Kisah Seorang Yahudi dan Jubah Tambalan Milik Nabi
Jum'at, 04 Desember 2020 - 13:48 WIB
loading...
A
A
A
Sahabat Umar r.a. berkata kepadanya:
"Kami tidak menangis karena sesuatu yang telah Anda lakukan. Tetapi Anda harus mendengar, orang yang malang, bahwa hal ini terjadi tidak lebih dari seminggu sejak Rasul wafat. Ketika kami mendengar namanya, duka cita menguasai hati kami kembali."
Segera setelah mendengar hal ini, orang tua tersebut menyobek pakaiannya dalam kesedihan yang dalam. Ketika sudah sedikit agak pulih, dia berkata:
"Lakukan satu kebaikan hati untukku. Biarkan aku memiliki setidaknya sebuah jubah milik Nabi. Kalau aku tidak dapat bertemu dengan beliau, setidaknya biarkan aku memiliki jubah beliau."
Umar r.a. menjawab, "Hanya Ummi Zahrah yang dapat memberi kita salah satu dari jubah beliau."
Baca juga: Kisah Sufi: Adakah Nilai Dalam Memuja Orang Suci?
Ali r.a. berkata:
"Tetapi dia tidak akan mengizinkan seseorang datang mendekatinya." Tetapi mereka pergi ke rumah Ummi Zahrah dan mengetuk pintunya, serta menjelaskan apa yang mereka inginkan.
Ummi Zahrah menjawab:
"Sesungguhnya Rasulullah saw telah berkata dengan jujur, ketika beliau mengatakan tidak lama sebelum beliau wafat, Seorang pelancong yang cinta kepadaku dan seorang yang baik akan datang ke rumah ini. Dia tidak akan melihatku. Oleh karena itu berilah dia jubah tambalan ini seolah-olah dariku. Dan demi aku, perlakukan dia dengan bijak, dan berikanlah salam kepadanya."
Orang Yahudi tersebut mengenakan jubah untuknya sendiri dan dia akhirnya memeluk Islam. Kemudian dia meminta diantar ke makam Rasulullah SAW. Akan tetapi, sesampainya di makam, dia berdoa kepada Allah, dan setelah itu dia menghembuskan nafas terakhirnya. Wallahu a'lam bishawab. (Aththar: Ilahi-Nama).
"Kami tidak menangis karena sesuatu yang telah Anda lakukan. Tetapi Anda harus mendengar, orang yang malang, bahwa hal ini terjadi tidak lebih dari seminggu sejak Rasul wafat. Ketika kami mendengar namanya, duka cita menguasai hati kami kembali."
Segera setelah mendengar hal ini, orang tua tersebut menyobek pakaiannya dalam kesedihan yang dalam. Ketika sudah sedikit agak pulih, dia berkata:
"Lakukan satu kebaikan hati untukku. Biarkan aku memiliki setidaknya sebuah jubah milik Nabi. Kalau aku tidak dapat bertemu dengan beliau, setidaknya biarkan aku memiliki jubah beliau."
Umar r.a. menjawab, "Hanya Ummi Zahrah yang dapat memberi kita salah satu dari jubah beliau."
Baca juga: Kisah Sufi: Adakah Nilai Dalam Memuja Orang Suci?
Ali r.a. berkata:
"Tetapi dia tidak akan mengizinkan seseorang datang mendekatinya." Tetapi mereka pergi ke rumah Ummi Zahrah dan mengetuk pintunya, serta menjelaskan apa yang mereka inginkan.
Ummi Zahrah menjawab:
"Sesungguhnya Rasulullah saw telah berkata dengan jujur, ketika beliau mengatakan tidak lama sebelum beliau wafat, Seorang pelancong yang cinta kepadaku dan seorang yang baik akan datang ke rumah ini. Dia tidak akan melihatku. Oleh karena itu berilah dia jubah tambalan ini seolah-olah dariku. Dan demi aku, perlakukan dia dengan bijak, dan berikanlah salam kepadanya."
Orang Yahudi tersebut mengenakan jubah untuknya sendiri dan dia akhirnya memeluk Islam. Kemudian dia meminta diantar ke makam Rasulullah SAW. Akan tetapi, sesampainya di makam, dia berdoa kepada Allah, dan setelah itu dia menghembuskan nafas terakhirnya. Wallahu a'lam bishawab. (Aththar: Ilahi-Nama).
(mhy)
Lihat Juga :