Kisah Nabi Adam AS

Adam dan Hawa Terpedaya Karena Ingin Hidup Kekal di Surga

loading...
Adam dan Hawa Terpedaya Karena Ingin Hidup Kekal di Surga
Adam pun maju dan memakan buah itu setelah Hawa. Ilustrasi/ Ist
Kisah berikut dinukil dari karya Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas yang diterjemahkan oleh Abdul Halim berjudul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman”. (Baca juga: Menolak Sujud Kepada Adam, Malaikat Azazil Jadi Setan Terkutuk )

ADA yang bertanya: “Mengapa Allah membinasakan musuh-musuh para nabi, tetapi Dia membiarkan Iblis, musuh Adam, tetap hidup?”

Rasulullah saw bersabda, “Seandainya Allah menghendaki untuk tidak dimaksiati, tentu Dia tidak menciptakan Iblis". Alasan lain, Iblis dibiarkan hidup adalah untuk memberikan hukuman bagi orang-orang yang kafir dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sebab, Allah mencintai mereka apabila mereka menentang Iblis. Lagipula, Iblis telah meminta kepada Tuhannya agar diberi tempo hingga Hari Kebangkitan.

Setelah Adam turun dari mimbar, dia duduk di antara para malaikat. Kemudian Allah menjadikan dia tertidur karena di dalam tidur itu ada ketenangan bagi badan. Ketika tidur, dia melihat Hawa di dalam mimpinya, padahal Hawa belum diciptakan.

Dia tertarik kepadanya ketika melihatnya. Kemudian Allah keluarkan dari tulang rusuknya yang sebelah kiri. Dari tulang rusuk itu diciptakanlah Hawa sama seperti bentuk Adam. Allah menciptakan Hawa dengan seindah-indahnya dan memberikannya seribu keindahan bidadari. Maka, jadilah Hawa wanita tercantik di antara sekian wanita yang kemudian menjadi anak-anaknya hingga Hari Kiamat.

Dia memiliki 700 kepangan rambut. Tingginya sebanding dengan Adam. Dia diberikan pakaian dan perhiasan dari surga sehingga dia sangat bersinar lebih terang daripada matahari.

Karena mimpi itu, Adam terbangun dari tidurnya dan ternyata dia mendapatkan Hawa telah berada di sampingnya dan membuatnya takjub. Adam terasuki syahwat kepadanya. Maka, dikatakan kepada Adam, “Janganlah engkau lakukan (mengumpulinya) sampai engkau membayar maskawinnya.” Adam bertanya, “Maskawinnya apa?” Allah menjawab, “Aku melarangmu mendekati pohon hinthah (gandum). Engkau jangan memakan buahnya. Itulah maskawinnya.”

Menurut sebuah riwayat, Allah berfirman, “Berikanlah dahulu maskawinnya.” Adam bertanya, “Maskawinnya apa?” Allah berfirman, “Maskawinnya adalah selawat kepada nabi-Ku dan kekasih-Ku, yaitu Muhammad.” Adam bertanya, “Siapa gerangan Muhammad itu?” Allah berfirman, “Dia adalah salah satu dari anakmu. Dia adalah nabi terakhir. Seandainya tidak ada dia, tentu Aku tidak akan menciptakan makhluk.”

Selanjutnya, Allah mengusap punggung Adam. Dari Adam, Dia mengeluarkan keturunannya yang banyak sekali seperti debu. Ada yang putih, yang hitam; ada laki-laki dan ada juga wanita. Dia mengalirkan cahaya kepada mereka dari cahaya-Nya.

Barangsiapa menangkap cahaya itu, maka dia menjadi orang yang beriman (Mu’min); dan orang yang tidak mengambilnya, akan menjadi kafir. Di antara mereka ada orang-orang yang mendapatkan cahaya yang berkilau. Adam bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah mereka itu?” Allah menjawab, “Mereka adalah para nabi dari keturunanmu, wahai Adam.”

Kemudian Allah mengawinkan Adam dengan Hawa. Itu terjadi pada hari Jumat menjelang sore hari. Oleh karena itu, disunnahkan akad nikah dilaksanakan di hari Jumat.

Menurut sebuah riwayat, Adam itu lebih menawan daripada Hawa, tetapi Hawa lebih lembut. Kemudian Allah memerintahkan malaikat Ridwan, juru kunci surga, untuk mendekorasi gedung dan mendandani wildan (anak-anak yang ada di surga) dan para bidadari. Adam diberi kuda yang diciptakan dari minyak kesturi yang sangat harum baunya, yang diberi nama Maimun, yang larinya cepat bagaikan kilat yang menyambar.

Ketika kuda itu sudah ada di hadapan Adam, maka Adam menungganginya. Dan Hawa diberi unta dari surga yang di atasnya ada haudah dari permata. Hawa naik ke haudah yang ada di atas unta itu. Selanjutnya, Jibril as memegang kendali kuda. Mikail berjalan di sebelah kanannya dan Israfil di sebelah kirinya. Mereka membawanya jalan-jalan ke semua pelosok langit.

Setiap kali melewati malaikat, Adam memberikan salam kepada mereka. Para malaikat berkata, “Betapa mulianya makhluk Allah ini.” Hawa ikut bersamanya, tetapi dia menunggangi unta. Para malaikat membawa mereka berkeliling sampai akhirnya mereka datang ke pintu surga. Mereka berhenti sejenak di depan pintu surga.

Allah mewahyukan kepada Adam, “Inilah surga-Ku dan rumah kemuliaan-Ku, masuklah kalian berdua ke dalamnya, dan makanlah kalian berdua makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian berdua sukai, dan janganlah kalian berdua dekati pohon ini, yang menyebabkan kalian berdua termasuk orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah : 35).

Mereka berdua disaksikan oleh para malaikat; kemudian keduanya masuk ke dalam surga. Para malaikat membawa mereka berkeliling dan memperlihatkan tempat-tempat para nabi.

Tatkala mereka berdua sampai ke surga Firdaus, mereka berdua melihat ranjang dari permata yang mempunyai 700 kaki dari yakut merah dan di atasnya ada kasur dari sutera hijau.

Malaikat berkata, “Wahai Adam, tinggallah di sini bersama Hawa!” Maka, keduanya turun dan duduk di atas ranjang tersebut. Lalu mereka berdua disuguhi dua petikan anggur. Satu petikannya panjangnya sama dengan menempuh perjalanan sehari semalam.

Mereka berdua makan, minum, dan bermain-main di taman surga. Apabila Adam ingin bersenggama dengan Hawa, maka dia masuk ke dalam kubah yang terbuat dari permata dan zabarjud. Mereka berdua ditutupi oleh satir yang terbuat dari sutera. Dan apabila Hawa berjalan-jalan di dalam istana, maka di belakangnya diiringi oleh bidadari yang tidak terhitung jumlahnya.

Ibnu as-Sunni mengatakan, “Buah-buahan surga yang pertama kali dimakan oleh Adam adalah nabq (rupanya seperti teratai).” Ibnu Abbas ra mengatakan, “Yang pertama kali dimakan oleh Adam adalah anggur dan buah-buahan surga; yang terakhir dimakan olehnya adalah gandum.”
halaman ke-1
preload video