Balath Al-Syuhada: Misi Pembebasan Prancis
Kamis, 29 Oktober 2020 - 14:41 WIB
loading...
Ustaz Muhammad Syafiie el-Bantanie, Dai yang juga Founder Ekselensia Tahfizh School dan penulis 52 buku. Foto/Ist
A
A
A
Ustaz Muhammad Syafi'ie el-Bantanie
Penulis 52 Buku, Founder Ekselensia Tahfizh School
Balath Al-Syuhada atau Orang Eropa menyebutnya dengan Battle of Tours senantiasa menyimpan memori tentang semangat Futuhat Abdurrahman Al-Ghafiqi dan pasukan muslimin. Al-Ghafiqi dipilih dan diangkat menjadi Gubernur Andalusia ketiga belas pada 112 H/731 M. Namanya diabadikan dalam sejarah karena kepemimpinan dan jihadnya.
Al-Ghafiqi berhasil menyatukan kembali umat Islam di Andalusia yang mulai berpecah belah. Ia berhasil meredam dan menyelesaikan konflik antarsuku. Ia mengingatkan mereka kepada Islam dan Allah sebagai pemersatu. Bahwa mereka semua beragama Islam dan bertuhan hanya kepada Allah. Itu artinya mereka bersaudara. (Baca Juga: Dzulqarnain: Teladan Bagi Para Pemimpin )
Setelah menyatukan kembali muslimin, Al-Ghafiqi mulai merancang misi pembebasan Prancis yang dimulai dengan Prancis Selatan. Misi ini melanjutkan misi yang telah dirintis oleh Musa bin Nushair, Pembebas Andalusia bersama Thariq bin Ziyad. Musa bin Nushair telah sempat memasuki Prancis Selatan pada 94 H, namun kembali ke Andalusia dan kemudian Damaskus karena dipanggil Khalifah Al-Walid.
Misi Futuhat dilanjutkan oleh Al-Samah bin Malik, Gubernur Andalusia keempat (100 H/719 M). Al-Samah berhasil masuk sampai Kota Toulouse. Duke Eudo, penguasa Aquiaine, meminta bantuan kepada Charles Martel, Raja Prancis , untuk menghancurkan Al-Samah dan pasukannya. Pasukan Charles Martel dalam jumlah besar dan persenjataan lengkap berhasil memukul mundur pasukan muslimin . Al-Samah syahid dalam perang tersebut pada hari tarwiyah 102 H/721 M.
Misi Futuhat dilanjutkan Anbasah Al-Kalbi, Gubernur Andalusia keenam (103 H/722). Anbasah dan pasukan muslimin sudah mendekati Paris sejarak 30 Km. Namun, Anbasah dihadang oleh pasukan gabungan Eropa berjumlah 400 ribu pasukan. Anbasah syahid pada Sya'ban 107 H/725 M.
Tibalah masa Abdurrahman Al-Ghafiqi menyalakan kembali misi pembebasan Prancis. Al-Ghafiqi bersama 50 ribu pasukannya bergerak menuju Prancis Selatan. Ia berhasil mengamankan Kota Albi, Bordeaux, Toulouse, dan Tours. Dengan demikian, seluruh daratan Prancis Selatan telah berhasil dibebaskan. Al-Ghafiqi terus bergerak menuju Paris.
Merasa terdesak, Charles Martel meminta bantuan Paus di Roma untuk mengobarkan peperangan ke seluruh Eropa. Melalui surat, Paus menyeru kepada seluruh raja dan penguasa Eropa agar mengirimkan pasukan berikut persenjataan lengkap menuju Paris. Pasukan gabungan itu berjumlah 400 ribu dengan Charles Martel sebagai panglima perangnya.
Pergerakan pasukan gabungan Eropa didengar Al-Ghafiqi. Ia bersiap menyambut pasukan gabungan Eropa di dataran rendah bernama Chatellerault. Mendengar jumlah pasukan gabungan Eropa yang sangat besar sebanyak 400 ribu prajurit dengan persenjataan lengkap, sebagian pasukan muslimin sempat gentar. Mereka mengusulkan kepada Al-Ghafiqi agar mundur dan pulang ke Andalusia.
"Tugas kita tak lain hanyalah membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah, menyelamatkan mereka dari gelapnya kekufuran dan kezaliman menuju cahaya kebenaran dan keselamatan, membebaskan mereka dari perbudakan menuju kemerdekaan," tegas Al-Ghafiqi dengan semangat berkobar-kobar.(Baca Juga: Pembebasan Al-Quds, Shalahuddin Al-Ayyubi Menyiapkan Pasukannya Lebih Dari 20 Tahun )
Penulis 52 Buku, Founder Ekselensia Tahfizh School
Balath Al-Syuhada atau Orang Eropa menyebutnya dengan Battle of Tours senantiasa menyimpan memori tentang semangat Futuhat Abdurrahman Al-Ghafiqi dan pasukan muslimin. Al-Ghafiqi dipilih dan diangkat menjadi Gubernur Andalusia ketiga belas pada 112 H/731 M. Namanya diabadikan dalam sejarah karena kepemimpinan dan jihadnya.
Al-Ghafiqi berhasil menyatukan kembali umat Islam di Andalusia yang mulai berpecah belah. Ia berhasil meredam dan menyelesaikan konflik antarsuku. Ia mengingatkan mereka kepada Islam dan Allah sebagai pemersatu. Bahwa mereka semua beragama Islam dan bertuhan hanya kepada Allah. Itu artinya mereka bersaudara. (Baca Juga: Dzulqarnain: Teladan Bagi Para Pemimpin )
Setelah menyatukan kembali muslimin, Al-Ghafiqi mulai merancang misi pembebasan Prancis yang dimulai dengan Prancis Selatan. Misi ini melanjutkan misi yang telah dirintis oleh Musa bin Nushair, Pembebas Andalusia bersama Thariq bin Ziyad. Musa bin Nushair telah sempat memasuki Prancis Selatan pada 94 H, namun kembali ke Andalusia dan kemudian Damaskus karena dipanggil Khalifah Al-Walid.
Misi Futuhat dilanjutkan oleh Al-Samah bin Malik, Gubernur Andalusia keempat (100 H/719 M). Al-Samah berhasil masuk sampai Kota Toulouse. Duke Eudo, penguasa Aquiaine, meminta bantuan kepada Charles Martel, Raja Prancis , untuk menghancurkan Al-Samah dan pasukannya. Pasukan Charles Martel dalam jumlah besar dan persenjataan lengkap berhasil memukul mundur pasukan muslimin . Al-Samah syahid dalam perang tersebut pada hari tarwiyah 102 H/721 M.
Misi Futuhat dilanjutkan Anbasah Al-Kalbi, Gubernur Andalusia keenam (103 H/722). Anbasah dan pasukan muslimin sudah mendekati Paris sejarak 30 Km. Namun, Anbasah dihadang oleh pasukan gabungan Eropa berjumlah 400 ribu pasukan. Anbasah syahid pada Sya'ban 107 H/725 M.
Tibalah masa Abdurrahman Al-Ghafiqi menyalakan kembali misi pembebasan Prancis. Al-Ghafiqi bersama 50 ribu pasukannya bergerak menuju Prancis Selatan. Ia berhasil mengamankan Kota Albi, Bordeaux, Toulouse, dan Tours. Dengan demikian, seluruh daratan Prancis Selatan telah berhasil dibebaskan. Al-Ghafiqi terus bergerak menuju Paris.
Merasa terdesak, Charles Martel meminta bantuan Paus di Roma untuk mengobarkan peperangan ke seluruh Eropa. Melalui surat, Paus menyeru kepada seluruh raja dan penguasa Eropa agar mengirimkan pasukan berikut persenjataan lengkap menuju Paris. Pasukan gabungan itu berjumlah 400 ribu dengan Charles Martel sebagai panglima perangnya.
Pergerakan pasukan gabungan Eropa didengar Al-Ghafiqi. Ia bersiap menyambut pasukan gabungan Eropa di dataran rendah bernama Chatellerault. Mendengar jumlah pasukan gabungan Eropa yang sangat besar sebanyak 400 ribu prajurit dengan persenjataan lengkap, sebagian pasukan muslimin sempat gentar. Mereka mengusulkan kepada Al-Ghafiqi agar mundur dan pulang ke Andalusia.
"Tugas kita tak lain hanyalah membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah, menyelamatkan mereka dari gelapnya kekufuran dan kezaliman menuju cahaya kebenaran dan keselamatan, membebaskan mereka dari perbudakan menuju kemerdekaan," tegas Al-Ghafiqi dengan semangat berkobar-kobar.(Baca Juga: Pembebasan Al-Quds, Shalahuddin Al-Ayyubi Menyiapkan Pasukannya Lebih Dari 20 Tahun )
Lihat Juga :