Tiga Orang yang Tidak Akan Dilihat Allah pada Hari Kiamat
Senin, 12 Oktober 2020 - 18:24 WIB
loading...
A
A
A
Kata para ulama, bersumpah dengan nama Allah di waktu ashar itu sangat berat di mata Allah Jalla wa ‘Ala. Oleh karena itulah pelaksanaan Li’an, saling melaknat suami dan istri ketika suami melihat istrinya berzina namun ia tidak memiliki saksi, maka kemudian saling melaknatlah, kata para ulama itu dilaksanakan di waktu ashar, masing-masing mereka bersumpa dengan nama Allah Ta'ala.
(Baca juga : Sejak Awal Pandemi, Stafsus Airlangga: Kami Berusaha Menyelamatkan Kehidupan Masyarakat )
Karena bersumpah di waktu ashar itu berat di mata Allah, maka ketika seseorang bersumpah dusta dan berkata “demi Allah” kemudian ia bertepatan dengan waktu ashar, maka itu di mata Allah sangat berat sekali.
Oleh karena itu Allah bersumpah dengan waktu ashar. Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾
“Demi waktu ashar.” (QS. Al-Asr : 1)
Yang ketiga, seorang laki-laki yang membai’at imam (pemimpin), ternyata dia membai’atnya hanya karena dunia saja. Jika ia diberi dunia oleh imam, dia akan mau menaati imam tersebut. Jika tidak diberikan dunia oleh imam, dia tidak mau menaati pemimpinnya. Maka orang ini di hari kiamat nanti tidak akan disucikan oleh Allah, tidak akan dilihat oleh Allah, bahkan akan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adzab yang pedih, Allah pun tidak mau mengajak bicara dia. Hal ini karena Allah murka kepadanya.
(Baca juga : Wakapolri: Anggota Polri Pelanggar Protokol Kesehatan Bakal Dicopot )
Karena sesungguhnya dalam Islam, kita menaati pemimpin baik kita susah maupun senang, baik dia memberi ataupun tidak, baik kita ridka ataupun tidak ridha, di dalam Islam kewajiban kita membai’at pemimpin dalam setiap keadaan. Anas bin Malik berkata:
بايعنا رسول الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على السمع والطاعة في العسر واليسر، وعلى أثرة علينا
“Kami sudah membai’at Rasulullah untuk senantiasa mendengar dan taat kepada pemimpin di saat kami susah maupun kami senang, demikian pula saat pemimpin lebih mementingkan dirinya daripada rakyatnya.”
Kesabaran kita di dunia hanyalah sementara. Karena sesungguhnya orang yang bersabar itu pasti Allah akan bantu dia.
(Baca juga : Sejak Awal Pandemi, Stafsus Airlangga: Kami Berusaha Menyelamatkan Kehidupan Masyarakat )
Karena bersumpah di waktu ashar itu berat di mata Allah, maka ketika seseorang bersumpah dusta dan berkata “demi Allah” kemudian ia bertepatan dengan waktu ashar, maka itu di mata Allah sangat berat sekali.
Oleh karena itu Allah bersumpah dengan waktu ashar. Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾
“Demi waktu ashar.” (QS. Al-Asr : 1)
Yang ketiga, seorang laki-laki yang membai’at imam (pemimpin), ternyata dia membai’atnya hanya karena dunia saja. Jika ia diberi dunia oleh imam, dia akan mau menaati imam tersebut. Jika tidak diberikan dunia oleh imam, dia tidak mau menaati pemimpinnya. Maka orang ini di hari kiamat nanti tidak akan disucikan oleh Allah, tidak akan dilihat oleh Allah, bahkan akan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adzab yang pedih, Allah pun tidak mau mengajak bicara dia. Hal ini karena Allah murka kepadanya.
(Baca juga : Wakapolri: Anggota Polri Pelanggar Protokol Kesehatan Bakal Dicopot )
Karena sesungguhnya dalam Islam, kita menaati pemimpin baik kita susah maupun senang, baik dia memberi ataupun tidak, baik kita ridka ataupun tidak ridha, di dalam Islam kewajiban kita membai’at pemimpin dalam setiap keadaan. Anas bin Malik berkata:
بايعنا رسول الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على السمع والطاعة في العسر واليسر، وعلى أثرة علينا
“Kami sudah membai’at Rasulullah untuk senantiasa mendengar dan taat kepada pemimpin di saat kami susah maupun kami senang, demikian pula saat pemimpin lebih mementingkan dirinya daripada rakyatnya.”
Kesabaran kita di dunia hanyalah sementara. Karena sesungguhnya orang yang bersabar itu pasti Allah akan bantu dia.