Menjadi Istri Penyayang Adalah Perintah Rasulullah
Jum'at, 25 September 2020 - 18:47 WIB
loading...
A
A
A
“Lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan yang penuh cinta dan sebaya umurnya.” (Qs. Al Waqi’ah: 36-37)
Secara bahasa, Al ‘Arub adalah istri yang mencintai suaminya), banyak hadits yang menegaskan keharusan memperhatikan adanya sifat ini pada diri seorang perempuan. Di antaranya adalah:
Pertama, Abu Dawud meriwayatkan, bahwasanya Ma’qil bin Yasar berkata, Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَزَوَّجُوا الوَدُوْدَ الوَلُوْدَ, فَإِنِّي مُكَاثِرُ بِكُمُ الأُمَمَ
“Menikahlah dengan perempuan yang penyayang dan subur, sebab aku membanggakan banyaknya jumlah kalian kepada seluruh umat.”
(Baca juga : Sri Mulyani: Saya Siap Hadapi Resesi Indonesia )
Kedua, Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نساء قريش خير نساء ركبن الإبل : أحناه على طفل في صغره ، وأرعاه على زوج في ذات يده
“Kaum perempuan Quraisy adalah sebaik-baik kaum perempuan yang mengendarai unta. Mereka paling menyayangi anak-anak selagi masih kecil, dan paling menjaga harta benda suami.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenyifati mereka sebagai perempuan yang penuh kasih sayang, mencintai dan bersikap lembut kepada anak-anak mereka, kemudian mereka memperhatikan kondisi suami, mengasihinya dan ikut mengurangi bebannya. Masing-masing perempuan dari mereka, menjaga harta suami, memeliharanya dengan amanah dan menjauhkan diri dari tindakan menghambur-hamburkannya. Jika suami sedang mengalami kesusahan, ia menjadi penolong dan sandaran baginya, bukan menjadi musuh dan pengacau.
Ketiga, Seorang perempuan yang penuh dengan kasih sayang bersikap patuh kepada suaminya, tidak menyelisihi suami terkait diri dan hartanya, dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai suami.
(Baca juga : PKS Minta APBN 2021 Fokus Pada Kesehatan dan Dampak Ekonomi-Sosial )
Iman an-Nasai dan Hakim meriwayatkan hadits yang dinyatakan hasan oleh al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallah ’anhu, ia bertanya, ”Siapakah perempuan yang paling baik?” Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
”Istri yang menyenangkah hati suami bila dipandang, yang menaati jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami terkait dirinya sendiri dan hartanya dengan melakukan tindakan yang tidak disukai suami.”
Keempat, Baihaqi meriwayatkan dari Abu Uzainah as-Shadafi bahwasanya nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
Secara bahasa, Al ‘Arub adalah istri yang mencintai suaminya), banyak hadits yang menegaskan keharusan memperhatikan adanya sifat ini pada diri seorang perempuan. Di antaranya adalah:
Pertama, Abu Dawud meriwayatkan, bahwasanya Ma’qil bin Yasar berkata, Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَزَوَّجُوا الوَدُوْدَ الوَلُوْدَ, فَإِنِّي مُكَاثِرُ بِكُمُ الأُمَمَ
“Menikahlah dengan perempuan yang penyayang dan subur, sebab aku membanggakan banyaknya jumlah kalian kepada seluruh umat.”
(Baca juga : Sri Mulyani: Saya Siap Hadapi Resesi Indonesia )
Kedua, Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نساء قريش خير نساء ركبن الإبل : أحناه على طفل في صغره ، وأرعاه على زوج في ذات يده
“Kaum perempuan Quraisy adalah sebaik-baik kaum perempuan yang mengendarai unta. Mereka paling menyayangi anak-anak selagi masih kecil, dan paling menjaga harta benda suami.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenyifati mereka sebagai perempuan yang penuh kasih sayang, mencintai dan bersikap lembut kepada anak-anak mereka, kemudian mereka memperhatikan kondisi suami, mengasihinya dan ikut mengurangi bebannya. Masing-masing perempuan dari mereka, menjaga harta suami, memeliharanya dengan amanah dan menjauhkan diri dari tindakan menghambur-hamburkannya. Jika suami sedang mengalami kesusahan, ia menjadi penolong dan sandaran baginya, bukan menjadi musuh dan pengacau.
Ketiga, Seorang perempuan yang penuh dengan kasih sayang bersikap patuh kepada suaminya, tidak menyelisihi suami terkait diri dan hartanya, dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai suami.
(Baca juga : PKS Minta APBN 2021 Fokus Pada Kesehatan dan Dampak Ekonomi-Sosial )
Iman an-Nasai dan Hakim meriwayatkan hadits yang dinyatakan hasan oleh al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallah ’anhu, ia bertanya, ”Siapakah perempuan yang paling baik?” Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
”Istri yang menyenangkah hati suami bila dipandang, yang menaati jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami terkait dirinya sendiri dan hartanya dengan melakukan tindakan yang tidak disukai suami.”
Keempat, Baihaqi meriwayatkan dari Abu Uzainah as-Shadafi bahwasanya nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
Lihat Juga :