Siapa yang Berhak Memandikan Jenazah Perempuan?

loading...
Siapa yang Berhak Memandikan Jenazah Perempuan?
Pihak keluarga adalah yang paling pantas memandikan jenazah perempuan sesuai dengan urutannya dan nasabnya. Foto ilustrasi/ist
Baru-baru ini ada sebuah berita yang cukup viral, yakni ada jenazah perempuan di sebuah RSUD yang dimandikan oleh petugas pria. Hal ini memicu kemarahan keluarganya dan harus membawanya ke ranah hukum. Sebenarnya siapakah yang berhak memandikan jenazah seorang perempuan ini dalam pandangan syariat?

Dikutip dari kitab 'Fiqhus Sunnah 'Lin Nisaa', yang ditulis Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dijelaskan, bahwa apabila ada orang yang meninggal, maka keluarga yang menghadirinya wajib memandikannya. Ini berdasarkan perintah Nabi Shallalau alihi wa sallam kepada Ummu 'Athiyah dan beberapa wanita hendak memandikan putrinya, Zainab, "Mandikanlah dia tiga atau lima kali basuhan" Setelah itu, mereka mengafani, menyalati, dan menguburkannya. (HR Bukhari dan Muslim).

(Baca juga :Nasihat untuk Muslimah di Zaman Penuh Fitnah)

Menurut Mazhab Hanafi, mereka atau keluarga yang paling pantas memandikan jenazah perempuan sesuai dengan urutannya, yaitu pihak yang tertunjuk di wasiat, ibu almarhumah (hingga orang tua ke atas, seperti nenek dan seterusnya), anak perempuan almarhumah (berikut keturunannya), keluarga terdekat sebagaimana berlaku di hukum warisan, misalnya, saudara kandung lebih diutamakan daripada saudara tiri, keluarga sedarah seperti saudara tiri, dan terakhir ialah orang lain.



Namun, jika perempuan tersebut telah menikah, maka suaminyalah yang paling berhak memandikannya berdasar dalil :

رَجَعَ إِلَيَّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْم مِنْ جَنَازَةِ بِاْلبَقِيْع ، وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعا فِيْ رَأْسِيْ ، وَأَنَا أَقُوْلُ : وَارَأْسَاهُ فَقَالَ : بَل اَنَا وَارَأْسَاهُ مَا ضَرَّكِ لَوْمِتَّ قَبْلِيْ فَغَسَلْتُكِ ، وَكَفَّنْتُكِ ، ثمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha ia berkata,“Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke rumahku setelah mengantar jenazah ke pekuburan Baqi’. Saat itu aku merasa kepalaku sakit sekali sehingga aku berkata : ‘Oh, betapa sakitnya kepala ini !’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,‘Tidak masalah, karena seandainya engkau meninggal lebih dahulu dariku, maka aku sendiri yang akan memandikanmu, mengkafanimu, menyalatimu, dan mengkuburkanmu” [HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya)



(Baca juga :Penting Diketahui, Inilah Masa 'Iddah Bagi Perempuan Muslimah)
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
وَقَالُوۡا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِيۡلَا
Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).

(QS. Al-Ahzab:67)
cover bottom ayah
preload video