Wajibkan Ihsan dalam Semua Urusan yang Dilakukan
Senin, 14 September 2020 - 20:20 WIB
loading...
Jangan sampai telat menanamkan ihsan kepada anak-anak kita, karena mereka harus menjadi orang yang profesional dalam segala urusan yang mereka lakukannya kelak. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kita melihat ada sebagian anak-anak yang kalau diserahi tugas asal-asalan . Misalnya disuruh cuci piring, tidak bersih, disuruh menyapu halaman ternyata masih kotor, diserahi amanah dia kadang-kadang suka lalai atau sering lalai.
Ini adalah bentuk-bentuk tidak profesionalnya dia di dalam menangani tugas yang kita serahkan kepadanya. Maka ini perlu dilatih sejak kecil sehingga menjadi satu kebiasaannya. Kalau dia melakukan tugasnya, maka dia lakukan dengan baik, bukan asal-asalan.
Seorang muslim harus bisa menjadi yang terbaik dalam segala bidang yang dia tangani. Karena NabiShallallahu alaihi wa sallam menekankan itu kepada kita. Dalam hadis Beliau:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ihsan dalam semua urusan.” (HR. Muslim)
(Baca juga : Yuk, Ungkapkan Rasa Syukur dengan Tiga Cara ini )
Menurut Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary, hadis ini menjelaskan kepada kita bahwa seorang muslim profesional dalam hal menyembelih juga, bukan asal-asalan. Dia harus tahu dimana tempat untuk meletakkan pisau itu, bukan di tempat yang salah. Kalau tempat yang salah, tentunya hewan itu tidak akan mati, sementara dia kesakitan dan terluka.
Orang yang mengerti , dia tahu dimana dia letakkan mata pisau itu dan bagaimana cara menyembelihnya. Ada sebagian orang yang menyembelih ayam sampai putus lehernya untuk memastikan hewan itu mati. Sebenarnya tidak harus seperti itu. Sebagian orang yang memang sudah profesional, orang yang sudah terbiasa dan melakukannya dengan baik, cukup dengan sekali goresan saja sudah mati ayam itu. Sebagian orang karena salah tempat meletakkan mata pisau, sampai dia bolak-balik menggoroknya kambing itu tidak mati-mati. Itulah bentuk tidak profesionalnya kita dalam melakukan tugas tersebut.
(Baca juga : Hati-hati Dalam Membelanjakan Harta )
"Maka ini harus kita latih anak-anak kita. Kita bisa melatih mereka dengan menyerahi kepada mereka tugas-tugas tertentu kemudian kita mengevaluasi atau menilai pekerjaannya. Kita katakan misalnya: ini kurang begini, ini kurang begitu, dan seterusnya,"lanjutnya dalam paparan kajiannya tentang 'Mencetak Generasi Rabbani'.
Sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan , termasuk pesantren juga bisa melakukan evaluasi kepada murid-muridnya ketika memberikan tugas-tugas kepada mereka. Coba dinilai bagaimana mereka menangani pekerjaan itu. Supaya itu bisa menjadi satu bahan bagi kita untuk melakukan perbaikan-perbaikan.
Jadi ini sangat penting. Karena sebagian anak kita lihat apabila melakukan suatu pekerjaan, dia sungguh-sungguh mengerjakannya dengan baik. Disuruh menyapu, hasilnya bersih mengkilap. Tapi ada sebagian anak ketika disuruh menyapu masih berserakan di sana-sini, asal-asalan saja dia kerjakan. Ini bentuk tidak ihsan.
(Baca juga : Sikapi Penusukan Syekh Ali Jaber, Menag Sepakat Ulama Wajib Dilindungi )
Ini adalah bentuk-bentuk tidak profesionalnya dia di dalam menangani tugas yang kita serahkan kepadanya. Maka ini perlu dilatih sejak kecil sehingga menjadi satu kebiasaannya. Kalau dia melakukan tugasnya, maka dia lakukan dengan baik, bukan asal-asalan.
Seorang muslim harus bisa menjadi yang terbaik dalam segala bidang yang dia tangani. Karena NabiShallallahu alaihi wa sallam menekankan itu kepada kita. Dalam hadis Beliau:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ihsan dalam semua urusan.” (HR. Muslim)
(Baca juga : Yuk, Ungkapkan Rasa Syukur dengan Tiga Cara ini )
Menurut Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary, hadis ini menjelaskan kepada kita bahwa seorang muslim profesional dalam hal menyembelih juga, bukan asal-asalan. Dia harus tahu dimana tempat untuk meletakkan pisau itu, bukan di tempat yang salah. Kalau tempat yang salah, tentunya hewan itu tidak akan mati, sementara dia kesakitan dan terluka.
Orang yang mengerti , dia tahu dimana dia letakkan mata pisau itu dan bagaimana cara menyembelihnya. Ada sebagian orang yang menyembelih ayam sampai putus lehernya untuk memastikan hewan itu mati. Sebenarnya tidak harus seperti itu. Sebagian orang yang memang sudah profesional, orang yang sudah terbiasa dan melakukannya dengan baik, cukup dengan sekali goresan saja sudah mati ayam itu. Sebagian orang karena salah tempat meletakkan mata pisau, sampai dia bolak-balik menggoroknya kambing itu tidak mati-mati. Itulah bentuk tidak profesionalnya kita dalam melakukan tugas tersebut.
(Baca juga : Hati-hati Dalam Membelanjakan Harta )
"Maka ini harus kita latih anak-anak kita. Kita bisa melatih mereka dengan menyerahi kepada mereka tugas-tugas tertentu kemudian kita mengevaluasi atau menilai pekerjaannya. Kita katakan misalnya: ini kurang begini, ini kurang begitu, dan seterusnya,"lanjutnya dalam paparan kajiannya tentang 'Mencetak Generasi Rabbani'.
Sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan , termasuk pesantren juga bisa melakukan evaluasi kepada murid-muridnya ketika memberikan tugas-tugas kepada mereka. Coba dinilai bagaimana mereka menangani pekerjaan itu. Supaya itu bisa menjadi satu bahan bagi kita untuk melakukan perbaikan-perbaikan.
Jadi ini sangat penting. Karena sebagian anak kita lihat apabila melakukan suatu pekerjaan, dia sungguh-sungguh mengerjakannya dengan baik. Disuruh menyapu, hasilnya bersih mengkilap. Tapi ada sebagian anak ketika disuruh menyapu masih berserakan di sana-sini, asal-asalan saja dia kerjakan. Ini bentuk tidak ihsan.
(Baca juga : Sikapi Penusukan Syekh Ali Jaber, Menag Sepakat Ulama Wajib Dilindungi )
Lihat Juga :