Aa Gym: Seandainya Semua Kaya, Apa yang Akan Terjadi?
Minggu, 15 November 2020 - 19:45 WIB
loading...
Founder Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym (kanan) menyampaikan ceramah bersama Ustaz Adi Hidayat beberapa waktu lalu. Foto/Ist
A
A
A
Dai yang juga Founder Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyampaikan nasihat yang menggugah hati. Beliau berpesan agar tidak silau dengan kekayaan karena dapat menipu seseorang.
"Saudaraku kita misalkan warga Bandung berjumlah kurang lebih tujuh juta jiwa. Sore ini, seluruhnya diajak berkumpul di Gasibu. Bersama-sama berdoa kepada Allah supaya setiap orang di Bandung diberi Rp100 miliar. Lalu, doa ini dikabulkan oleh Allah, dan uangnya datang setelah Subuh . Kira-kira apa yang akan terjadi?" kata Aa Gym dalam tausiyah yang bersumber dari bukunya "Ikhtiar Meraih Ridha Allah Jilid 2".
Berapa banyak saudara kita yang bisa meninggal? Seperti jantungan karena melihat uang Rp10 juta saja jarang. Belum lagi hewan-hewan ternak yang terpaksa tidur di halaman, disebabkan kandangnya diisi uang oleh sang tuan yang rumahnya tidak muat. (Baca Juga: 4 Golongan Manusia yang Tertipu dengan Ilmu )
Bagi yang mau berangkat ke sekolah sudah bergaya. Yang biasanya berpamitan kepada "emak", sudah memanggil "Mami i am going to school." Bisa saja, sebab sebelumnya dia dan emak suka berebut sinetron favorit. "Ini buat jajan," kata mami memberi segepok uang. "No, mam!" si anak menolak sambil menunjukkan tas sekolahnya yang penuh uang.
Sampai di tepi jalan raya, dilihatnya angkot sudah diparkir menumpuk. Kata para supirnya, "Kalau mau ke sekolah pilih saja angkotnya dan bawa sendiri, kami sedang sibuk pesan mobil balap." Begitu dengan tukang becak yang bergembira menginjak-injak becaknya. "Masa lalu," kata mereka. Lalu dihampiri tukang ojek. "Dik, pakai motor saya saja, tapi ambil di pinggir sawah sana dan bersihkan sendiri. Nggak usah dibalikin, saya sudah pesan motor cross terbaru."
Siapa lagi yang mau jadi tukang ojek, becak, dan angkot kalau sudah punya Rp100 miliar? Sehingga berangkatlah ke sekolah dengan berjalan kaki, dan makin capek karena juga membawa tas penuh uang. Waktu itu mungkin aman saja di jalanan, sebab para perampok juga sudah kaya.
"Singkat cerita sampailah anak itu di sekolah. Kemudian langsung menuju warung. "Bi, jualan apa hari ini?" Si bibi mendadak sewot, "Mana bibi? Panggil saya tante. Tidak ada apa-apa hari ini, kalau mau makan tunggu sebulan lagi. Tante lagi nyiapin restoran," kata Aa Gym .
Para guru juga datang hanya untuk berpamitan. "Anak-anak, bapak dan ibu guru berharap mulai sekarang kalian bisa belajar mandiri. Kami telah mengajukan pensiun dini, karena akan membuat sekolah sendiri-sendiri."
Anak itu dengan rasa lelah dan lapar lalu berjalan pulang. Karena tenaganya sudah benar-benar terkuras, akhirnya duduk di atas trotoar sebelum tanjakan. Tiba-tiba ayah menelpon, "Kamu di mana? Tolong bantu, ayah kehabisan bensin. Pom bensin tutup, tidak ada lagi yang mau jaga. Padahal mamimu minta ayah ke luar kota untuk membeli sayur. Di Bandung sudah tidak ada yang mau jadi tukang sayur."
Bagaimana kira-kira kesimpulannya? Seandainya semua kaya, maka Bandung akan benar-benar kacau. Gubernur pun jadi menyapu dan mengepel lantai kantornya sendiri. Karena jangankan tukang sapu, sangat mungkin semua PNS di sana juga sudah memecat dirinya sendiri.
"Saudaraku kita misalkan warga Bandung berjumlah kurang lebih tujuh juta jiwa. Sore ini, seluruhnya diajak berkumpul di Gasibu. Bersama-sama berdoa kepada Allah supaya setiap orang di Bandung diberi Rp100 miliar. Lalu, doa ini dikabulkan oleh Allah, dan uangnya datang setelah Subuh . Kira-kira apa yang akan terjadi?" kata Aa Gym dalam tausiyah yang bersumber dari bukunya "Ikhtiar Meraih Ridha Allah Jilid 2".
Berapa banyak saudara kita yang bisa meninggal? Seperti jantungan karena melihat uang Rp10 juta saja jarang. Belum lagi hewan-hewan ternak yang terpaksa tidur di halaman, disebabkan kandangnya diisi uang oleh sang tuan yang rumahnya tidak muat. (Baca Juga: 4 Golongan Manusia yang Tertipu dengan Ilmu )
Bagi yang mau berangkat ke sekolah sudah bergaya. Yang biasanya berpamitan kepada "emak", sudah memanggil "Mami i am going to school." Bisa saja, sebab sebelumnya dia dan emak suka berebut sinetron favorit. "Ini buat jajan," kata mami memberi segepok uang. "No, mam!" si anak menolak sambil menunjukkan tas sekolahnya yang penuh uang.
Sampai di tepi jalan raya, dilihatnya angkot sudah diparkir menumpuk. Kata para supirnya, "Kalau mau ke sekolah pilih saja angkotnya dan bawa sendiri, kami sedang sibuk pesan mobil balap." Begitu dengan tukang becak yang bergembira menginjak-injak becaknya. "Masa lalu," kata mereka. Lalu dihampiri tukang ojek. "Dik, pakai motor saya saja, tapi ambil di pinggir sawah sana dan bersihkan sendiri. Nggak usah dibalikin, saya sudah pesan motor cross terbaru."
Siapa lagi yang mau jadi tukang ojek, becak, dan angkot kalau sudah punya Rp100 miliar? Sehingga berangkatlah ke sekolah dengan berjalan kaki, dan makin capek karena juga membawa tas penuh uang. Waktu itu mungkin aman saja di jalanan, sebab para perampok juga sudah kaya.
"Singkat cerita sampailah anak itu di sekolah. Kemudian langsung menuju warung. "Bi, jualan apa hari ini?" Si bibi mendadak sewot, "Mana bibi? Panggil saya tante. Tidak ada apa-apa hari ini, kalau mau makan tunggu sebulan lagi. Tante lagi nyiapin restoran," kata Aa Gym .
Para guru juga datang hanya untuk berpamitan. "Anak-anak, bapak dan ibu guru berharap mulai sekarang kalian bisa belajar mandiri. Kami telah mengajukan pensiun dini, karena akan membuat sekolah sendiri-sendiri."
Anak itu dengan rasa lelah dan lapar lalu berjalan pulang. Karena tenaganya sudah benar-benar terkuras, akhirnya duduk di atas trotoar sebelum tanjakan. Tiba-tiba ayah menelpon, "Kamu di mana? Tolong bantu, ayah kehabisan bensin. Pom bensin tutup, tidak ada lagi yang mau jaga. Padahal mamimu minta ayah ke luar kota untuk membeli sayur. Di Bandung sudah tidak ada yang mau jadi tukang sayur."
Bagaimana kira-kira kesimpulannya? Seandainya semua kaya, maka Bandung akan benar-benar kacau. Gubernur pun jadi menyapu dan mengepel lantai kantornya sendiri. Karena jangankan tukang sapu, sangat mungkin semua PNS di sana juga sudah memecat dirinya sendiri.
Lihat Juga :