Syukur: Kepada Siapa Harus Bersyukur dan Apa Manfaatnya?
Rabu, 07 Oktober 2020 - 06:44 WIB
loading...
Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
HAKIKAT syukur adalah "menampakkan nikmat," dan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: 11).
Nabi Muhammad SAW pun bersabda, "Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah,
وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (QS Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan.
Syukur orang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu, ketika setan menyatakan bahwa, "Demi kemuliaan-Mu, Aku akan menyesatkan mereka manusia) semuanya" (QS Shad [38]: 82), dilanjutkan dengan pernyataan pengecualian, yaitu, "kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]: 83).
Baca juga: Partai Ummat, Pertobatan Amien Rais di Masa Tua?
Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis menyatakan,
وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ
"Dan Engkau tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka {manusia) bersyukur."
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya " Wawasan Al-Qur'an " menjelaskan kalimat "tidak akan menemukan" di sini serupa maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti bahwa orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang mukhlish (tulus hatinya). (Baca juga: Jangan Kufur Nikmat agar Rumah Tangga Selamat )
Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: 11).
Nabi Muhammad SAW pun bersabda, "Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah,
وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (QS Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan.
Syukur orang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu, ketika setan menyatakan bahwa, "Demi kemuliaan-Mu, Aku akan menyesatkan mereka manusia) semuanya" (QS Shad [38]: 82), dilanjutkan dengan pernyataan pengecualian, yaitu, "kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]: 83).
Baca juga: Partai Ummat, Pertobatan Amien Rais di Masa Tua?
Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis menyatakan,
وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ
"Dan Engkau tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka {manusia) bersyukur."
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya " Wawasan Al-Qur'an " menjelaskan kalimat "tidak akan menemukan" di sini serupa maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti bahwa orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang mukhlish (tulus hatinya). (Baca juga: Jangan Kufur Nikmat agar Rumah Tangga Selamat )
Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:
Lihat Juga :