Shilah: Hanyut oleh Kekhusyuan Salat di Malam Pengantin
Sabtu, 26 September 2020 - 04:39 WIB
loading...
A
A
A
Lalu beliau bangkit dari sujudnya dan duduk, sementara singa itu masih terpaku di hadapannya, seakan memperhatikan gerak-geriknya. Usai salam, Ibnu Asyyam menoleh ke arah singa tersebut dengan tenang. Dari kedua bibirnya bergumam kata-kata yang tak dapat kudengar. Tiba-tiba saja singa itu berbalik, melangkah pelan menuju ke arah di mana ia datang.
Fajar mulai menyingsing, beliau tunaikan sekaligus salat fardhunya. Setelah itu mengucapkan syukur kepada Allah dengan puji-pujian yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Setelah itu beliau berdo’a, “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, selamatkanlah aku dari api neraka. Namun patutkan hamba yang penuh dosa seperti aku ini minta dimasukkan ke dalam surga?” kata-kata ini diulang-ulang hingga bercucuran air matanya. Aku yang melihatnya turut menangis karenanya.
Baca juga: Jangan Menyebut Resesi dari Definsi yang Simpel Saja
Setelah itu beliau kembali ke tengah pasukan tanpa diketahui seorangpun. Tampak di mata mereka seakan-akan dia baru tidur pulas di atas kasur. Aku turut kembali di belakangnya, membawa rasa kantuk karena begadang malam…tubuh lemas…ketakutan terhadap singa… hanya Allah yang tahu.
Mu’azhah Al-Adawiyah
Shilah bin Asyyam memiliki sepupu perempuan bernama Mu’azhah Al-Adawiyah . Beliau juga termasuk tabi’iyah seperti Shilah, karena sering bertemu dengan Aisyah dan menimba ilmu darinya. Dia juga bertemu Hasan Al-Bashri dan mendengarkan banyak hal darinya.
Baca juga: Dengerin! Kemenkeu Tegaskan Efek PSBB DKI ke Ekonomi Sangat Kecil
Mu’azhah adalah wanita bertakwa dan suci hatinya, tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika malam tiba berkata, “Boleh jadi malam ini adalah malam terakhir bagiku” lalu beliau tidak tidur sampai fajar.
Jika siang hari beliau berkata, “Barangkali hari ini adalah hari terakhir bagiku.” Kemudian beliau memanfaatkan hari itu untuk beramal shalih, sedangkan waktu malam yang sunyi digunakannya untuk melakukan salat dan taqarrub kepada Allah.
Bila rasa kantuk mendatanginya, beliau berusaha berdiri dan berjalan mondar-mandir di rumahnya seraya bersyair:
Di depanmu wahai jiwa, ada masa tidur yang panjang.
Kelak akan berbaring di kuburan
Mungkin dalam kesengsaraan atau dalam keberuntungan
Maka pilihlah hari ini wahai Mu’azhah,
Apa yang engkau pilih untuk esok.
Menikah
Dengan sifat zuhudnya terhadap dunia dan ketekunannya dalam beribadah, Shilah bin Asyyam tidak berarti meninggalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah. Beliau menikah dengan Mu’azhah Al-Adawiyah.
Baca juga: Pilkada Serentak, Bebas dari COVID-19 Calon Petahana Jalani Tes Kesehatan
Fajar mulai menyingsing, beliau tunaikan sekaligus salat fardhunya. Setelah itu mengucapkan syukur kepada Allah dengan puji-pujian yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Setelah itu beliau berdo’a, “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, selamatkanlah aku dari api neraka. Namun patutkan hamba yang penuh dosa seperti aku ini minta dimasukkan ke dalam surga?” kata-kata ini diulang-ulang hingga bercucuran air matanya. Aku yang melihatnya turut menangis karenanya.
Baca juga: Jangan Menyebut Resesi dari Definsi yang Simpel Saja
Setelah itu beliau kembali ke tengah pasukan tanpa diketahui seorangpun. Tampak di mata mereka seakan-akan dia baru tidur pulas di atas kasur. Aku turut kembali di belakangnya, membawa rasa kantuk karena begadang malam…tubuh lemas…ketakutan terhadap singa… hanya Allah yang tahu.
Mu’azhah Al-Adawiyah
Shilah bin Asyyam memiliki sepupu perempuan bernama Mu’azhah Al-Adawiyah . Beliau juga termasuk tabi’iyah seperti Shilah, karena sering bertemu dengan Aisyah dan menimba ilmu darinya. Dia juga bertemu Hasan Al-Bashri dan mendengarkan banyak hal darinya.
Baca juga: Dengerin! Kemenkeu Tegaskan Efek PSBB DKI ke Ekonomi Sangat Kecil
Mu’azhah adalah wanita bertakwa dan suci hatinya, tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika malam tiba berkata, “Boleh jadi malam ini adalah malam terakhir bagiku” lalu beliau tidak tidur sampai fajar.
Jika siang hari beliau berkata, “Barangkali hari ini adalah hari terakhir bagiku.” Kemudian beliau memanfaatkan hari itu untuk beramal shalih, sedangkan waktu malam yang sunyi digunakannya untuk melakukan salat dan taqarrub kepada Allah.
Bila rasa kantuk mendatanginya, beliau berusaha berdiri dan berjalan mondar-mandir di rumahnya seraya bersyair:
Di depanmu wahai jiwa, ada masa tidur yang panjang.
Kelak akan berbaring di kuburan
Mungkin dalam kesengsaraan atau dalam keberuntungan
Maka pilihlah hari ini wahai Mu’azhah,
Apa yang engkau pilih untuk esok.
Menikah
Dengan sifat zuhudnya terhadap dunia dan ketekunannya dalam beribadah, Shilah bin Asyyam tidak berarti meninggalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah. Beliau menikah dengan Mu’azhah Al-Adawiyah.
Baca juga: Pilkada Serentak, Bebas dari COVID-19 Calon Petahana Jalani Tes Kesehatan
Lihat Juga :