Ummu Habibah,Perempuan Mukminah yang Setia kepada Diennya
Senin, 02 November 2020 - 08:08 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Menjadi Bidadari di Dunia )
Allah berkehendak untuk membulatkan tekadnya, maka dia melihat dalam mimpinya ada yang menyeru: “Wahai Ummul Mukminin!”. Terperanjat dan bangun karena mimpi tersebut. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah kelak akan menikahinya.
Selesai masa ‘iddah, tiba-tiba seorang sahaya dari Najasyi memberitahunya bahwa telah datang berita gembira. Dirinya dipinang oleh sebaik-sebaik manusia pilihan Allah. Alangkah bahagianya hingga beliau berkata: “Semoga Allah memberikan kabar gembira untukmu”. Lalu ia tanggalkan anting dan gelang kaki untuk diberikan kepada sahaya tersebut, saking senangnya. Umm Habibah meminta Khalid bin Sa’ad bin al-‘Ash menjadi wali dirinya untuk menerima lamaran Najasyi mewakili Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada suatu sore, Raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yang berada di Habasyah, maka datanglah mereka dengan dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib, putra paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya Raja berkata:
“Segala puji bagi Allah Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Kemanan, Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam .
(Baca juga : Habib Rizieq: Jangan Pernah Diam kalau Nabi Kita Dihina )
Amma Ba’du. Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengirim surat padaku yang isinya melamar Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Ummu Habibah telah menerima lamaran Rasulullah, adapun maharnya adalah 400 dirham“. Kemudian beliau letakkan uang tersebut didepan kaum muslimin.
Kemudian Khalid bin Sa’id berkata:”Segala puji bagi Allah, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang Allah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dein yang haq untuk memenangkan dien-Nya walaupun orang-orang musyrik benci.
Amma ba’du, aku terima lamaran Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan aku nikahkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan, semoga Allah memberkahi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya Najasyi menyerahkan mahar tersebut kepada Khalid bin Sa’id kemudian beliau terima. Najasyi mengajak para sahabat untuk mangadakan walimah dengan mengatakan: “Kami persilahkan anda untuk duduk karena sesungguhnya sunnah para Nabi apabila menikah hendaklah makan-makan untuk merayakan pernikahan”.
(Baca juga : Digitalisasi Sektor Konstruksi Mampu Hasilkan Efisiensi )
Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dari Habasyah, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dengan sebab apa aku harus bergembira, karena kemenangan Khaibar atau karena datangnya Ja’far?”
Allah berkehendak untuk membulatkan tekadnya, maka dia melihat dalam mimpinya ada yang menyeru: “Wahai Ummul Mukminin!”. Terperanjat dan bangun karena mimpi tersebut. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah kelak akan menikahinya.
Selesai masa ‘iddah, tiba-tiba seorang sahaya dari Najasyi memberitahunya bahwa telah datang berita gembira. Dirinya dipinang oleh sebaik-sebaik manusia pilihan Allah. Alangkah bahagianya hingga beliau berkata: “Semoga Allah memberikan kabar gembira untukmu”. Lalu ia tanggalkan anting dan gelang kaki untuk diberikan kepada sahaya tersebut, saking senangnya. Umm Habibah meminta Khalid bin Sa’ad bin al-‘Ash menjadi wali dirinya untuk menerima lamaran Najasyi mewakili Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada suatu sore, Raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yang berada di Habasyah, maka datanglah mereka dengan dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib, putra paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya Raja berkata:
“Segala puji bagi Allah Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Kemanan, Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam .
(Baca juga : Habib Rizieq: Jangan Pernah Diam kalau Nabi Kita Dihina )
Amma Ba’du. Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengirim surat padaku yang isinya melamar Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Ummu Habibah telah menerima lamaran Rasulullah, adapun maharnya adalah 400 dirham“. Kemudian beliau letakkan uang tersebut didepan kaum muslimin.
Kemudian Khalid bin Sa’id berkata:”Segala puji bagi Allah, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang Allah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dein yang haq untuk memenangkan dien-Nya walaupun orang-orang musyrik benci.
Amma ba’du, aku terima lamaran Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan aku nikahkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan, semoga Allah memberkahi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya Najasyi menyerahkan mahar tersebut kepada Khalid bin Sa’id kemudian beliau terima. Najasyi mengajak para sahabat untuk mangadakan walimah dengan mengatakan: “Kami persilahkan anda untuk duduk karena sesungguhnya sunnah para Nabi apabila menikah hendaklah makan-makan untuk merayakan pernikahan”.
(Baca juga : Digitalisasi Sektor Konstruksi Mampu Hasilkan Efisiensi )
Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dari Habasyah, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dengan sebab apa aku harus bergembira, karena kemenangan Khaibar atau karena datangnya Ja’far?”
Lihat Juga :