang yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama, mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain mengusirmu ( QS Al-Mumtahanah [60] : 8-9).

Baca juga: Zakat Berbeda dengan Pajak, Umat Islam Wajib Tahu!
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Dalil-dalil Cinta Tanah...
Dalil-dalil Cinta Tanah Air dalam Al Quran dan Hadis
Khotbah Jumat: Arti...
Khotbah Jumat: Arti dari Kemerdekaan Sesungguhnya dalam Islam
Ayat dan Hadis tentang...
Ayat dan Hadis tentang Kemerdekaan dan Cinta Tanah Air
Makna Kemerdekaan dalam...
Makna Kemerdekaan dalam Islam, Cinta Tanah Air Tidak Bertentangan dengan Prinsip Agama
Muhammadiyah Dukung...
Muhammadiyah Dukung Fatwa ICJ Pendudukan Israel Ilegal, Jajaki Pola Sinergi Kemerdekaan Palestina
Jejak Yahudi di Amerika,...
Jejak Yahudi di Amerika, Benjamin Franklin: Mereka Adalah Binatang Vampir!
Rekomendasi
Anomali Magnetik Aneh...
Anomali Magnetik Aneh Ditemukan di Peta Baru Danau Rotorua
Tepian Danau Titan Menunjukkan...
Tepian Danau Titan Menunjukkan Bukti Adanya Gelombang Besar
Monumen Batu Minoa Berusia...
Monumen Batu Minoa Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Yunani
Artikel Terkini
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
Jelang 1 Muharram, Ulama...
Jelang 1 Muharram, Ulama Anjurkan Minum Susu Putih Sebelum Subuh, Ini Alasannya
Asal-usul Nama Suro...
Asal-usul Nama Suro Asyura? Simak Penjelasannya di Sini!
Benarkah Muharram atau...
Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam
Malam 1 Suro dan Muharram:...
Malam 1 Suro dan Muharram: Sejarah, Tradisi, serta Keutamaannya dalam Islam
Infografis
Muslim Harus Tahu, 7...
Muslim Harus Tahu, 7 Keutamaan Zakat dalam Al-Quran dan Hadis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved