Materi Pelajaran Tradisional Qadiriyah (4)

Setangkai Bunga di Pintu Rumah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

loading...
Setangkai Bunga di Pintu Rumah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Hadrat Syaikh Abdul Qadir/Foto/Ilustrasi/Ist
'JALAN' ini diadakan oleh para pengikut Syaikh Abdul Qadir dari Gilan, yang lahir di Nif, distrik Gilan, sebelah selatan Laut Kaspia. Dia meninggal dunia tahun 1166, dan menggunakan terminologi sangat sederhana yang kemudian hari digunakan oleh orang-orang Rosicrucia di Eropa. (Baca juga: Teguran Syaikh Abdul Qadir al-Jilani: Dib-Dib yang Mengerikan)

Idries Shah dalam bukunya berjudul The Way of the Sufi dan diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha menjadi "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat" menyebutkan ringkasan berikut, termasuk materi pelajaran tradisional dari disiplin Qadiriyah dan juga beberapa pokok ucapan atau teguran Abdul Qadir sendiri. (Baca juga: Syaikh Abdul Qadir al Jilani tentang Derajat (Kebesaran) dan Serigala)


TANAMAN


Pada pintu masuk rumah Abdul Qadir Gilani (al-Jilani) suatu hari terlihat setangkai bunga di dalam sebuah pot. Di bawahnya ada sebuah catatan: "Cium ini dan tebak apakah ini".

Masing-masing orang yang masuk telah diberi alat tulis dan telah diminta untuk menulis jawabannya, jika dia mau, untuk teka-teki kata tersebut. (Baca juga: Baca juga: Bunga Mawar dari Baghdad dan Anggur)



Di akhir hari itu, Abdul Qadir membawa sebuah kotak berisi jawaban kepada seorang muridnya. Dia berkata:

"Setiap orang yang telah menjawab 'sekuntum mawar' boleh tinggal jika dia menginginkan untuk meneruskan pelajaran. Seseorang yang tidak menulis apa-apa, atau sesuatu yang lain dari 'sekuntum mawar', dipecat."

Seseorang bertanya, "Apakah tak dapat dihindarkan menggunakan cara-cara dangkal itu untuk memutuskan kecocokan bagi hal-hal bersangkutan dengan murid?"



Guru agung menjawab, "Aku tahu jawaban jawaban kalian, tetapi saya ingin memperlihatkan kepada semua yang lain, bahwa pernyataan-pernyataan yang dangkal, mengisyaratkan sifat-sifat batin." Dan dia segera setelah itu membawa kepada kelompoknya suatu daftar nama-nama dari masing-masing orang yang telah menulis 'sekuntum mawar'. (Baca juga: Instruksi dan Tradisi Chisytiyah: Misteri Kaum Sufi?)
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
وَاِذَا تُتۡلٰى عَلَيۡهِ اٰيٰتُنَا وَلّٰى مُسۡتَكۡبِرًا كَاَنۡ لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا كَاَنَّ فِىۡۤ اُذُنَيۡهِ وَقۡرًا‌ۚ فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ اَلِيۡمٍ
Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih.

(QS. Luqman:7)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video