Tiga Kunjungan ke Guru Bahauddin Naqsyabandi
Rabu, 04 November 2020 - 09:43 WIB
loading...
A
A
A
"Ini lebih baik," ujar beberapa pengunjung, "karena ia dengan jelas belajar dari protes kita."
"Ini luar biasa," ujar yang lain, "karena waktu lalu, jelas ia menguji kita."
"Ini terlalu muram,' sambung yang lain, 'karena kita akan menjumpai wajah-wajah demikian di mana-mana."
Kemudian muncul berbagai opini, suara dan sebagainya. (Baca juga: Guru dan Muridnya: Perumpamaan Tuan Rumah dan Tamu )
Sang guru, ketika waktu untuk refleksi telah usai, mengusir pengunjung-pengunjung ini.
Lama sesudahnya, sekelompok kecil kembali dan mencari penjelasan atas apa yang telah mereka alami.
Mereka mendatangi pintu gerbang, dan memandang ke halaman.
Sang guru duduk di sana, sendirian, tidak bergembira maupun meditasi. Murid-muridnya tidak terlihat lagi.
"Pada akhirnya kalian boleh mendengar keseluruhan cerita," katanya, "Karena aku sudah dapat membubarkan orang-orangku, sejak tugasku selesai."
"Ketika pertama kalian datang, kelasku sangat serius --aku sedang menerapkan perbaikan. Kedua kali kalian datang, mereka terlalu gembira-- aku sedang memperbaikinya." (Baca juga: Kisah Hidup Abadi Nazhar bin Yusuf Si Tukang Kayu )
"Pada saat bekerja, seseorang tidak selalu menjelaskan dirinya kepada pengunjung biasa, betapapun menariknya pengunjung tersebut, seperti yang ia kira. Ketika suatu kegiatan tengah berlangsung, yang diperhitungkan adalah kegiatan itu berjalan dengan benar. Di bawah keadaan ini, evaluasi eksternal menjadi perhatian kedua." (Baca juga: Setangkai Bunga di Pintu Rumah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani)
"Ini luar biasa," ujar yang lain, "karena waktu lalu, jelas ia menguji kita."
"Ini terlalu muram,' sambung yang lain, 'karena kita akan menjumpai wajah-wajah demikian di mana-mana."
Kemudian muncul berbagai opini, suara dan sebagainya. (Baca juga: Guru dan Muridnya: Perumpamaan Tuan Rumah dan Tamu )
Sang guru, ketika waktu untuk refleksi telah usai, mengusir pengunjung-pengunjung ini.
Lama sesudahnya, sekelompok kecil kembali dan mencari penjelasan atas apa yang telah mereka alami.
Mereka mendatangi pintu gerbang, dan memandang ke halaman.
Sang guru duduk di sana, sendirian, tidak bergembira maupun meditasi. Murid-muridnya tidak terlihat lagi.
"Pada akhirnya kalian boleh mendengar keseluruhan cerita," katanya, "Karena aku sudah dapat membubarkan orang-orangku, sejak tugasku selesai."
"Ketika pertama kalian datang, kelasku sangat serius --aku sedang menerapkan perbaikan. Kedua kali kalian datang, mereka terlalu gembira-- aku sedang memperbaikinya." (Baca juga: Kisah Hidup Abadi Nazhar bin Yusuf Si Tukang Kayu )
"Pada saat bekerja, seseorang tidak selalu menjelaskan dirinya kepada pengunjung biasa, betapapun menariknya pengunjung tersebut, seperti yang ia kira. Ketika suatu kegiatan tengah berlangsung, yang diperhitungkan adalah kegiatan itu berjalan dengan benar. Di bawah keadaan ini, evaluasi eksternal menjadi perhatian kedua." (Baca juga: Setangkai Bunga di Pintu Rumah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani)
(mhy)
Lihat Juga :