Hati-hati Dalam Membelanjakan Harta
Senin, 14 September 2020 - 08:06 WIB
loading...
Islam tidak pernah melarang seorang muslimah untuk membelanjakan hartanya dengan apa yang mereka sukai. Namun, apakah harta yang kita belanjakan akan menuntun kita pada kebaikan, atau justru sebaliknya? Foto ilustrasi/istimewa
A
A
A
Di antara sifat kebanyakan kaum perempuan adalah senang berbelanja . Apalagi bila melihat ada diskon atau sale besar-besaran, keinginan hati untuk berbelanja tak pernah bisa ditahan. Padahal, jujur saja terkadang barang yang akan dibeli tidak terlalu dibutuhkan, hanya tergiur ulasan diskon atau sale yang diberikan.
Yang terjadi, akhirnya banyak barang yang menumpuk. Bahkan, banyak pula barang yang sudah dibeli malah tidak pernah dipakai, dan menjadi tidak memiliki manfaat.
Dalam Islam, bukan hanya amal yang akan dihisab di akherat nanti, tetapi juga segala barang yang kita miliki seperti koleksi pakaian, sepatu, dan lainnya. (Baca juga : Hati-hati, Penyakit Hati Ini Sering Tak Sadar Dilakukan! )
Rasulullah Shallalahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. (HR. Tirmidzi).
Terutama tentang harta, kelak kita akan ditanya dari mana harta yang kita peroleh, untuk apa harta tersebut, ini menjadi kalimat yang perlu digaris bawahi. (Baca juga : Yuk, Ungkapkan Rasa Syukur dengan Tiga Cara ini )
Islam tidak pernah melarang seorang muslimah untuk membelanjakan hartanya dengan apa yang mereka sukai. Namun, apakah harta yang kita belanjakan akan menuntun kita pada kebaikan, atau justru sebaliknya? Seperti contoh, kita menyukai sepatu, bahkan sampai mengoleksinya. Tanpa sadar, banyak waktu yang tersita untuk memandangi atau merawat sepatu tersebut. Bukanlah hal tersebut sama saja dengan menghabisan waktu untuk hal yang sia-sia?
Selain itu, Islam pun mengajarkan untuk tidak boros dan mubazir. Sebisa mungkin kita harus menjauhi kedua sifat tersebut. Sebab, boros dan mubazir lebih dekat pada setan. Belajarlah untuk membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan yang memang bermanfaat. Sehingga kita tidak menumpuknya. Daripada barang-barang tersebut dibiarkan menumpuk, agar menjadi bermanfaat, lebih baik disedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan . Bukankah lebih baik menumpuk pahala daripada menumpuk barang-barang yang tak terpakai?
(Baca juga : Ketika Harus Sabar dalam Penantian )
Allah Ta'ala berfirman :
Yang terjadi, akhirnya banyak barang yang menumpuk. Bahkan, banyak pula barang yang sudah dibeli malah tidak pernah dipakai, dan menjadi tidak memiliki manfaat.
Dalam Islam, bukan hanya amal yang akan dihisab di akherat nanti, tetapi juga segala barang yang kita miliki seperti koleksi pakaian, sepatu, dan lainnya. (Baca juga : Hati-hati, Penyakit Hati Ini Sering Tak Sadar Dilakukan! )
Rasulullah Shallalahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. (HR. Tirmidzi).
Terutama tentang harta, kelak kita akan ditanya dari mana harta yang kita peroleh, untuk apa harta tersebut, ini menjadi kalimat yang perlu digaris bawahi. (Baca juga : Yuk, Ungkapkan Rasa Syukur dengan Tiga Cara ini )
Islam tidak pernah melarang seorang muslimah untuk membelanjakan hartanya dengan apa yang mereka sukai. Namun, apakah harta yang kita belanjakan akan menuntun kita pada kebaikan, atau justru sebaliknya? Seperti contoh, kita menyukai sepatu, bahkan sampai mengoleksinya. Tanpa sadar, banyak waktu yang tersita untuk memandangi atau merawat sepatu tersebut. Bukanlah hal tersebut sama saja dengan menghabisan waktu untuk hal yang sia-sia?
Selain itu, Islam pun mengajarkan untuk tidak boros dan mubazir. Sebisa mungkin kita harus menjauhi kedua sifat tersebut. Sebab, boros dan mubazir lebih dekat pada setan. Belajarlah untuk membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan yang memang bermanfaat. Sehingga kita tidak menumpuknya. Daripada barang-barang tersebut dibiarkan menumpuk, agar menjadi bermanfaat, lebih baik disedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan . Bukankah lebih baik menumpuk pahala daripada menumpuk barang-barang yang tak terpakai?
(Baca juga : Ketika Harus Sabar dalam Penantian )
Allah Ta'ala berfirman :
Lihat Juga :