Penyerangan Delta Furat dan Tigris Tanpa Izin Khalifah Umar bin Khattab

Kamis, 05 November 2020 - 13:02 WIB
loading...
Penyerangan Delta Furat...
Ilustrasi/Ist
A A A
DALAM pembebasan Ubullah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ada sebuah sumber yang didukung oleh Ibn Asir, yang secara ringkas menyebutkan, bahwa pada masa itu al-Ala' bin al-Hadrami bermaksud menyerang Delta Furat dan Tigris . Pada masa Khalifah Abu Bakar hal yang sama juga pernah direncanakan oleh Musanna bin Harisah tetapi tidak dilakukan.

Sedangkan al-Ala' bin al-Hadrami dan pasukannya juga tidak menyusuri pantai Teluk Persia untuk ke sana tetapi menyerang mereka di atas kapal dari Bahrain ke Persia, dengan menyeberangi Teluk itu.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul " Umar bin Khattab " memaparkan ketika turun di Istakhr mereka dihadang oieh pasukan Persia, yang kemudian bersatu membendung mereka, dan berusaha menjauhkan mereka dari kapal. (Baca juga: Ketika Khalifah Umar bin Khattab Memimpin Perang dari Jarak Jauh )

Sebenarnya Umar tidak mengizinkan al-Ala' bertindak demikian, sebab ia khawatir akan terjadi pertempuran di laut. Tetapi setelah mengetahui bahwa al-Ala', — dengan segala keberanian dan kenekatan pasukannya dapat melumpuhkan pasukan Persia di beberapa tempat — kini ia sedang dalam keadaan terjebak, maka ia mengirim Utbah bin Gazwan ke sana dengan sebuah pasukan besar untuk memberikan pertolongan sebelum ia dan pasukannya binasa.

Utbah berangkat dengan 12.000 anggota pasukan menyusuri pantai, dan setiap bertemu dengan pasukan Persia terjadi kontak senjata hingga akhirnya mereka sampai ke tempat al-Ala'. Mereka bersama-sama membebaskan Ubullah dan Ahwaz. (Baca juga: Lagi, 100.000 Pasukan Persia Tewas di Jalula, Sisanya Terdesak Lari ke Iran )

Sesudah itu ia meminta izin kepada Umar akan menunaikan ibadah haji. Umar mengizinkan. Selesai menunaikan ibadah haji oleh Umar ia dibebaskan dari tugasnya tetapi ia menolak. Selanjutnya Umar mengembalikan ke tugasnya.

Sesampainya di Batn Nakhlah dalam perjalanannya ke Irak ia menemui ajalnya dan dikuburkan di tempat itu juga.

Sesudah keadaan pasukan Muslimin mulai tenang di Irak, tiba saatnya bagi Khalifah Umar memikirkan untuk menyusun organisasi mereka sendiri.

Adakah perkiraan kita, bahwa mereka dibiarkan cukup dengan mengajarkan agama kepada penduduk yang sudah menerima Islam, dan menerima jizyah dari yang bukan Muslim? Itulah yang sudah dilakukan Rasulullah tatkala kabilah-kabilah dan kota-kota di Semenanjung Arab menyatakan sudah menjadi keluarga Muslim. (Baca juga: Raja Persia Melarikan Diri, Sa'ad bin Abi Waqqash Duduki Istana )

la mengirim orang-orang yang ditugaskan mengajarkan agama kepada mereka, dan ada yang bertugas memungut zakat.

Rasulullah tidak pernah memerangi kabilah-kabilah dan tidak pula membebaskan kota-kota yang sudah masuk ke dalam lingkungan Islam — kecuali Makkah dan Ta'if.

Sungguhpun begitu, kaum murtad di seluruh Semenanjung Arab telah mengambil kesempatan pertama dengan menyatakan pembangkangan tak lama setelah Rasulullah wafat, dan yang kemudian menyebar luas seperti api di tengah-tengah jerami kering setelah Abu Bakar dibaiat, padahal Semenanjung itu berpenduduk Arab, dan kekuasaan Madinah tidak pula membebani mereka dan hati mereka pun tidak membencinya seperti kebencian mereka yang bukan Arab.

Seperti sudah kita lihat, mengingat pembangkangan orang-orang Arab yang berakibat pecahnya perang di sana sini, maka wajar sekali jika Umar merasa khawatir orang-orang Persia penduduk Irak, yang kebanyakan belum lagi masuk Islam, akan membangkang, bahkan membangkangnya orang-orang Arab Irak sendiri, baik yang sudah masuk Islam atau yang masih dalam kepercayaan lama. (Baca juga: Kemenangan Muslim, Berakhirnya Kekaisaran Kisra dan Rampasan Perang yang Tak Ternilai )

Mereka semua sudah biasa dengan segala kenikmatan dan kesenangan hidup di bawah kekuasaan Hirah dan Mada'in, juga sudah biasa dengan berbagai kehidupan serba mewah, yang dalam banyak hal tidak sesuai dengan cara-cara kehidupan Arab di Semenanjung, dan dengan ajaran agama yang diwahyukan Allah kepada Nabi berbangsa Arab itu.

Kalau Arab Semenanjung itu dibiarkan dalam keadaan mereka sendiri, mereka lebih cenderung memberontak. Umar mempunyai pandangan yang lebih jauh dan lebih berhati-hati untuk membiarkan kekacauan yang mulai terlihat gejalanya di negeri-negeri yang sudah dibebaskan itu, yang masih bertetangga dengan Semenanjung Arab.

Percikan-percikan kekacauan demikian adakalanya akan meluas. Bagi Amirulmukminin, semua itu sudah cukup untuk memperkirakan segala akibatnya.

Bukan itu saja yang menimbulkan kekhawatiran Umar. Kalau dia merasa aman dari pembangkangan penduduk Irak jika dibiarkan begitu, dan membiarkan kaum Muslimin memberi pelajaran agama kepada mereka yang sudah masuk Islam, dia harus juga membuat perhitungan sungguh-sungguh terhadap pasukan Persia yang sudah dipukul mundur oleh pasukannya ke balik pegunungan mereka sendiri. (Baca juga: Kemenangan Muslim, Berakhirnya Kekaisaran Kisra dan Rampasan Perang yang Tak Ternilai )

Umar sudah pernah berangan-angan sekiranya ada sebuah gunung penyekat dari api sehingga ia tak dapat mencapai mereka dan mereka pun tak dapat mencapainya. Tetapi gunung demikian tidak ada. Jadi tidak heran jika pasukan Persia yang dipukul mundur sampai dataran Iran itu berpikir ingin kembali ke Irak untuk membalas dendam dan merebut kembali apa yang lepas dari tangan mereka, seperti yang pernah mereka lakukan setelah Khalid bin Walid menguasai Hirah dan Anbar kemudian ditinggalkan pergi ke Syam untuk membantu pasukan Muslimin di sana.

Usaha balas dendam pihak Persia itu lebih cenderung akan berhasil kalau kekuatan pasukan Muslimin ditarik dari Irak. Sebaliknya, kalau ia tetap di sana dan kedudukannya diperkuat, pihak Persia akan lebih dulu berpikir seribu kali sebelum melakukan tindakannya untuk membalas dendam.

Kalaupun mereka berani bertindak, angkatan bersenjata Amirulmukminin sudah cukup kuat dan siap menghadapi mereka, menumpas atau memukul mundur mereka ke balik pegunungan Persia. Bahkan sudah siap maju sampai ke dataran mereka serta menguasai negeri mereka, seperti yang sudah dilakukannya terhadap Irak dan menghabiskan kekuasaan dan pengaruh mereka di sana.

Dua pertimbangan ini tidak lepas dari perhitungan Umar. Bahkan barangkali bukan itu yang menjadi pusat pemikirannya selama ini, mengingat keduanya adalah hal yang wajar, dan karena ketika Umar berencana meneruskan perang di Irak tidak bermaksud hendak mengusir orang-orang Persia dari sana dan sesudah itu membiarkan mereka begitu saja. (Baca juga: Mukzijat Musa di Sungai Tigris untuk Pasukan Muslim, Kaisar Persia Lari Terbirit-birit )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Doa Umar bin Khattab...
Doa Umar bin Khattab agar Bisa Meninggal di Tanah Suci
Kisah Runtuhnya Kekaisaran...
Kisah Runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah: Transformasi Jati Diri Bangsa Persia di Bawah Islam
Asal-usul Nama Iran:...
Asal-usul Nama Iran: Mengapa Identitas Persia Ditinggalkan?
Raja Yazdigird Terasing...
Raja Yazdigird Terasing : Runtuhnya Kekuasaan Persia di Tangan Khalifah Utsman bin Affan
Jejak Hormuz dan Khalid...
Jejak Hormuz dan Khalid bin Walid: Dari Duel Maut hingga Gerbang Penaklukan Persia
Kisah Khalifah Umar...
Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang Ingin Mati Syahid dan Doa-doanya
Rekomendasi
Racun di Danau Laguna...
Racun di Danau Laguna Verde Diklaim seperti Air di Mars
Isi Bulan Terungkap,...
Isi Bulan Terungkap, Ternyata Ini yang Membuat Tak Bisa Bercahaya
Objek Misterius Menerangi...
Objek Misterius Menerangi Langit Malam di Jepang Bagian Barat
Artikel Terkini
Hadis-Hadis tentang...
Hadis-Hadis tentang Hari Asyura, dari Amalan hingga Keutamaannya
Kenapa Hari Asyura Dijuluki...
Kenapa Hari Asyura Dijuluki Lebaran Anak Yatim? Begini Sejarahnya di Indonesia
Mengapa Hari Asyura...
Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa? Ini Keutamaan, Peristiwa Besar, dan Fadhilah Puasanya
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah Muharram, Harian, Tasua dan Asyura
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved