Nuzulul Qur'an, Haedar: Kita Tidak Berdebat Soal Kapan Persisnya
Selasa, 12 Mei 2020 - 03:57 WIB
loading...
Ulama dan pemikir terkemuka dari abad ke-11 M, Abu Hamid al-Ghazali, menggambarkan Al-Quran sebagai lautan ilmu sekaligus hikmah yang luas. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum PP Muhammadiyah , Prof Haedar Nashir , mengingatkan pentingnya mengingat momen Nuzulul Quran untuk menambah rasa cinta dan kedekatan kita kepada Al-Quran sebagai mukjizat terbesar yang diturunkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW).
“Kita tidak berdebat soal kapan persisnya, tetapi bahwa al-Quran al-karim itu diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw pada bulan Ramadan di mana wahyu pertama itu QS. Al-‘Alaq," ujar Haedar dalam Kajian Daring Ramadhan yang membahas tentang urgensi peristiwa Nuzulul Qur’an pada Ahad (10/5). (Baca juga: Soal Turunnya Al-Qur'an, Malam Lailatul Qodar Apa 17 Ramadhan? )
Haedar mengatkan bertahun-tahun kita memperingati peristiwa ini, sekarang bagaimana mengurai makna yang mendalam tentang hal ini, dan bagaimana kita bumikan al-Quran ini dalam kehidupan sehari-hari. (Baca juga: KH Ma'ruf Amin: Nuzulul Qur'an dan Perjuangan Melawan Covid-19 )
Dalam QS Al-Baqarah ayat 185, Haedar menuturkan bahwa al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam, di dalamnya terkandung hidayah bagi Muslim dalam menjalani kehidupan ini agar selamat dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bahkan redaksi yang termaktub dalam ayat tersebut tidak terbatas untuk umat Islam tetapi juga seluruh spesies manusia.
“QS al-Baqarah ayat 2 menyebutkan ‘menjadi petunjuk bagi manusia’, yang artinya al-Quran itu merupakan wahyu yang universal, bersifat umum, yang akan menjadi guidance kehidupan umat manusia. Kenapa manusia memerlukan petunjuk? Karena manusia itu sudah diberikan fitrah di dalam dirinya yakni fitrah beragama dan bertuhan,” kata Haedar mengikuti pendapat Ibnu Katsir yang menegaskan bahwa manusia memiliki fitrah bertuhan. (Baca juga: Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran, Menurut Quraish Shihab )
“Artinya siapapun manusia di dunia ini, hatta mereka yang mengaku ateis secara formal, di dalam dirinya ada jiwa bertuhan. Kita tak pernah membayangkan seorang ateis di kala hidupnya gundah, ada banyak pertarungan yang kemudian akal tak bisa menjangkaunya, lalu ada banyak peristiwa besar dalam kehidupannya, di situlah sesungguhnya dia akan mencari sesuatu yang metafisik,” ujarnya.
Bagi Haedar, Albert Einstein dan Stephen Hawking merupakan dua manusia jenius yang masih mengakui bahwa di balik luasnya alam semesta, ada sesuatu Yang Maha Kuasa. Meski demikian, kata Haedar, kalau ditinjau dalam perspektif Islam, keduanya belum dapat masuk kategori sebagai orang mukmin.
“Intinya bahwa manusia diberi ilham untuk beragama, tetapi karena satu lain hal, dan juga lingkungan, fitrah beragama itu menjadi kecil, bahkan dinegasikan. Orang-orang kafir itu juga termasuk orang yang mengingkari fitrah beragama yang diberikan Tuhan. Di saat itulah Allah menurunkan fitrah al-munazzalah berupa kitab suci,” terang Haedar.
Al-Quran sebagai fitrah merupakan pembimbing untuk menyempurnakan fitrah ketuhanan yang ada dalam diri manusia. Ulama dan pemikir terkemuka dari abad ke-11 M, Abu Hamid al-Ghazali, menggambarkan Al-Quran sebagai lautan ilmu sekaligus hikmah yang luas.
Kondisi Darurat
Terpisah, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Tengah Jumari, mengatakan perjalanan kehidupan sejak Al- Qur’an diturunkan di bumi sampai dengan saat ini sudah diwarnai dengan berbagai peristiwa yang beragam dengan segala dinamikanya.
“Kita tidak berdebat soal kapan persisnya, tetapi bahwa al-Quran al-karim itu diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw pada bulan Ramadan di mana wahyu pertama itu QS. Al-‘Alaq," ujar Haedar dalam Kajian Daring Ramadhan yang membahas tentang urgensi peristiwa Nuzulul Qur’an pada Ahad (10/5). (Baca juga: Soal Turunnya Al-Qur'an, Malam Lailatul Qodar Apa 17 Ramadhan? )
Haedar mengatkan bertahun-tahun kita memperingati peristiwa ini, sekarang bagaimana mengurai makna yang mendalam tentang hal ini, dan bagaimana kita bumikan al-Quran ini dalam kehidupan sehari-hari. (Baca juga: KH Ma'ruf Amin: Nuzulul Qur'an dan Perjuangan Melawan Covid-19 )
Dalam QS Al-Baqarah ayat 185, Haedar menuturkan bahwa al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam, di dalamnya terkandung hidayah bagi Muslim dalam menjalani kehidupan ini agar selamat dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bahkan redaksi yang termaktub dalam ayat tersebut tidak terbatas untuk umat Islam tetapi juga seluruh spesies manusia.
“QS al-Baqarah ayat 2 menyebutkan ‘menjadi petunjuk bagi manusia’, yang artinya al-Quran itu merupakan wahyu yang universal, bersifat umum, yang akan menjadi guidance kehidupan umat manusia. Kenapa manusia memerlukan petunjuk? Karena manusia itu sudah diberikan fitrah di dalam dirinya yakni fitrah beragama dan bertuhan,” kata Haedar mengikuti pendapat Ibnu Katsir yang menegaskan bahwa manusia memiliki fitrah bertuhan. (Baca juga: Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran, Menurut Quraish Shihab )
“Artinya siapapun manusia di dunia ini, hatta mereka yang mengaku ateis secara formal, di dalam dirinya ada jiwa bertuhan. Kita tak pernah membayangkan seorang ateis di kala hidupnya gundah, ada banyak pertarungan yang kemudian akal tak bisa menjangkaunya, lalu ada banyak peristiwa besar dalam kehidupannya, di situlah sesungguhnya dia akan mencari sesuatu yang metafisik,” ujarnya.
Bagi Haedar, Albert Einstein dan Stephen Hawking merupakan dua manusia jenius yang masih mengakui bahwa di balik luasnya alam semesta, ada sesuatu Yang Maha Kuasa. Meski demikian, kata Haedar, kalau ditinjau dalam perspektif Islam, keduanya belum dapat masuk kategori sebagai orang mukmin.
“Intinya bahwa manusia diberi ilham untuk beragama, tetapi karena satu lain hal, dan juga lingkungan, fitrah beragama itu menjadi kecil, bahkan dinegasikan. Orang-orang kafir itu juga termasuk orang yang mengingkari fitrah beragama yang diberikan Tuhan. Di saat itulah Allah menurunkan fitrah al-munazzalah berupa kitab suci,” terang Haedar.
Al-Quran sebagai fitrah merupakan pembimbing untuk menyempurnakan fitrah ketuhanan yang ada dalam diri manusia. Ulama dan pemikir terkemuka dari abad ke-11 M, Abu Hamid al-Ghazali, menggambarkan Al-Quran sebagai lautan ilmu sekaligus hikmah yang luas.
Kondisi Darurat
Terpisah, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Tengah Jumari, mengatakan perjalanan kehidupan sejak Al- Qur’an diturunkan di bumi sampai dengan saat ini sudah diwarnai dengan berbagai peristiwa yang beragam dengan segala dinamikanya.
Lihat Juga :